
Tapi ada satu yang aneh dari cerita Loe teu yiu, karena harusnya Davendra sudah memiliki kekuatan beberapa dewa awal penciptaan, seperti Askar saat ini.
Sehingga jika Davendra menginginkan semua kekuatan dewa awal penciptaan itu, dia hanya membutuhkan kekuatan dewa waktu yusita dan dewa bencana Mahesa.
Tapi di masa depan dirinya bisa kembali ke masa lalu maka harusnya kekuatan dewa waktu berhasil dia dapatkan, meski belum dipastikan tentang dewa bencana.
Askar harus mendengar kembali dari Davendra, dan dia pun berniat untuk pergi menemuinya, tapi bukan sekarang, karena dalam beberapa hari ini, Askar ingin menyetabilkan kekuatan.
Langkah kakinya pun membawa dia memasuki istana kerajaan suci, melihat Azela sibuk menata ruangan, ya... Walau hanya memerintahkan para pelayan, dan dia duduk santai menikmati minuman di gelas.
"Ratu Azela, bagaimana kondisi anda." Bertanya Askar selagi melihat dirinya berbaring di kursi panjang.
"Untuk sekarang aku bisa merasakan aliran energi ku, tapi mungkin kondisi yang aku alami tidak akan bisa disembuhkan." Jawabnya cukup santai meski pun ini akan sangat mempengaruhi hidup Azela dalam pertarungan.
Sisa-sisa pertarungannya melawan Varjo, jelas memaksa dia melampaui batas penggunaan kekuatan keajaiban hidup yang sangat sedikit itu.
Memang tidak berbahaya, hanya saja akibatnya adalah membuat Azela kehilangan semua kekuatan dari keajaiban hidup di dalam garis darah.
Sekarang itu tidak lagi penting, selama alam semesta kerajaan suci terbebas dan Silviana diselamatkan, mengorbankan nyawa pun Azela mau melakukannya.
"Baguslah kalau begitu." Askar tidak berharap banyak.
Di sisi lain, Silviana keluar dari dalam kamar, dimana dia terlihat malu-malu untuk sekedar bertemu dengan Askar, mencoba menunduk dan tidak seperti biasanya.
"Nona, apa ada yang salah." Bertanya Askar melihat sikap aneh dari Silviana.
Askar tidak benar-benar tahu apa yang terjadi kepada Silviana sejak pertemuan terakhir di istana naga langit, entah dia salah makan atau tidak sengaja jatuh dan membentur dinding hingga kepalanya berguncang.
Bagaimana Askar menggambarkan Silviana yang pemalu itu, dia merasa tidak nyaman, seperti melihat orang berbeda, ya meski pun kecantikan wanita ini tidak lah luntur, bahkan semakin menawan untuk Askar lihat.
Silviana berjalan mendekat dengan tatapan selalu berpaling ketika Askar mencoba menatap matanya itu.
Tapi Askar tidak membiarkan Silviana mengalihkan pandangannya begitu saja, terus mencari arah kemana dia melihat.
"Nona apa kau salah makan." Bertanya Askar.
__ADS_1
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Lantas kenapa ?." Askar tidak membiarkan Silviana lepas.
"Bukan apa-apa, hanya...." Ragu-ragu Silviana untuk bicara.
"Hanya apa nona ?." Balas Askar semakin penasaran.
"Lupakan saja." Balas Silviana menyembunyikan raut wajah merah merona itu dari pandangan Askar.
Askar memang tidak mengerti kenapa, karena dia mengenal Silviana tidak lah seperti sekarang yang merasa gadis itu sedang kebingungan.
Kebersamaan yang mereka jalani di dalam dunia imajinasi adalah hal nyata dan memang mengikat keduanya untuk suatu aliran takdir.
"Nona aku lebih suka dengan sikapmu yang biasanya." Ucap Askar dengan tersenyum.
"Aku juga tidak tahu dengan diriku sekarang." Gumam Silviana pelan.
"Kau seperti membawa beban berat, jika memang itu bisa aku bantu maka katakanlah nona." Askar jelas tidak nyaman untuk menyaksikan sikap Silviana.
Hingga seketika satu injakan keras menghantam kaki Askar dan itu cukup terasa sakit, ya bagi Askar itu adalah sebuah tanda bahwa silviana tidaklah berubah.
Hanya sebuah kondisi dimana dia tidak bisa menjelaskan apa yang sedang dialami olehnya. Askar tidak ingin membebankan pertanyaan-pertanyaan kepada Silviana, Askar beranjak kembali ke pada Azela.
"Ratu Azela, bisa kau ceritakan tentang Dewa Davendra." Bertanya Askar kembali untuk memastikan ke banyak orang mengenai hal itu.
"Kakek ?, Kenapa kau sangat tertarik dengan kakek Davendra." Balik Azela bertanya.
"Aku mendengar kabar, bahwa Dewa Davendra adalah orang yang menyerang dewa-dewa lain sebelum dirinya berubah seperti sekarang." Askar bertanya kepada Azela, dia adalah cucu dari Davendra, tentu mengetahui beberapa hal dengan sosoknya itu.
"Aku juga tidak tahu, banyak hal yang menjadi misteri dari kakek Davendra." Itu yang Azela jawab.
Entah kenapa Askar merasa jika keluarga dari Azela dan para keturunannya itu tidak tahu secara pasti tentang siapa sosok Davendra.
Termasuk bagaimana rupa dari Davendra itu sendiri, jika mereka sadar, antara Askar dan kakek buyut mereka adalah satu orang yang sama.
__ADS_1
"Tapi apa anda percaya, bahwa Davendra adalah orang yang mengendalikan para penguasa untuk menyerang para dewa, termasuk alam semesta kerajaan suci." Ucap Askar atas segala hal tentang penyerangan dua ratus ribu tahun silam.
"Itu biasa saja terjadi, karena nenek Sunawa pernah mengatakan kalau Davendra memiliki sebuah tujuan besar, meski pun dia sendiri benar-benar tidak tahu." Azela pun mengakuinya.
"Lantas kenapa sekarang Davendra berubah."
"Dia tidak berubah, hanya setelah semua itu berlalu, kakek Davendra sedang 'menunggu', menunggu sesuatu yang akan menggerakkan tujuannya." Azela memahami apa yang di katakan Sunawa dulu.
Askar tentu menganggap bahwa Davendra menunggu dirinya siap, entah untuk melawan kaisar akhir zaman, atau pun hal lain yang berhubungan dengan Askar sendiri.
Terhembus sebuah nafas berat dan panjang dari mulut Askar, kemana pun dia bertanya semua tidak menemukan titik terang, hanya berputar-putar dan kembali ke pertanyaan awal.
Yaitu ... 'apa semua yang dilakukan Davendra, adalah apa yang akan Askar lakukan juga.'
Untuk sekarang Askar menolak bahwa dia akan melakukan hal yang sama, tapi jika itu bertujuan membuka jalan menuju alam surga, apa memang kekacauan di masa lalu harus terjadi.
"Sepertinya memang aku harus bicara langsung dengan Davendra." Itu menjadi keputusan Askar sekarang.
*******
Alam awal penciptaan...
Sosok yang menjadi alasan segala kejadian masih menikmati waktu dengan duduk di kursi goyang dan seekor kucing abu-abu ada di pangkuannya.
Suasana alam yang menyajikan aroma sejuk dari hembusan angin dari Utara, mengayun lembut dan menampar dedaunan pohon-pohon di sekitar.
"Tuanku, ini akan menjadi langkah kedua anda memulai rencana untuk mengubah takdir yang tidak pernah kita harapkan." Omen mengatakan sesuatu mengenai Askar.
"Ya... Askar harus melihat bagaimana kehidupan di masa lalu yang akan membawa rahasia di balik segala sesuatu tentang jagat raya." Davendra pun menjawab meski ekspresi tanpa adanya senyuman.
Dia yang sudah menunggu jutaan tahun demi mencapai tujuan, banyak kesakitan dilaluinya, hanya sebuah harapan untuk mengubah segala kejadian dalam kehidupan ini.
"Baiklah, mari kita pergi..." Davendra pun beranjak dari kursinya.
Hanya dengan satu kibasan tangan, Davendra menciptakan sebuah gerbang dimensi yang menghubungkan dirinya ke suatu tempat.
__ADS_1