PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
kau adalah aku


__ADS_3

Dengan sebilah pedang bercahaya perak terang yang menjadi senjata andalan Askar, benda apa pun akan terpotong hanya perlu satu ayunan.


Tidak perduli jika makhluk satu ini memiliki kulit yang lebih keras dari pada batu adamantium hitam, selama itu masih berwujud nyata, pedang dewa pemangsa kematian akan mudah saja memotongnya.


Saat sayatan pedang memberi luka di lambung monster satu ini, getaran kuat menujukan jika dia kesakitan.


Askar tidak berhenti, tanpa belas kasih, pedang dewa pemangsa kematian terus menerus menyayat daging berulang kali.


Sedangkan dari luar, sosok monster berwujud seperti ikan lele, berkumis dan mulut lebar, hanya saja makhluk satu ini berenang dengan bantuan dua pasang kaki di bagian depan serta belakang.


Bahkan jika digambarkan dia lebih mirip seperti kadal berkumis dari pada ikan lele berkaki.


Rasa sakit luar biasa dari dalam tubuh, membuat dirinya hilang kendali, melesat cepat dan membenturkan kepala ke dinding kolam.


Sampai sekarang tentu sang monster kadal berkumis tidak pernah mengalami masalah perut, dimana segala sesuatu yang dia makan akan cepat melebur dan menjadi nutrisi.


"Kau sudah salah memilih aku sebagai makanan, rasakan sendiri rasa sembelit yang aku buat." Teriakan Askar terdengar hingga keluar.


Mahluk kadal berkumis semakin keras membenturkan diri ke dinding, perlakuan Askar menjadikan dirinya tersiksa.


Hingga sebuah cahaya lurus menembus tubuh, satu putaran penuh membelah dua tubuh kadal berkumis dan membebaskan Askar.


Tapi sayang, Setelah terbebas dari dalam perut monster ikan yang mendiami wilayah air di tingkat ke lima, Askar tidak lepas dari masalah begitu saja.


Ternyata monster itu sudah berada di sekitar pusaran menuju bawah, dan tanpa persiapan sama sekali, Askar harus ikut terhisap masuk.


Askar hanya bisa berharap jika di tingkat ke lima tidak ada masalah berarti, karena dia belum memantau kondisi disana.


Lubang besar sarang Phoenix, tingkat ke enam.


Keluar dari sebuah lubang yang membentuk air terjun dan jatuh bebas kedalam sebuah kolam.

__ADS_1


Dengan bantuan seni beladiri pernafasan gelombang pertama, bola udara di tubuh Askar mampu menahan air dari zat pelebur, jika tidak, tentu akan memberi luka yang membuat kulitnya seperti terbakar.


Askar segera menepi di pinggiran kolam, dan berguling-guling tidak jelas, diiringi wajah kesakitan, dan kepulan asap yang keluar dari pakaian.


Beberapa cipratan air menghancurkan pakaiannya, dan itu menembus hingga kulit dengan rasa sakit sampai ke tulang.


Biar pun tubuh Askar tahan bacok, tahan api, tahan panas, tahan karat, tahan bocor, tahan lama, dan tahan hingga dua puluh lima jam diatas ranjang.


Cukup berbeda dengan air pelebur satu ini, karena rasa sakit yang Askar terima, seakan melenyapkan semua pertahanan tubuh dan tidak mau hilang.


"Si*al, air ini jauh lebih kuat dari pada air keras sekali pun." Ucap Askar dengan kesal karena rasa panas di kulit hingga membuat tubuhnya melepuh.


Tangan kanannya mengeluarkan cahaya kuning keemasan, dengan bantuan keajaiban hidup regenerasi tanpa batas, Askar alirkan efek penyembuhan yang akhirnya mampu mengurangi rasa panas.


Berbaring dengan lemas, Askar pun merasa jauh lebih baik, semua luka kembali di regenerasi seakan tidak terjadi apa-apa.


"Baiklah, ini bukan waktunya aku untuk bersantai." Berdiri Askar demi melanjutkan perjalanan.


Askar kini memasuki tingkat enam dan tersisa satu tingkatan lagi untuk dirinya memasuki lokasi yang dia tuju.


Sebuah tempat yang sedemikian luas dengan cahaya dari pantulan kristal energi tertanam di dinding tebing dan tidak tampak monster besar berbahaya datang menyerang dirinya.


Ini membuat Askar tertarik, siapa sangka di dalam tanah yang sudah terkubur ribuan tahun memiliki sebuah tempat yang cukup indah untuk dia lihat.


"Sayang sekali aku tidak bisa mengajak Asy atau pun Sina untuk melihat pemandangan ini." Gumam Askar sendiri.


Tapi bagi Askar ini tidak benar, di setiap tingkatan selalu saja dia menemui macam-macam jebakan, dari mulai sarang burung purba, zona gravitasi, penjara ruang kekosongan, kolam air pelebur dipenuhi Monster dan sekarang taman bunga.


Askar tidak yakin jika semua akan berjalan lancar tanpa ada lagi pengganggu untuk dia hadapi dan untuk memastikannya, Askar jelas menggunakan cara biasa.


"Re lepaskan zona persepsi dalam jangkauan luas dan tingkatkan sensitivitasnya, amati segala hal yang ada di tempat ini." Perintah Askar.

__ADS_1


"Jawab : Baik tuan."


Segala hal tentang wilayah tingkat ke lima tergambar jelas dalam pikiran Askar, dimana segala macam informasi pun dikatakan oleh Re.


"Bagaimana Re."


"Tidak ada tanda bahaya apa pun dalam Radius 100 kilometer, semua hanya bunga tanpa informasi dan para Lampyridae atau kunang-kunang."


"Baiklah, sepertinya tidak ada masalah apa pun di tempat ini."


Askar sekarang bisa bernafas lega untuk sekedar santai sejenak dan berjalan-jalan mengelilingi taman bunga selagi mencari jalan yang membawanya ke sarang Phoenix.


Terbang cukup lama, Askar tidak menemukan apa pun selain ladang bunga yang menyebar luas di segala arah.


"Apa yang Davendra katakan, jika lubang ini memiliki delapan tingkat untuk memasuki sarang Phoenix, lantas kemana aku harus pergi." Gumam Askar yang tidak menemukan pintu atau lubang sebagai jalan.


"Tapi darimana dia tahu semua tentang lubang ini, kalau dia tidak pernah masuk kedalamnya ?." Secara tiba-tiba Askar memikirkan tentang Davendra.


Askar cukup sadar, bahwa segala hal yang terjadi dalam hidupnya, selalu berhubungan dengan Davendra, kemungkinan besar tempat ini pun sudah direncanakan oleh dia.


Sepintas sebuah bayangan muncul dari kejauhan, Askar tidak menangkap apa pun didalam zona persepsi, dan itu membuat Askar waspada.


Mereka-mereka yang lepas dari jangkauan zona persepsi memiliki dua alasan, jauh lebih kuat dari Askar, hingga bisa melenyapkan kehadirannya, atau bukan makhluk hidup.


Dan di tempat ini sudah Askar pastikan tidak ada makhluk apa pun, dan tidak mungkin zona persepsi melakukan kesalahan saat memindai wilayah.


Secara tiba-tiba, sebilah pedang besar dari kejauhan melesat lurus kepadanya, sudah jelas ada yang aneh di temui oleh Askar.


Satu serangan luar biasa yang mampu mendorong mundur tubuh Askar ketika menangkis pedangnya, tidak main-main kekuatan dari dua pedang yang saling bertemu menghasilkan ledakan energi besar.


"Siapa kau ini." Ucap Askar sendiri saat melihat sosok samar yang berjalan semakin dekat.

__ADS_1


Tapi ini membuat Askar sadar, bahwa sosok itu bukanlah orang lain, dan cahaya penerang di sekitar tebing pun menujukan wujudnya.


"Bicara apa kau ini, aku adalah kau, dan kau adalah aku, kita berdua sama-sama Askar." Ucapnya begitu santai, seakan tidak menjadi hal aneh untuk dia temui.


__ADS_2