
Seikhlas apa pun Askar membawa Ke'su dia masih tidak nyaman dengan kehadirannya, jika bukan karena permintaan Asy, tentu dia lebih memilih membuangnya di tengah perjalanan.
"Hei jangan menghalangi pemandangan." Saut Askar dengan kesal.
"Apa kau buta, aku sedang berdiri di samping jendela, aku tidak menghalangi apa pun." Balas Ke'su yang merasa tersinggung.
"Bagiku kau bernafas pun sudah membuat suasana menjadi tidak nyaman, apa lagi di dekatku, rusak semua pemandangan." Jelas sekali Askar masih menujukan kekesalannya dengan Ke'su.
Sina dan Asy melihat jelas bagaimana Askar meluapkan semua ini pikiran kepada pangeran Phoenix, terlebih lagi ketika mereka ingat kejadian yang harus Askar lewati.
Walau pada akhirnya itu memberikan keuntungan bagi Askar dengan peningkatan mencapai tingkat lord alam guru tahap menengah, tetap saja perlakuan Ke'su membuatnya kerepotan.
Tapi untuk Sina sekalu pun merasa tidak nyaman ketika melihat Ke'su yang berdiri dengan bertelan*jang tubuh, dan hanya menyisakan pakaian dalam berwarna putih.
Sedangkan dia menujukan sikap sombong dengan bersilang kedua tangan di dada.
"Jangan anggap karena Dewi Askar memilih kau sebagai pendampingnya, kau bisa seenaknya saja mengaturku." Ke'su pun tidak bisa menerima kenyataan akan pilihan Asy kepada Askar.
"Terserah kau mau mengatakan apa pun, tapi kau ada di sini, jika kau tidak mau ikut dengan aturan yang aku beri, sebaiknya kau bisa tahan di tengah-tengah lubang hitam." Askar dengan jelas ingin melemparkan Ke'su di lubang hitam.
Tanpa menunggu lama, perjalanan antara planet merah menuju kota Sourina hanya berkisar satu hari penuh, itu pun karena Askar melaju dengan santai untuk mengirit energi.
"Baiklah kita sampai, kau cepatlah turun." Perintah Askar kepada Ke'su.
"Tidak ada yang bisa memerintahku." Ke'su menolak patuh
Tapi tanpa ragu Askar menendang Ke'su hingga keluar dari dalam bahtera, biar pun pangeran itu jauh lebih kuat, tapi dengan adanya Asy, dia tidak bisa berbuat apa pun.
*******
Tidak ada yang lebih indah dari sebuah pertemuan ketika seorang istri menantikan suami pulang bekerja, kata itu mungkin tidak cocok untuk Askar, karena dia tidaklah berkerja dan tidak digaji pula.
Walau Askar tidak mendapatkan gaji atas kerja kerasnya, atau pun kompensasi karena dia dilempar ngalor ngidul oleh author dalam jalan cerita yang rumit.
Tapi Rea terlihat bahagia dengan kepulangan Askar yang sudah satu Minggu pergi untuk mengantarkan Sina menyelesaikan urusannya tentang kebangkitan jiwa Phoenix.
__ADS_1
Kini akan dilihat lelaki yang sangat dia rindukan turun dari atas bahtera, akan tetapu raut wajah gadis cantik itu berubah, ketika sosok pertama adalah lelaki berkulit coklat tua sampai ke pori-pori, dan hanya menggunakan ****** ***** saja menampakan diri.
"Sejak kapan tuan Askar membawa penumpang gelap, cuma pakai ****** pula." Ucap Omen yang merasa aneh atas kehadiran lelaki dari klan Phoenix sebelumnya.
Rea semakin heran, ketika sosok lain muncul, tetap itu bukanlah Askar, melainkan gadis cantik berambut merah darah, kulit putih, mata kuning dan Rea tidak tahu jika Askar membawa gadis lain.
Setelah kakek Loe Teu Yiu dan Sina keluar, lelaki yang diharapkan oleh Rea pun melompat turun dengan tersenyum cerah menatap dirinya.
"Askar, bukannya kau pergi hanya bertiga, tapi kenapa kau pulang jadi berlima, apa yang terjadi." Bertanya Rea yang penasaran atas tujuan dua orang lain.
"Ceritanya panjang, panjang sekali, sampai aku lupa dari mana awal aku harus menceritakannya, jadi... bisa kita lupakan saja." Balas Askar yang memang rumit untuk menceritakan semua dari awal.
"Aku sih tidak masalah, tapi sejak kapan pangeran Phoenix akrab denganmu." Rea masih ingat akan sosok Ke'su yang sebelumnya datang untuk menjemput Asy.
Hanya saja tanggapan Askar dari pertanyaan Rea, menujukan raut wajah rumit dengan senyum mengejek di tunjukan.
"Rea apa kau salah makan ?."
"Tidak, memangnya kenapa ?." Rea bingung.
"Aku tidak tahu jika sekarang kau bisa melawak."
"Bukankah itu lucu, jika kau anggap aku akrab dengan pangeran ku*nyuk ini." Keras Askar menjawab pertanyaan Rea.
Telinga Ke'su terangkat ketika Askar menyebutkan panggilan yang sudah melekat dan tertanam didalam jiwa sang pangeran.
Dia mendekati Rea dan tersenyum sombong dengan gigi kuning tanpa pernah tahu kegunaan pasta gigi selama hidupnya.
"Nona anda menang cantik tapi kenapa pikiran ada terganggu." Ucap Ke'su.
"Hei... Kau itu sedang memujiku atau menghinaku." Rea merasa tersinggung atas ucapan Ke'su.
"Aku tidak salah, Karena aku yang sangat ku*nyuk ini, tidak mungkin bisa akrab dengan lelaki yang tidak tahu diri seperti Askar." Balas Ke'su bersuara tinggi.
Rea tentu merasa aneh atas ucapan pangeran Ke'su, dia yang mengejek dirinya sendiri dengan kesombongan selangit dan bangga atas julukan sebagai ku*nyuk.
__ADS_1
"Askar apa yang kau lakukan kepada orang ini, atau mungkin otaknya sudah bermasalah." Bisik Rea kepada Askar dengan menujukan wajah rumit saat melihat Ke'su.
"Jangan dipikirkan, lihat saja, ini menyenangkan ketika bisa membodohi orang seperti dia." Balas Askar yang tersenyum mengejek.
"Hmmm tapi kenapa dia ada disini." Tetap Rea bertanya tentang tujuan sang pangeran Phoenix.
"Sudah aku katakan ceritanya panjang, nanti aku akan buat rangkumannya, sebelum itu kita istirahat dulu."
Rea tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai kesombongan Ke'su yang menghina dirinya sendiri, tapi selama dia suka, Rea tidak mempermasalahkannya.
Lepas dari pangeran ku*nyuk, perhatian Rea kini tertuju kepada wanita berambut merah seperti darah.
Tersirat jelas wanita itu menujukan sebuah senyuman ketika mata saling bertemu, Rea merasa akrab, tapi tidak pernah dia ingat jika pernah bertemu.
Langkah anggun berjalan kepada Rea, dan tetap tersenyum sebelum berkata... "Kenapa kau diam saja Rea."
"Asy ?." Nama itu terucap.
"Memang siapa lagi." Balasnya sambil tertawa.
"Ya biasanya jika Askar kembali dengan wanita baru, mereka adalah kekasih lain, atau pun selingkuhan yang dia sembunyikan." Ucap Rea dengan paham atas sepak terjang Askar.
"Kau bisa beranggapan seperti itu."
"Heh ?, Memang apa yang terjadi ?." Rea binggung atas jawaban Asy.
Lepas dari masalah hubungan antara Askar dan Asy, Rea pun mulai mendengarkan semua cerita yang terjadi selama di klan Phoenix.
Dari tujuan Ke'su, hingga alasannya, termasuk pertarungan-pertarungan melawan tiga orang yang jelas unik-unik, ada yang tinggi kurus, atau pendek kekar.
"Jadi ?." Ucap Rea.
"Jadi apa Rea." Askar bingung.
"Apa yang sudah kau lakukan kepada Asy."
__ADS_1
"Tidak banyak, bahkan untuk tubuh barunya sekarang, menyentuh pun belum." Itu memang kenyataannya.
Rea mengangguk paham, karena sudah dipastikan untuk kedepannya Askar tentu bertindak terhadap Asy.