
Saat semua yang Askar pesan bertumpuk rapi di atas meja, su yiu merasa tidak nyaman karena itu tidaklah sedikit, ada dua lusin piring dan cukup untuk memberi makan lima orang.
"Askar aku tidak mungkin memakan semua ini." Ucap Su yiu bersemangat melihat banyak makanan asing yang belum pernah dia cicipi.
"Tenang saja, aku yakin kau bisa menghabiskan semua makanan ini." Jawab Askar yang memang sengaja memesan banyak makanan.
"Apa kau pikir aku seperti orang kesurupan ?." Su yiu merasa tersinggung atas ucapan Askar.
Dia cukup tahu jika su yiu termasuk orang yang malu-malu kucing, tapi sifat keras kepada dirinya lebih mendominasi untuk dia tujukan kepada Askar.
Su yiu mulai menarik satu piring dan mengunyah perlahan dengan mata berbinar-binar, dia yang hidup lama di planet alam semesta pedang tanpa tanding, jarang sekali merasakan makanan yang secara khusus disajikan penuh rasa.
Dan jelas jika rumah makan ini tidaklah sekedar tempat biasa untuk masyarakat umum, karena orang-orang yang datang berasal dari keluarga kaya raya.
Berpakaian rapi, cara makan yang sopan dan mengunyah secara perlahan, menujukan sikap sebagai manusia penuh wibawa.
"Tuan, semua pesanan ini sudah selesai, silakan menikmati." Ucap pelayan yang berniat pergi.
"Tunggu sebentar nona, ada yang ingin aku tanyakan." Panggil Askar cepat dan menujukan satu koin kristal di atas meja.
"Maaf tuan, untuk pertanyaan bersifat pribadi atau secara khusus mengenai diriku, itu tidak bisa." Dia cukup percaya diri dengan kecantikan yang mungkin menarik perhatian.
"Walau aku juga ingin tahu tentangmu, tapi aku hanya ingin bertanya soal alam semesta kerajaan beladiri." Askar menjelaskan.
"Jadi tuan bukan berasal dari alam semesta ini." Itu sedikit membuat si pelayan sedikit terkejut.
Jelas intuisi pelayan itu cukup tajam, kemungkinan permasalahan di alam semesta kerajaan beladiri bukan satu rahasia bagi penduduknya.
Ada dua hal yang Askar waspadai, dimana dirinya dari luar alam semesta kerajaan beladiri akan menarik perhatian kalau memiliki tujuan tertentu.
Satu hal lain, adalah dia tidak akan mendapat informasi apa pun, bahkan pelayan ini akan menjadi masalah nantinya, karena pertanyaan Askar yang membuatnya semakin diperhatikan.
"Aku berasal dari planet yang cukup asing, bahkan seluk beluk pemerintahan alam semesta kerajaan beladiri tidak aku ketahui." Askar mencari alasan.
__ADS_1
"Ah jadi kau berasal dari tempat yang sama denganku." Sedikit memberikan respon cukup baik kepada Askar.
Askar bingung atas jawaban pelayan wanita ini, tapi bagaimana pun juga, dia harus mengikuti alur pembicaraan agar tidak dilihat mencurigakan.
"Iya seperti itu." Mau tidak mau Askar hanya perlu menjawab dengan tenang.
"Jadi apa yang ingin anda ketahui." Bertanya pelayan yang bersikap cukup akrab.
"Apa anda tahu tentang putri Silviana."
"Putri Silviana kah, aku belum pernah melihatnya, tapi kabar yang beredar dia ada di dalam istana kerajaan beladiri." Begitu jawaban yang dia dapat dari pelayan.
"Kalau begitu ceritakan, sosok penguasa Varjo de hores, di tempat tinggalku hampir tidak ada informasi apa pun tentangnya." Askar memang berkata jujur.
Karena kepada siapa pun Askar bertanya tidak akan ada yang mengenal siapa sosok Varjo de hores.
"Soal itu, tuan Varjo memiliki tubuh buntal, berkumis melintas di atas bibir dan kekuatan setingkat lord alam saint suci tahap menengah."
"Apa tuan Varjo juga memiliki ekor, bulu dan sering bergelantungan di pohon." Askar menambahkannya sendiri.
"Apa salahnya ?, kan aku ingin memastikan." Jawab saja Askar.
Dari penjelasan pelayan yang bernama Karlina itu, Askar cukup tahu bahwa dia memiliki 26 istri dan 52 selir, tentu Askar bingung bagaimana dia mengatur jadwal.
Varjo de hores memiliki 78 anak dan mereka semua tersebar di seluruh penjuru alam semesta kerajaan beladiri untuk berlatih hingga mereka dewasa.
Tapi mereka adalah bakat-bakat yang menjanjikan, sebagaimana kemampuan Varjo yang bisa di bilang jenius sejati, dan itu semua di turunkan kepada semua anaknya.
"Aku tidak menyangka, jika anak dari orang itu bukankah seekor kera."
"Bagiamana bisa kau berpikiran seperti itu, apa kau memiliki masalah dengan mereka." Binggung Karlina atas tanggapan Askar.
"Lupakan itu, tolong lanjutkan nona Karlina."
__ADS_1
"Biar pun kau memiliki masalah, tapi jangan sampai kau mencari masalah kepada anak-anak Varjo, karena mereka sangat mudah tersinggung, dan karena kekuasaan sebagai lord alam semesta kerajaan beladiri, tentu bukan hal yang bisa dianggap enteng." Karlina jelas memberi peringatan kepada Askar.
"Aku mengerti, tapi dimana mereka berada."
"Ya aku tidak tahu pasti untuk mereka semua, tapi lima diantaranya ada di padepokan tempatku berlatih."
Selagi Askar bercakap-cakap, seorang wanita yang berjalan untuk mencari kursi, tanpa sengaja bersenggolan dengan Karlina.
Seorang wanita dengan beberapa pengawal yang berdiri dibelakangnya, sebuah jubah merah hitam, dan simbol tiga pedang terpahat di baju bagian atas sebelah kiri.
"Hei kalau berdiri itu lihat-lihat jangan menghalangi jalan orang." Ucap wanita itu dengan sengit.
"Maaf nona." Ucap Karlina yang mencoba merendahkan diri dan merasa bersalah.
Tapi ada yang membuat dia terlihat terkejut, saat melihat dan mengenali sosok pelayan wanita, karena ada alasan tersendiri.
"Karlina !?, sungguh mengejutkan, siapa sangka murid yang ramalkan mampu menyaingi penguasa pedang, berakhir menjadi pelayan rumah makan." Wanita itu cukup sombong karena melihat sosok yang tidak dia harapkan.
"Nona Resra de hores, aku hanya orang dari yang terbuang, jika aku tidak bekerja, aku tidak akan bisa membiayai kebutuhan hidup disini, jadi masa depan nanti tidak ada yang tahu." Karlina cukup luar biasa mampu menahan emosi atas ucapan Resra.
Askar merasa tertarik saat Karlina menyebutkan nama de hores sebagai wujud nama keluarga dari Resra, dimana itu artinya wanita satu ini adalah keturunan Varjo de hores.
Tapi di sisi lain Askar merasa kasihan melihat perbedaan kasta yang ada didepan matanya, dimana Karlina yang berasal dari keturunan terbuang dan Resra sebagai anak penguasa alam semesta kerajaan beladiri.
Askar tidak pernah menyukainya jenis manusia seperti Resra, apa lagi membicarakan ayah mereka, Askar bisa melemparkan kotoran ke wajah varjo de hores.
Secara sengaja Askar mengambil sebuah paha ayam dan melemparkan ke wajah Resra dari belakang, hingga tepat masuk ke mulutnya ketika tertawa terbahak-bahak.
"Si*al, siapa yang melemparkan paha ayam ini ke mulut ku." Berkata Resra dengan marah.
Askar pun berdiri, dan menujukan wajah polos kepada Resra, jelas ada sebuah penghinaan dari cara dia tersenyum.
"Ah maaf nona, aku sungguh meminta maaf, karena ayamku tidak sopan mengira mulut anda sebagai kandang, baunya mirip sih." Berkata Askar dengan makna yang dalam.
__ADS_1
"Apa kau menghinaku."
"Aku tidak menghina siapa pun, tolong jangan mempermasalahkan hal ini nona, hanya karena ayam yang masuk kedalam mulut tidak harus anda marah." Askar semakin menyulut emosi dari Resra.