PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
perintah darah


__ADS_3

Walau Askar tidak tahu apa yang sebenarnya pangeran Ke'su itu inginkan, tapi jelas ada maksud tersembunyi dia rencanakan kepada Asy.


Entah itu berhubungan dengan hilangnya jiwa Phoenix yang terjadi, atau hal lain untuk dia lakukan, bahkan Asy sendiri bisa merasakan niat pangeran Ke'su.


Sosok lelaki dengan jabatan sebagai dewan suci penjaga altar kebangkitan membawa Asy, dia hanya berpakaian minim, dua lembar kain putih yang terikat di pinggang dan menyerong ke bahu.


"Silakan leluhur." Ucap dewa suci So'ek dengan sopan.


Asy mengangguk, dia pun tahu tahap-tahap untuk dilakukan sebelum melakukan prosedur pembangkitan tubuh nyata dan melepas jiwa dari dalam tubuh Sina.


Perlahan berbaring diatas altar dan dewan Suci mulai mengucapkan mantra dengan wajah khusyuk penuh konsentrasi tinggi.


Seketika kobaran api pun menyelimuti tubuh Asy, sedikit demi sedikit semakin besar, membakar setiap bagian tubuh, tapi tidak terlihat jika Asy kesakitan.


Dari jauh Askar memperhatikan, dia merasa tidak nyaman ketika api menghanguskan bagian tubuh Sina.


"Kakek, apa ini tidak masalah." Gugup Askar hingga bertanya kepada kakek Loe Teu Yiu.


"Masalah apanya ?, Harusnya kau tahu, jika seperti ini lah proses Phoenix melakukan kebangkitan renkarnasi." Balas kakek Yiu dengan acuh.


"Ya aku hanya takut jika ini tidak berhasil, maka burung Phoenix itu akan hangus dan menjadi gosong." Terbayang jika terjadi demikian.


"Tidak perlu khawatir Askar, bahkan seharusnya Phoenix memiliki ketahanan dengan api, dia tidak mungkin gosong, tapi secara sengaja Phoenix meleburkan diri menjadi abu, dan dari abu itu tubuh Phoenix akan bangkit." Perjelas Kakek Loe Teu Yiu dengan pemahaman yang sangat banyak mengenai Phoenix.


Kobaran api diatas altar masih belum padam, terus membara, semakin besar dan membentuk pusaran api.


Abu dari tubuh Sina terangkat tinggi ke atas langit, awan-awan merah pun mulai berputar, gemuruh keras terdengar.


Semua yang terjadi bukanlah pertanda akan turun hujan, karena muncul tiang cahaya dari pusat pusaran awan merah dan jatuh di altar kebangkitan.


"Dewi Phoenix kembali." Saut semua penduduk dari klan Phoenix melihat seekor burung api dengan satu wanita di atasnya turun.


(Tadinya di sebut 'dewa' kini berubah menjadi 'Dewi' karena baru ingat Asy itu wanita.)

__ADS_1


Dua sosok itu terbang berputar-putar, kobaran api dari ekor seperti membakar langit penuh kewibawaan, dia adalah salah satu makhluk yang diciptakan bersama dengan para dewa awal.


Dan kini menampakan wujud secara nyata, setelah ratusan ribu tahun lenyap dari jagat raya.


Askar tahu itu adalah Sina, dan burung api itu adalah Asy yang sudah memisahkan diri tanpa perlu berbagi tubuh.


Walau pun Asy sudah terpisah, Sina masih memiliki tetesan darah Phoenix yang tersimpan didalam urat nadinya, sehingga tidak ada kekuatan Phoenix hilang dari tubuh Sina.


Bahkan mode transformasi Phoenix pun mampu dia lakukan, semua itu adalah pemberian dari Asy yang membagi kekuatannya kepada Sina agar tetap menggunakan element api Phoenix merah.


Berdiri Sina dan seekor burung api di atas altar, semua orang yang menunduk hormat kini mengangkat kepala memandangi sosok dewa bagi mereka.


Phoenix pun berubah wujud, Askar jelas menantikan seperti apa rupa Asyifa va'seri larik dalam bentuk manusianya.


Rambut merah panjang bergelombang layaknya lidah api, mata indah yang tajam, terpancar nyala seperti batu merah delima, dan lengkungan senyum penuh makna mengarah tepat kepada Askar.


Sejak awal Askar memang tahu kalau Asy itu sangat menawan, tapi keindahan yang muncul didepan mata berada diatas ekspetasinya sendiri.


Sebuah kotak berisi cincin dengan baru mulia indah berwarna merah, Asy tidak tahu apa maksud dari tindakan pangeran Ke'su, tapi jelas itu bukan sekedar pemberian semata tanpa alasan.


"Dewiku, Asyifa va'seri larik, demi melanjutkan keturunan yang lama terputus dari garis darah asli, aku mohon anda menerima ini, sebagai bentuk lamaran untuk sebuah pernikahan." Ucap pangeran Ke'su tanpa ragu.


"Tidak." Tegas jawaban Asy.


"Tapi Dewi ini adalah cara untuk menjaga garis keturunan asli sang Phoenix."


"Aku sudah terikat dengan seseorang."


"Ini salah Dewi, jika anda tidak menerima pernikahan ini, maka klan Phoenix akan kehilangan penerus dari darah asli."


"Tenang saja, karena lelaki di sana pun memiliki beberapa tetes dari darah Phoenix murni, dan aku terikat dengannya, karena itu keturunanku nanti akan memiliki jiwa Phoenix." Tunjuk Asy kepada Askar.


Jelas semua orang mengarahkan pandangan mereka kepada Askar, terlebih untuk pangeran Ke'su yang tidak pernah tahu, jika Askar pun memiliki darah Phoenix.

__ADS_1


Kekuatan api Phoenix milik Askar dia dapatkan setelah berhubungan meditasi gabungan jiwa dengan Sina. Siapa sangka secara langsung Askar pun menyerap energi Phoenix dan menjadikan inti darahnya berevolusi.


"Kalau begitu aku akan pergi." Sina dan Asy pun melangkah turun.


"Tidak semudah itu Dewi." Ucap pangeran Ke'su yang memberikan isyarat kepada Dewan suci So'ek.


Sebuah kubah turun dan menutup altar kebangkitan demi mengurung Asy agar tidak beranjak pergi.


Ini sudah di rencanakan oleh pangeran Ke'su, dimana dia jelas ingin menjadikan Asy sebagai wadah untuk membentuk keturunan berdarah Phoenix asli.


Tidak pernah dia kira, jika Asy menolak lamaran itu, terlebih lelaki bernama Askar yang menjadi penyebab utama rencananya ditolak.


Tepat sebelum dia dan Asy mau bersiap untuk pergi, Askar terkejut dengan tindakan Ke'su yang mengurung mereka berdua dalam kubah.


"Ke'su lepaskan kami, atau aku melakukan tindakan dengan menggunakan perintah darah mutlak." Ucap Asy yang marah kepada Ke'su.


"Dewiku, dalam kubah khusus ini perintah darah tidak bisa anda lakukan." Tapi Pangeran Ke'su sudah memastikan semua rencananya tidak bisa dihentikan.


Jika Asy menggunakan perintah darah, siapa pun orang dalam garis keturunan Phoenix, tidak bisa membantah setiap ucapan dari tetua mereka.


Tujuan Ke'su kini menghabisi Askar, atau pun menyandera dia sebagai bahan tawaran untuk Asy mengikuti keinginannya.


Walau pun begitu, pangeran Ke'su tidak langsung bergerak, karena disamping Askar ada seseorang yang tidak mungkin dia lawan, penguasa pedang Loe Teu Yiu.


"Jadi pada akhirnya akan menjadi pertarungan." Ucap Askar yang sudah membayangkan kejadian ini akan terjadi.


"Apa kau takut Askar." Ucap Ke'su dengan senyum mengejek.


"Takut ?, tidak. Tapi kau adalah lord alam saint suci, sedangkan aku hanya lord alam kaisar, apa kau tidak malu sebagai pangeran menganiaya orang lebih lemah." Askar jelas mencari alasan.


"Jadi apa yang kau inginkan."


"Sebuah pertarungan yang adil." Saut Askar dengan keinginan mengurangi resiko kekalahan.

__ADS_1


__ADS_2