
Di tempat lain, kediaman guru besar Tisumi.
Duduk sendiri sosok gadis cantik yang memang memiliki paras keindahan untuk di perebutkan banyak orang, rambut hitam panjang, hidung mancung, alis yang melengkung lembut, dan tatapan mata polos.
Tapi dibalik wajah syahdu penuh kepolosan itu, tersimpan banyak hal tentang siasat untuk menyingkirkan seseorang.
Memang... Sebuah penampilan bisa menipu, sedangkan hati adalah gambaran watak yang sebenarnya, karena dari sudut mana pun, dia seperti gadis remaja cantik, bisa meluluhkan hati hanya dengan satu lirikan mata.
Resya de hores, sedang menanti kabar baik jika saat ibunya kembali, maka Askar mendapat pelajaran yang pantas dia dapat.
"Ibu memang tidak akan bisa membunuh Askar, aku tahu jika ibu pun tertarik kepadanya, tapi ini bisa menjadi pelajaran karena sudah salah mencari lawan bermain." Gumamnya Resya sendiri dengan wajah tersenyum lepas.
Saat satu kehadiran yang dia tunggu kedatangannya telah kembali, Resya mengubah raut wajah untuk berpura-pura sedih.
Dan nyatanya sosok Tisumi kini melangkah masuk kedalam rumah, dan dia pun berjalan mendekati pintu kamar salah satu putrinya.
Tanpa perlu menunggu, Resya membuka pintu, dilihatnya wajah Tisumi dengan mata sedih penuh kepura-puraan.
"Resya, ibu sudah memberi Askar pelajaran, jadi jangan khawatir." Ucap Tisumi dengan membelai rambut anak perempuannya itu.
"Benarkah itu ibu."
"Tentu saja, ibu tidak ingin kamu dipermainkan oleh lelaki."
"Jadi bagiamana dengan Askar sekarang."
"Ya... Ibu sudah katakan, untuk tidak lagi bermain-main dengan perasaanmu." Berkata Tisumi dengan lembut kepada Resya.
"Eh... Hanya itu."
"Dan ibu pun meminta dia bersikap serius untuk memikirkan kapan untuk kalian akan menikah."
"Tunggu, kenapa menikah, harusnya ibu...." Resya mencoba menolak.
"Resya, ibu tahu apa yang ibu lakukan, kau pun pasti ingin mendapat kepastian terhadap perasaan Askar, dan dengan menikah kau tidak perlu khawatir lagi." Itu yang Tisumi jelaskan dan memotong Resya tanpa mau menunggu dia berbicara.
Hanya saja itu bukan satu hal yang diharapkan oleh Resya, sedangkan ibunya sudah berinisiatif untuk memutuskan tentang sebuah pernikahan.
Takdir Resya telah diputuskan, jika dia menolak hal ini maka ibunya akan tahu bahwa semua hanya kebohongan, dan itu akan menjadi masalah.
Tapi Resya sedikit menyadari jika anak perempuannya ini menujukan raut wajah tidak senang, padahal untuk hubungan dengan Askar sudah ibunya usahakan.
"Kenapa Resya apa kau tidak menyukai Askar."
__ADS_1
"Tidak.... Tidak ibu, aku sangat menyukai Askar, bahkan aku ingin bertemu dengannya sekarang."
"Kalau begitu, setelah turnamen kerajaan nanti selesai, kau bisa beritahu ayah untuk menikah dengan Askar."
"Ya ibu, aku tidak sabar menunggu hari itu."
"Ah sungguh ibu sudah bisa membayangkan kau memiliki seorang anak, dan itu adalah cucuku." Isi pikiran Tisumi sudah terlalu jauh, sedangkan Resya hanya tersenyum lemas.
"Aku juga tidak bisa membayangkan hal itu ibu."
"Ibu berpikir, bagaimana jika kau membuat cucu untuk ibu terlebih dahulu sebelum menikah." Usul Tisumi semakin asal.
Resya tidak bisa menjawab, pikirannya kosong, hanya membayangkan menikah dengan Askar sudah membuatnya kesal, apa lagi untuk berkembang biak bersama Askar dan memiliki anak.
"Selama Askar mau." Jawab Resya dengan senyum palsu, dia pasrah saja untuk melihat ibunya memikirkan banyak hal.
"Ibu tidak sabar." Tisumi berbalik dan berjalan pergi.
Karena percayakan itu, membuat suasana hati Tisumi menjadi bahagia, membayangkan dirinya menggendong seorang cucu, dan memikirkan nama yang cocok untuknya.
Resya tiba-tiba saja jatuh lemas, wajahnya syok, dan merasa pusing sendiri dengan semua yang dikatakan oleh sang ibu.
"Kenapa harus seperti ini." Berkata Resya kecewa sembari memukul-mukul lantai.
Askar terbangun dengan tubuh wanita tanpa busana diatas dada, sungguh sebuah kegiatan malam yang luar biasa, bahkan Askar cukup kerepotan untuk bertahan melawan Karlina.
Wanita ini adalah lord alam setengah saint tahap akhir, tubuh kuat dalam pelatihan keras dan stamina luar biasa seakan bisa melakukan bermacam hal satu Minggu tanpa istirahat.
Walau kendali Askar masih bisa membuat Karlina tidak berdaya, tapi untuk mengalahkannya diatas ranjang adalah sebuah perjuangan yang sangat keras.
Jika bukan karena skill pemangsa, harga diri Askar sebagai seorang lelaki akan di pecundangi karena tidak kuat menahan kenikmatan dalam pertarungan mereka.
Terlebih lagi Karlina masihlah suci, kuat cengkraman wanita ini seakan ingin meremas senjata Askar sampai hancur.
"Askar sudah berapa lama aku tertidur." Ucap Karlina yang ikut terbangun.
"Aku tidak tahu, tapi aku rasa sudah delapan belas jam kita melakukan kegiatan itu." Jawab Askar dengan tersenyum puas.
Tiba-tiba saja Karlina bangkit, wajahnya terkejut dan juga khawatir, Askar bingung melihat ekspresi Karlina itu.
"Kenapa kau Lina." Ucap Askar sembari mengusap rambut Karlina.
"Aku sudah terlambat bekerja." Jawabnya dengan nada lemas.
__ADS_1
"Kenapa kau harus takut, keluar saja dari sana, biar semua kebutuhanmu aku yang tanggung."
"Tapi..." Karlina ragu-ragu.
"Jangan khawatir, aku bisa mengurus semua ini." Askar sangat yakin perihal keuangan yang dia miliki.
Tidak berselang lama, pintu kamar Karlina terbuka, dua sosok anak perempuan dan lelaki yang masih kecil datang.
"Kakak aku lapar."
"Aku juga." Itu yang mereka ucapkan seakan tidak menyadari dengan kondisi kakaknya.
Karlina pun secara langsung berdiri dan berjalan mendekat kepada dua adiknya yang baru saja datang.
"Iya tunggu sebentar Elia, Loyi." Berkata Karlina dengan senyuman manis.
"Tapi kenapa kakak tidak memakai pakaian." Loyi bertanya.
"Kakak gunakan pakaian terlebih dahulu, nanti masuk angin." Elia pun merasa khawatir karena karlina lupa menutupi tubuhnya.
"Kakak lupa."
"Dan kenapa kakak lelaki disana juga tidak berpakaian."
"Kami habis olahraga." Jawab Karlina.
Karlina memberi alasan, untungnya kedua adik kecil itu masih polos dan tidak mengerti tentang kegiatan mereka.
Kedua adik kecil pun berlari pergi, mereka menunggu di ruang lain sembari Karlina membenahi pakaian.
Askar hanya tersenyum sendiri, dimana melihat Karlina yang sedikit malu, saat mengingat kejadian semalam untuk macam hal bersama Askar tanpa istirahat.
"Kenapa kau tersenyum Askar." Ucap Karlina yang merasa tidak nyaman saat Askar masih melihatnya penuh niat tersembunyi.
"Tidak, aku hanya tidak bisa membayangkan, bagaimana kita melakukan olahraga semalam."
"Jangan ingatkan itu, aku tidak tahu apa pun, hanya mengikuti apa yang kau inginkan saja, jadi maaf kalau aku kurang pengalaman." Berkata Karlina sembari menutupi beberapa bagian aset pribadi yang terpampang jelas.
Askar berjalan mendekat, dengan menarik tubuh Karlina, Askar memeluk dirinya erat, rasa empuk, kenyal dan membahagiakan, jelas membuat Askar terpesona.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, biar aku sendiri yang membuatmu berpengalaman nanti." Bisik Askar ke telinga Karlina yang merah.
Bingung untuk menjawab apa, Karlina hanya mengangguk perlahan, karena dia pun sudah menerima segala keinginan Askar tanpa menolak.
__ADS_1