PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
Solusi


__ADS_3

Semua orang menyaksikan sendiri saat sosok Askar menapakkan kakinya di langkah ke sembilan ratus, tentu rasa tidak percaya jika anak muda baru kemarin ini memiliki potensi sangat tinggi.


Rasa iri terlihat jelas dari wajah-wajah para manusia yang hanya bisa mencemooh sedangkan tidak mau berusaha keras demi dirinya sendiri.


Sedangkan saat menyaksikan sosom Askar yang entah dari mana asal usulnya, tidak diketahui, tidak jelas, dan tidak pantas, tapi mampu melampaui diri mereka yang sudah berada di padepokan beladiri pedang semesta selama puluhan tahun.


"Bagaimana mungkin lelaki itu mampu menyamai langkah senior Resya, dan Karlina."


"Tapi yang lebih penting, siapa gadis cantik disana."


"Dia pun memiliki potensi bakat yang sama dengan kedua senior kita."


Kini ada banyak orang yang menaruh perhatian kepada Su yiu, Askar mengakui jika kecantikan gadis remaja berwajah polos namun berbanding terbalik dengan sifatnya itu, benar-benar mampu membuat sebuah kerajaan hancur.


Dan dibalik sosok Su yiu, dia adalah seorang wanita yang menjadi pembawa takdir dari dewa kematian Lutos, potensi milik Su yiu setara dengan Askar, bahkan mungkin jauh lebih tinggi lagi.


Untungnya menara puncak semesta hanya memiliki seribu anak tangga, dimana itu menujukan tentang kemampuan manusia melampaui batas lord.


Seorang Loe Teu Yiu, sang penguasa pedang sendiri berakhir di langkah ke 999, dia tidak mampu menapaki satu langkah terakhir untuk menujukan potensi menjadi setingkat Dewa.


"Aku akan tunjukan kepadamu Askar, kalau potensi yang kau miliki tidak lebih sekedar pelayan." Keras ucapan Resya saat mulai menapaki langkah ke 901.


"Baiklah, aku akan melihatnya, apa yang kau katakan adalah benar, atau menjadi gurauan belaka." Jawab Askar dengan santai.


Efek yang dirasakan oleh setiap orang saat memasuki seratus langkah terakhir sangat kuat, tekanan energi membuat siapa saja gemetar.


Mulai dari sini, ujian bagi mereka berempat dirasakan cukup berat, energi yang dikeluarkan oleh menara puncak semesta memasuki tubuh, dan mengguncang inti kehidupan.


Baik Karlina dan juga Resya, keduanya tahu jika batasan untuk keduanya adalah di langkah 950 an, lebih dari itu menara puncak semesta menolak kehadiran mereka.


"Jika kau merasa tidak mampu, jangan paksakan diri, itu tidak baik bagi kesehatan." Askar memberi sedikit perhatian.


"Tidak perlu kau memikirkan urusanku, gunakan saja kesempatan ini untuk mencari kata-kata yang tepat saat kau harus meminta maaf." Resya jelas tidak mau kalah, tidak... Dia tidak bisa kalah dengan Askar.


"Hmmm, aku rasa itu tidak perlu." Jawab Askar.

__ADS_1


Askar bisa menyaksikan sendiri dengan zona persepsi, saat di dalam tubuh Resya bertarung melawan energi yang menekan dirinya untuk jatuh.


Sedangkan untuk Askar sendiri, sampai saat ini dia tidak merasakan efek samping dari menara puncak semesta yang berlebihan, selain rasa geli dan sedikit kram.


Dia tidak berniat menyusul Karlina atau pun Resya, biar mereka sendiri berhenti dan Askar barulah melangkah maju.


Keringat sebiji jagung, kaki gemetar kesemutan, dan mulai dirasakan mati rasa di setiap langkah semakin jauh.


Memang tidak berakibat fatal yang mempengaruhi kekuatan mereka, tapi dengan kacaunya aliran energi ini, kesadaran Karlina dan Resya mulai pudar.


Tanpa di sadari, Resya jatuh dilangkah ke 956, harusnya ini menjadi batas akhir dari penilaian potensi bakat dalam tubuhnya.


Askar tetap berdiri dibelakang Resya, melihatnya sangat lelah, seluruh tubuh tidak mampu di gerakan, kecuali jika dia mengakhiri langkah dan turun.


"Akui saja jika ini adalah batasanmu." Ucap Askar.


"Tidak, aku tidak boleh kalah." Tegasnya menguatkan tekad.


Resya berdiri, walau gemetar dikaki yang tidak bisa berhenti, memejamkan mata dan berkonsentrasi penuh, saat itu juga ledakan energi besar muncul dari dalam tubuh.


Resya bertarung dengan penolakan menara puncak semesta, menahan rasa sakit yang hampir membuat dirinya jatuh.


Tapi tetap kuat tekad untuk berjalan lebih jauh, ini yang dimaksud dengan kerja keras mampu meningkatkan potensi dalam tubuh.


"Aku pasti mampu." Kuat tekad dengan energi besar mengalir.


Saat keyakinan dalam langkah selanjutnya Resya ambil, energi luar biasa besar meledak dan melemparkan tubuhnya jatuh dari pijakan.


Secara refleks Askar menangkap pergelangan tangan Resya, menarik tubuhnya dalam pelukan, agar tidak membuat kepalanya terbentur lantai.


Ini bukan tentang rasa kasihan kepada Resya, tapi sangat di sayangkan jika ada luka lecet di wajah yang nantinya akan menemani Askar.


"Aku tidak butuh bantuanmu." Ucap Resya di ambang batas kesadarannya.


"Iya, iya, aku tahu kau akan berkata seperti itu, jadi menyerahlah." Balas Askar dan mengalirkan energi membuat Resya pingsan.

__ADS_1


Askar meletakan Resya dibawah, dan melanjutkan langkahnya kembali mendekati Karlina yang tidak jauh di atas Askar.


Karlina menyaksikan sendiri apa yang Askar perbuat, dia merasa aneh dan tidak menyangka jika Askar mau melindungi Resya.


"Aku tidak berpikir kau akan menyelamatkan seseorang yang akan membuatmu malu, Askar." Ucap Karlina.


"Bukan hal khusus, aku hanya tidak ingin melihat adanya luka dibawah wanita yang akan melayaniku." Santai Askar menjawab.


"Yang lebih penting, aku merasa jika kau tidak merasakan efek dari menara ini." Balas Karlina sembari memperhatikan Askar.


"Mungkin hanya perasaan anda saja senior Lina, lihat ini keringatku bercucuran."tunjuk Askar ke arah dahinya sendiri.


Tapi apa yang Askar tunjukan tidak lebih satu tetes air dan tidak tampak jika Askar kelelahan.


"Aku tidak menganggap jika itu adalah keringat." Balas Karlina dengan tersenyum lemas.


"Kalau begitu apa ?, air ke*ncing burung yang tidak sengaja jatuh di kepalaku." Asal saja Askar menjawabnya.


"Hei, disini seekor burung jauh lebih besar dari rumah, jika itu air ke*ncingnya, sudah pasti tubuhmu basah." Karlina merasa dibodohi oleh Askar.


"Terserah saja anda anggap ini apa, yang lebih aku khawatir adalah kondisi anda senior Lina." Askar melihat jika Karlina sudah mencapai batas.


Biar pun saat ini dia sudah mencapai langkah 990 dan itu melampaui batas sebelumnya, akan tetapi dia sendiri menyadari jika tidak mungkin melangkah lebih jauh.


"Itu benar, aku tidak mampu lagi berjalan." Dia tidak menyangal ucapan Askar.


"Kalau begitu menyerah saja." Ucap Askar atas pilihan yang tepat.


"Tapi..." ragu-ragu untuk Karlina menjawab.


"Kau menginginkan uang itu demi adik-adikmu." Askar bisa menebak isi pikiran Karlina.


Askar sadar dia melakukan taruhan ini demi uang itu dan juga adik-adiknya, tentu Askar paham atas kondisi Karlina.


"Baiklah, bagaimana jika aku berikan uang itu kepadamu, dan kau tetap melayaniku seperti perjanjiannya." Askar memberikan satu solusi.

__ADS_1


Bagaimana pun juga Askar bukan orang yang jahat, setidaknya dia masih memiliki sedikit hati jika Karlina ingin menggunakan koin itu demi keluarganya.


__ADS_2