
Dengan menggunakan gerbang dimensi yang di tinggalkan oleh Davendra, itu cukup memudahkan Askar dalam membawa pulang Sina dan Hara.
Tapi kemampuan gerbang dimensi yang Davendra gunakan memang sangat luar biasa, dimana jarak tempuh antara alam semesta awal penciptaan dan dunia asal sangatlah jauh, mencapai 100 milyar tahun cahaya.
Itu adalah perhitungan tanpa melewati lubang hitam sebagai jalan pintas menuju setiap transit ke berbagai alam semesta hingga mencapai dunia asal.
Di tambah lagi dengan segel prasasti pelindung yang menjaga dunia asal dari serangan luar, sekaligus tidak akan terlihat oleh siapa pun, bukan sembarang orang bisa melewati segel ini.
Dan nyatanya Davendra memang pemilik kekuatan dari tingkat dewa sejati, sehingga itu terbilang sangat mudah untuk dia melewati pembatas kekuatan segel dari buatan Askar.
Kehadiran Sina cukup membuat semua orang merasa bahagia, meski pun untuk Rea sendiri dia tidak bisa kembali dalam waktu singkat, tapi kedua orang tua atau dari keluarga Askar bisa memahami apa yang menjadi tujuan Rea sekarang.
Dalam hal ini rasa rindu Sina benar-benar ditumpahkan kepada Syfa karena selama tiga tahun kurang beberapa bulan dia tidak bisa melihat anaknya.
Tapi sekarang perpisahan itu berganti dengan pertemuan yang mengharukan, dimana suara Syfa secara jelas memanggil Sina dengan sebutan 'mama' terdengar di telinganya.
Benar-benar sebuah pertemuan yang sangat mengharukan, bahkan untuk di tayangkan dalam sebuah acara sinetron ini sudah mendapat penghargaan sebagai best of the best artis dengan adegan mengharukan.
Lepas dari acara Sina itu sendiri....
Askar membawa Hara anak dari Rea kepada kakek dan neneknya, bapak sarmoto dan ibu surti, mereka cukup menikmati waktu dikala usia senjanya.
Bapak sarmoto yang mengalami penyakit asma sekali pun, itu sudah terobati oleh bantuan Askar dengan menggunakan berbagai macam ramuan khusus.
Berjalan dengan perlahan memasuki rumah cukup besar sebagai seorang juragan sembako yang memiliki bisnis untuk menyambung kehidupan mereka selama ini.
Hidup di rumah hanya mereka bertiga, sarmoto, Surti dan Rea, tentu jika Rea tinggal di rumah Askar, tinggallah mereka berdua karena Rea adalah anak satu-satunya yang mereka miliki.
Perlahan Askar mengetuk pintu, dan sosok lelaki tua sedikit kusam, lusuh dan cukup berisi, jika sebelumnya penyakit asma itu menggerogoti tubuh hingga kurus, untuk beberapa bulan setelah sembuh, tubuh sarmoto pun berangsur semakin baik.
"Askar, kapan kau kembali." Terlihat senang di wajah sarmoto ketika tahu menantunya ini pulang.
"Aku baru beberapa hari yang lalu pulang." Jawab Askar mencoba tersenyum.
"Siapa anak yang kau bawa...." Bertanya sarmoto, tapi perlahan seperti sebuah ikatan memang membuat dia tahu tentang hara.
"Ini adalah cucu ayah." Askar jelas memperkenalkan siapa anak lelaki tampan yang ada di gendongnya.
"Namanya siapa ?." Bersemangat Sarmoto untuk anak itu.
__ADS_1
"Hara... Mahesa Hara." Jawab Askar.
Senyum sumringah itu terpahat jelas di wajah kusut tua, karena kehadiran anak kecil yang menjadi cucunya sangat memberi kebahagiaan.
Berjalan masuk dan ibu Surti pun datang dengan membawa beberapa cemilan yang memang disajikan untuk menyambut Askar datang.
"Jadi dimana Rea, kenapa dia tidak terlihat." Kembali Sarmoto bertanya dan ini menjadi jawaban sulit untuk Askar katakan.
"Soal itu...." Askar pun menjadi ragu untuk menjelaskan tentang Rea kepada Sarmoto.... "Ayah karena itulah aku datang kemari."
"Askar jangan bilang terjadi sesuatu kepada Rea." Seakan pikiran sarmoto pergi entah kemana dan membayangkan banyak kejadian yang membuat dia khawatir.
"Tidak, ayah, Rea baik-baik saja, dia tidak mengalami kecelakaan, atau mengalami suatu kejadian yang berbahaya, hanya saja Rea tidak bisa pulang untuk waktu lama." Askar dengan berat pun menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu, tapi apa alasannya." Terasa sebuah nafas lega ketika tahu bahwa Rea dalam kondisi baik.
"Ini adalah untuk menyelamatkan Rea juga, karena ada sebuah ramalan mengenai masa depan Rea, dan ada kejadian yang mengancam kehidupan Rea nanti, sehingga dalam 14 tahun Rea tidak bisa pulang."
"Itu tidak masalah, karena ini adalah demi menyelamatkan Rea." Jawab Sarmoto dengan sebuah senyum di wajahnya.
Surti dan sarmoto cukup memahami penjelasan Askar, dia tidak menganggap itu adalah sebuah masalah dan membuat keduanya bersedih.
Semua adalah demi Rea, mereka hanya bisa percaya bahwa apa yang diputuskan oleh askar, menjadi jalan terbaik untuk Rea lakukan.
"Aku tidak masalah ibu, tapi aku merasa di repot kan karena memberi tanggung jawab Hara kepada ayah dan ibu."
"Apa yang kau anggap merepotkan kami, itu adalah sebuah kebahagiaan yang kami dapat, kami sudah cukup tua, tanpa ada anak di samping kami, rasa sepi terkadang membuat kami takut, tapi mungkin jika Hara ada disini kami bisa sedikit merasa senang." Ucap Sarmoto untuk banyak hal yang sudah dia alami bersama Surti.
Toko sembako yang mereka jalani sebagai bisnis di urus oleh karyawan mereka, hidup menikmati hari tua hanya berdua terlalu berat, dimana kesepian membuat keduanya melamun sendiri.
Askar merasa paham jika sarmoto dan Surti ingin sebuah alasan demi menemani kehidupan mereka setelah Rea tidak lagi bisa hadir.
"Baiklah ayah, tapi biar aku kirimkan pembantu atau penjaga ke rumah ini, aku tidak ingin ayah dan ibu direpotkan karena sudah mengurus Hara." Jawab Askar untuk sedikit memberi pengertian.
"Sebenarnya itu tidak perlu, tapi ya terserah kau saja Askar." Jawab Sarmoto yang tersenyum lebar saat menggendong Hara di pangkuan mereka.
Askar tidak lah kekurangan harta, kekayaannya sudah lebih dari cukup untuk hidup ratusan tahun tanpa perlu bekerja lagi, hanya untuk menyewa beberapa pengawal atau pembantu yang akan mengurus sarmoto, Surti dan hara, tidak akan menjadi masalah.
Senyuman dari Sarmoto dan Surti membuat Askar bahagia, seakan dalam dua tahun Rea pergi, dan kini semakin lama pula dia tidak akan kembali, mereka menahan kerinduan yang teramat besar.
__ADS_1
Dan Askar pun memahami hal itu, dia tidak mungkin membuat orang-orang yang ada di sekitarnya kesusahan, terlebih dua orang tua yang sudah memberikan anak mereka sebagai istrinya.
*******
Lepas dari kediaman keluarga sarmoto, Askar pun beranjak pergi ke selatan.
Tujuannya jelas, yaitu akademi laut selatan, dimana sudah cukup lama dia pergi dan tidak berkunjung ke tempat ini.
Dan nyatanya kondisi akademi laut selatan semakin lebih baik dari terakhir dia datang, dimana bangunan-bangunan yang ada jauh lebih megah dan semakin luar biasa.
Tentu sangat membanggakan bagi dirinya, entah secara pribadi, karena Askar juga pernah belajar di akademi ini, atau sebagai orang yang mencantumkan diri membawa nama baik akademi laut selatan menuju puncak top ranking dunia.
Askar yang berdiri di atas langit melihat langsung kemajuan akademi laut selatan penuh semangat, dia jelas ingin melihat sendiri seberapa besar perkembangan yang mereka dapat.
Ketika Askar mencoba masuk, dia pun melihat jika terdapat lapisan pelindung yang menjaga akademi laut selatan dari serangan luar.
"Ini sebuah kemajuan, tapi....." Askar mengangguk paham dan sedikit kagum.
Hanya saja, bagi Askar yang saat ini sebagai lord alam saint suci tahap akhir, lapisan pelindung itu tidak lebih seperti sebuah kertas tisu yang akan sobek dengan ujung jadi Askar.
Tapi Askar dengan mudah masuk tanpa perlu merusak lapisan pelindung, dan seketika suara alarm bergema di seluruh akademi.
Semua murid yang ada di dalam akademi bergegas keluar dengan semua peralatan dan persenjataan lengkap seakan kedatangan musuh ke wilayah mereka.
"Siapa kau berani-beraninya masuk ke wilayah akademi laut selatan tanpa izin."
"Apa kau tidak tahu, disini bukan tempat yang bisa kau kunjungi begitu saja."
"Cepat turun dan hadapi aku."
Para murid jelas merasa kesal, karena tidak tahu siapa yang datang, dengan sengaja merusak lapisan pelindung dan tentu menganggap bahwa itu adalah sebuah serangan.
Terlebih lagi empat menara yang menjadi senjata andalan akademi untuk menghancurkan segala macam serangan dari musuh pun bersiap mengumpulkan energi.
Askar yang hadir pun terkejut, siapa sangka penjagaan akademi laut selatan menjadi semakin ketat, bahkan dari senjata para murid cukup mumpuni.
Sebuah serangan dari empat menara pun dilepaskan, meski Askar cukup santai menahan tembakan energi yang bisa saja menghancurkan puluhan bahtera terbang dalam satu serangan.
Tapi ini masih belum kuat hingga membuat Askar terluka, bahkan sekedar menyentuh kulitnya pun tidak sampai, karena di sekitar tubuh itu memiliki lapisan pelindung yang lebih kuat.
__ADS_1
Askar segera turun dan menampakan diri di hadapan semua murid, siapa yang bisa menahan kejutan itu, dimana masih bertahan setelah menerima serangan langsung dari empat menara.
"Aku adalah Askar, murid akademi laut selatan yang kembali dari perjalanan panjang, bukankah harusnya aku disambut di sini." Ucap Askar hingga terdengar ke telinga semua orang.