PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
Tepian akhirat


__ADS_3

Sam menyaksikan sendiri bagaimana Askar yang dia kenal sejak kecil sebagai anaknya, kini menampakan diri menjadi sosok luar biasa.


Kebanggaan bagi seorang ayah, meski Askar enggan mengakui dirinya itu, Sam cukup yakin untuk menyombongkan diri kepada siapa pun, bahwa...


"Dia anakku." Ucapnya tersenyum cerah.


"Nggak tanya." Dibalas tanpa perduli.


Tapi kesenangan semua orang saat berhasil mengalahkan para makhluk besar yang hampir membunuh mereka, seketika hancur saat sebuah suara terdengar.


"APA KAU PIKIR HANYA DENGAN ITU BISA MENGALAHKAN KU ASYURA."


"KEKUATAN MU SEKARANG JAUH LEBIH LEMAH DARI LEGENDA YANG NYATA."


"MASA KEJAYAAN MU SUDAH LAMA HABIS."


"KINI KAU HANYA SISA-SISA INGATAN MASA LALU YANG MENCOBA KEMBALI UNTUK MEMPERBAIKI SEGALANYA."


"TAPI JAGAT RAYA SUDAH BERUBAH TANPA KAU SADARI."


Gemuruh suara Varjo de hores menggema di seluruh penjuru, dunia ini memanglah ada di dalam kekuasaan skill dimensi yang dia milik, jiwa itu adalah pengendali mutlak atas segala hal dari ciptaannya.


Oleh karena hal itu, dia mampu mengubah wujud segala materi yang telah hancur oleh kekuatan serangan gabungan dari Askar, dan makhluk besar mulai kembali di bangkitkan.


Dan sekarang pasukan yang sebelumnya sudah di lenyap kan oleh ledakan besar pun hadir kembali secara utuh, meski ada perbedaan dari awal mereka hidup.


Tatapan mata kosong dimana tidak memiliki emosi, entah Varjo sengaja atau tidak, seakan mereka dibangkitkan tanpa diberi otak oleh Varjo.


"Si*al ...... " Teriak Askar penuh emosi.


Serangan gabungan itu tidak bisa dia gunakan untuk kedua kalinya, tekanan berat menerima energi dari tujuh juta pasukan sangat membebani sirkuit Askar, seakan bisa saja hancur.


Bisa saja Askar menggunakan kekuatan Dewi kematian Lutos, tapi jangkauannya terlalu besar, untuk kemampuan Askar sekarang, jelas ini tidaklah cukup.


"Bagaimana ini, makhluk-makhluk itu kembali datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak."


"Padahal serangan sebelumnya sangatlah luar biasa."

__ADS_1


"Tapi apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan diri."


"Apa tidak ada orang yang mampu menggunakan kemampuan dimensi."


Karena komentar dari salah satu orang itu, Askar cukup yakin untuk menunjukan sebuah senyum, bahwa dia masih memiliki kesempatan lain.


Dilihat dari mana pun, dunia bentukan Varjo seperti sebuah penjara yang dengan sengaja mengurung semua orang untuk di musnahkan.


Mustahil untuk Askar menghancurkan lapisan dimensi dari bagian dalam, sehingga yang harus dilakukan adalah membuka celah di lapisan luar karena jauh lebih lemah.


Tapi tidak ada orang yang bisa membantu, begitu pula untuk Omen karena dia sibuk menahan Suzong agar tidak ikut campur dalam pertarungan ini.


"Aku memang Asyura seperti dulu, meski pun kekuatanku jauh lebih lemah, bukan berarti aku akan kalah." Tegas jawaban Askar.


Dari perkataan itu semua pasukan yang ada di pihaknya merasa ada sesuatu kesempatan untuk dilakukan oleh Askar, karena ini belum berakhir.


"MEMANG APA YANG BISA KAU LAKUKAN."


"Mari kita lihat saja." Ucap Askar sembari tersenyum yakin.


Tapi kali ini bukanlah sebuah serangan, Askar tahu jika batas tubuhnya tidak akan mampu mengolah sedemikian besar energi dari tujuh juta orang.


Askar menyerap energi mereka dan mengeluarkan kilauan cahaya merah terang menyala ditangan, menyebar ke segala arah hingga melapisi seluruh dimensi dalam jangkauan kekuatannya.


Skill penciptaan dimensi : ingatan marmer.


Sebuah skill dimensi yang mampu mengubah wilayah seperti gambaran ingatan Askar dan itu nyata, dimensi milik Varjo tentu akan terpengaruh.


Dan nyatanya semua dalam sekejap dunia dimensi Varjo berubah, alam yang sebelumnya hijau dipenuhi hutan, jurang dan sungai, kini berganti menjadi gurun tandus disertai api yang menyala terang.


Tempat ini adalah wilayah Askar di dalam ingatan marmer, dibentuknya pula para makhluk yang sama besar untuk saling melawan ciptaan Varjo.


Tidak hanya itu, Askar mulai membentuk wujud Varjo yang sebelumnya sudah diserap oleh ruang dimensi, meski sebuah energi transparan, tapi dia secara jelas dapat dilihat kembali.


Selagi para makhluk saling bertarung, dan pasukan aliansi kerajaan suci memposisikan diri dalam zona aman, Askar tidak lagi perlu mencari dimana keberadaan Varjo yang kasat mata.


Askar bergerak cepat karena tidak mungkin dia menahan ingatan marmer sedemikian besar untuk jangka waktu yang lama, waktunya terbatas dan inti kehidupan Varjo pun sudah terlihat.

__ADS_1


Pedang perak ditangan dialirkan kekuatan energi Dewi kematian Lutos, penghancur realitas, memang benar dalam jangkauan luas, Askar masih belum mampu melakukannya.


Tapi jika jiwa Varjo sudah terkumpul menjadi satu di dalam ingatan marmer, lain lagi ceritanya, maka Askar hanya perlu menghancurkan wujud itu.


Skill kematian : penghancur realitas.


Satu tebasan pedang dari Askar, meleburkan separuh jiwa Varjo, meski mampu untuk meloloskan diri, tapi Askar tidak melepaskan begitu saja.


Askar terus mengejar, dan Varjo merasa ketakutan untuk menghadapi kekuatan itu secara langsung, dimana jiwanya benar-benar akan hilang tanpa pernah bisa di berikan tubuh kembali.


Keajaiban hidup dilepaskan, lingkaran emas meliputi jalur pelarian Varjo, dia terjebak, Askar menunjukan sorot mata penuh kebencian, haus akan pembalasan dendam yang ingin dia lunasi.


"Jangan mendekat, ini salah, kau tidak bisa membunuh penguasa ini." Jiwa Varjo mencoba membebaskan diri namun penjara keajaiban hidup sangatlah kuat.


"Apa yang salah, kau sudah banyak membuat kerusakan, kau merusak kehidupan orang-orang dari alam semesta kerajaan suci, membuang siapa pun yang kau anggap tidak berguna, dan membunuh keluargaku." Perjelas Askar untuk tindakan Varjo.


"Keluargamu, apa maksudmu, aku tidak pernah mencoba melawan kau Asyura." Pembelahan jelas diucapkan olehnya.


"Karena aku adalah orang yang menyelamatkan Silviana, dan kau memerintahkan pasukan untuk membawanya, tapi orang-orang mu telah membunuh keluargaku, dan aku disini untuk membalaskan dendam itu." Tegas jawaban Askar.


Askar tidak main-main untuk melakukannya, dia sudah menunggu hari ini, perjalanan panjang yang dirinya lakukan dari dunia asal menuju alam semesta kerajaan beladiri.


"Jadi kau adalah orang yang dikatakan oleh Sirjo." Varjo mengingat cerita panglima perangnya itu mengenai seorang lelaki yang mencoba melindungi Silviana.


"Ya harusnya memang itu adalah aku."


"Sungguh aku tidak pernah tahu, jika kau adalah Asyura."


"Lantas jika kau tahu apa itu akan mengubah tujuanmu mendapatkan Silviana ?, Tentu tidak mungkin." Askar menolak Varjo yang berusaha membela diri.


Askar tidak akan pernah bisa melupakan hari itu, meski bukan Varjo, tapi atas perintahnya dia sudah membunuh keluarga Askar yang berharga.


"Kematian terlalu baik untukmu, jadi aku putuskan untuk melakukan dengan cara lain." Ucap Askar yang di sertakan oleh ketakutan di wajah Varjo.


Pedang dewa pemangsa kematian di aliran energi kematian, dan satu buah tebasan ke jiwa Varjo.


"Skill kematian : tepian akhirat."

__ADS_1


__ADS_2