
Apa yang terjadi kepada Silviana jelas membuat Askar diam di tempat, tidak ada angin atau pun hujan, tapi perubahan sikap bagi gadis ini jauh lebih membingungkan, dari pada harus mencari cara untuk makan empat orang dengan uang sepuluh ribu.
Dia sendiri ingat apa yang terjadi tiap kali dirinya mencoba menyentuh satu helai rambut dari Silviana, tanpa pernah ragu sedikitpun tangan putih lembut itu bisa membuatnya terlempar puluhan meter.
Tapi sekarang, kulit putih halus tanpa cacat itu menyentuh Askar, Askar jelas berdebar-debar dimana bisa saja dia kena masalah karena merasakan sentuhan dari gadis cantik yang mampu membuat jagat raya iri.
"Hei nona apa kau sedang sakit ?." Itu anggapan dari Askar mengenai sikap silviana sekarang.
"Aku tidak sakit." Silviana menjawab sembari membenamkan wajahnya kedalam pelukan Askar.
"Kalau begitu apa nona kesurupan." Entah dari mana isi pikiran Askar.
"Kenapa kau menganggap aku sedang kesurupan, apa otakmu ada di lutut, atau sudah keluar saat kau buang hajat." Secara kasar Silviana membalas perkataan Askar dengan kesal.
"Itu terdengar lebih baik." Balas Askar yang merasa lega.
Cara Silviana bicara tidak berubah, sehingga anggapan Askar jika dia salah makan atau pun kesurupan bukan alasan kenapa sikap silviana sedang aneh.
"Biarkan aku tetap seperti ini dulu." Gumam Silviana kepada Askar.
"Aku tidak keberatan, tapi aku tidak bisa memastikan jika 'kawanku' bisa mengendalikan diri." Jawab Askar yang memang tidak nyaman untuk berada dalam posisi menyentuh wanita cantik ini.
Kulit putih lembut, sesuatu yang menonjol walau tidak besar, tapi bayang-bayang akan sentuhan penuh kebahagiaan itu membuat Askar hanya bisa pasrah.
"Askar, apa yang kau pikirkan tentangku." Ucap Silviana dengan suara lembut.
"Seorang putri dari alam semesta kerajaan suci dan penerus kekuatan keajaiban hidup milik dewa sunawa." Jawab Askar seperti apa yang dia ketahui.
"Kenapa kau tidak mengatakan jika aku ini seorang wanita cantik." Terdengar suara menggerutu dari Silviana.
"Sejak awal Anda memang sudah cantik nona, tidak perlu aku ungkapkan, jagat raya pun tahu tentang hal itu." Balas Askar semakin dibuat bingung.
"Paling tidak aku ingin kau mengatakan itu secara langsung."
__ADS_1
Dia adalah seorang wanita yang memiliki penampilan luar biasa, fisiknya tidak akan termakan usia karena kekuatan keajaiban hidup menghentikan pertumbuhannya.
Meski begitu, Silviana bisa saja memperlihatkan diri sebagai wanita dewasa atau anak kecil bagaimana dia menginginkan itu.
"Tidak biasanya kau menginginkan aku mengomentari tentang penampilan anda nona." Askar jelas tidak tahu isi pikiran gadis ini.
"Katakan saja, jangan banyak bicara."
"Baiklah, baiklah, anda sangat cantik nona, luar biasa cantik hingga aku yakin setiap bunga akan malu karena kehadiran anda." Ucap Askar yang ragu-ragu untuk bicara.
"Itu terdengar seperti kau terpaksa mengatakannya, dan kenapa kau menunjukkan wajah tegang." Silviana tidak menyukai ucapan Askar.
"Terakhir aku mengomentari penampilan anda, aku terbang tiga puluh meter karena sebuah pukulan, aku lebih waspada." Dan Itu pernah terjadi.
Silviana tahu untuk kejadian itu adalah salah Askar, dimana dia sendiri tidak siap menerima pujian, hingga rasa malu dia tutupi dengan melampiaskannya dengan pukulan.
Meskipun Askar mengatakan dengan wajah tegang, detak jantung Silviana jelas berdebar- debar dengan kencang, berusaha keras untuk tidak pergi karena malu.
Silviana segera saja melepaskan pelukannya, benda itu membuat gadis ini terkejut, walau berulang kali dia melihat Askar dari dalam dunia imajinasi, tapi belum pernah sekali pun menyentuhnya.
"Apa yang kau pikirkan, tidak bisakah kau menahan diri untuk situasi seperti ini." Teriak Silviana keras.
"Hei nona, jangan salahkan aku, karena anda sendiri yang membuatnya terbangun." Askar membela diri karena tindakan Silviana yang jelas-jelas membuat hasratnya bangkit.
"Jangan salahkan aku."
"Kenapa tidak, karena anda itu wanita, dan aku lelaki secara langsung, status kejantananku akan dipertanggungjawabkan jika tidak tertarik dengan anda." Askar jelas merasa kesal karena Silviana tidak bisa mengerti.
Silviana terlihat kesal sekaligus malu, karena tepat dihadapannya seorang lelaki yang dia kenal sangat dekat, mengatakan hal tersebut, sesuatu yang dia ingin dengar bahwa menganggap dirinya sebagai wanita.
Dan tiba-tiba, tanpa tahu harus menggambarkan seperti apa ekspresi untuk ditunjukkan kepada Askar Silviana berlari pergi dengan cepat meninggalkan lelaki itu sendirian.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu." Gumam Askar sembari menutupi apa yang dia miliki diantara pahanya.
__ADS_1
*******
Silviana berlari cepat seperti dia sedang melihat hantu, walau pun itu sedikit tidak mungkin, karena kekuatan keajaiban hidup mampu membinasakan mereka.
Ras Setan sendiri tentu memiliki pikiran untuk tidak mencari masalah dengan Silviana, sedangkan alasan dari gadis itu hanya karena seorang lelaki.
Dia tidak pernah merasakan kegelisahan hari kepada siapa pun, termasuk para lelaki yang dulu mencoba menjadikan dirinya sebagai istri mereka.
Tapi Askar berbeda, dia harus berusaha keras untuk sekedar bicara, detak jantung berdebar penuh kejutan saat mendengar suaranya, terlebih lagi perasaan malu saat tahu jika Askar menganggap dirinya sebagai seorang wanita.
Antara kesal, senang dan juga malu, semua itu berputar-putar di atas kepada gadis polos yang baru pertama kali dalam hidupnya, merasa sensasi aneh seperti sekarang dia alami.
Untuk saat ini, Silviana mencari tempat bersembunyi, bahkan jika ada sebuah lubang dia pun akan masuk kedalamnya.
Di dalam kamar saat kucing belang-belang oren putih sibuk merapikan bulunya, Omen terkejut saat mendengar pintu terbuka dengan keras dan satu sosok wanita berjalan cepat.
"Nona apa yang terjadi." Bertanya Omen merasa bingung.
"Bukan apa-apa." Tapi jelas Silviana menyembuhkan sesuatu.
Wajah merah merona, kaki yang berjalan menghentak, kaku dan gemetar, satu tarikan selimut membawa dirinya terbenam di atas ranjang.
Omen sudah bisa memastikan bahwa gadis ini sedang mengalami penyakit mental, yaitu jatuh cinta, dan tergambar jika dia tidak bisa mengekspresikannya dengan benar.
"Sungguh wanita yang baru pertama kali jatuh cinta sangat mudah untuk ditebak." Gumam Omen sembari tersenyum menggoda.
Hendak Omen kembali merapikan bilu, kepala Silviana pun muncul, dia mengarahkan pandangan dengan tatapan sayu penuh keraguan, mulai bicara kepada Omen.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa." Ucap Silviana perlahan.
"Itu tidak salah nona, aku pun tidak menyalahkan anda, anda baru pertama kali merasakan keinginan untuk bersama dengan seorang lelaki, sedangkan tidak ada pengalaman menghadapi hal ini." Omen mencoba memberi nasihat.
Memang ini terdengar bodoh, saat ada yang melihat jika seekor kucing berbicara tentang masalah cinta kepada seorang manusia, tapi begitulah yang terjadi kepada Silviana dan juga Omen.
__ADS_1