PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
Di aduk perasaan


__ADS_3

Bagi siapa pun orang melihat, dia hanya seekor kucing belang-belang putih oren, gemuk dan berekor panjang, tapi di dalam tubuhnya bukan sekedar makhluk biasa.


Disana terdapat seekor binatang dewa, salah satu peliharaan sang Dewi Sunawa dan kekuatan yang hampir menyamai para dewa awal penciptaan lain.


Tapi Askar tidak menginginkan hal ini, dimana Asy harus menjadi korban untuk kekuatan lain yang bukan dari Omen itu sendiri.


Hanya kekuatan keajaiban hidup di tahap sempurna saja yang mampu memisahkan jiwa Asy dari Sphinx, sedangkan Askar, separuh pencapaian pun tidak.


Ini mustahil, sangat mustahil dilakukan olehnya sekarang, hanya ada dua pilihan untuk Askar, dia meningkatkan pemahaman tentang kekuatan keajaiban hidup, atau membawanya kepada orang yang sudah mencapai tahap kesempurnaan.


Kedua pilihan ini sangat sulit, paling tidak untuk mempelajari keajaiban hidup memerlukan waktu lama, ketimbang, harus bertarung melawan varjo demi meminta bantuan Silviana.


"Tidak perlu khawatir, aku ada disini." Saut suara seorang lelaki dimana kemunculannya tidak dirasakan oleh Askar.


Secara tiba-tiba sosok manusia tanpa bisa Askar lihat wajahnya, berjalan maju mendekati Askar, zona persepsi tidak bisa melihat apa pun, tapi tidak pula Askar rasakan niat jahat darinya.


Askar merasa cukup akrab, karena dia pernah menyaksikan kejadian yang sama dimana zona persepsi tidak berpengaruh terhadap lelaki satu ini.


Balai lelang kota Sourina, ya... Dia satu orang yang sama dengan lelaki itu, dimana Askar mendapat bantuan besar darinya berupa bunga Queen Anemoe kristal dan koin kristal ungu sebanyak dua juta tujuh ratus ribu.


"Anda itu...." Ucap Askar.


Tapi seketika tangan lelaki yang misterius ini diangkat sebagai tanda untuk Askar tetap diam, terlebih senyum dibalik penutup kepalanya, jelas bermakna sama.


"Tenang saja, aku bisa melakukannya, jadi jangan khawatir, Askar." Jawab oleh dia merasa tahu apa yang Askar ucapkan.


Omen yang nyatanya adalah sosok Sphinx merasa binggung, jelas ada satu Keanehan ketika dia melihat lelaki misterius itu datang.


"Kenapa aku merasakan aura dewa Asyura di kalian berdua." Berkata Sphinx atas apa yang dia lihat.


Kemampuan mata Sphinx cukup mampu untuk melihat segala sesuatu yang tersembunyi di dalam rahasia seseorang.


Tentang kemunculan dua aura yang sama, tentu menjadi kejutan luar biasa, dan tidak pernah ada dalam siklus kehidupan para dewa awal penciptaan.


"Tidak perlu kau merasa heran Sphinx, karena jika kau bertanya, aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya." Balas lelaki itu yang menujukan senyuman tidak wajar.


"Ini mustahil, kekuatan dewa memang bisa di turunkan, hanya saja, hanya satu orang untuk memilikinya secara utuh, tapi kalian adalah satu kekuatan yang sama." Sphinx tidak mampu memahami.

__ADS_1


Tapi dari itu Askar bisa memahami, jika orang yang dia lihat sekarang, dengan dia di tempat balai lelang, adalah satu orang yang sama, sama pula dengan orang yang menjadi pokok permasalahan di segala macam lika-liku kehidupannya selama ini.


Dewa penciptaan, Davendra.


Askar tetap diam, dia tahu jawabannya, dan tidak ingin mengatakan apa pun, entah kenapa dianggapnya sebagai sebuah rahasia, dan tidak menyenangkan ketika itu terungkap.


"Baiklah biar aku mulai." Tanpa menunggu, tanpa basa basi pula.


Setitik cahaya muncul di atas telapak tangan sosok Davendra, ketika dua tangan menepuk, sepintas segel prasasti keemasan terbentuk dibawah kaki.


Tangan-tangan bercahaya muncul, dan cepat masuk ke tubuh Omen, Davendra mencoba menarik jiwa Asy seakan mengacak-acak secara paksa.


Terlihat Omen kaku diam, dengan mulut menganga lebar penuh kesakitan, tidak terbayang seberapa menderita dia ketika tangan mengaduk-aduk jiwanya, bahkan terlihat lebih menyakitkan dari pada di aduk perasaan.


"Ok sepertinya ini." Ucap Davendra yang menarik satu jiwa dan dilemparkan ke tubuh Asy.


"Sepertinya ? Kenapa itu terdengar meragukan." Balas Askar yang merasa aneh.


"Kita lihat saja dulu." Santai saja Davendra menjawab.


Saat itu juga, mata Asy terbuka lebar, perlahan merangkak dengan dua kaki, dan mengeluarkan suara erangan keras.


"Aku tidak tahu jika binatang iblis dari sunda pun ada di alam semesta atas." Gumam Askar yang tersenyum lemas.


"Maaf sepertinya salah." Balas Davendra tanpa menujukan rasa bersalah.


Tangan cahaya masuk kembali ke tubuh Asy, menarik jiwanya lagi untuk di gantikan dengan jiwa yang lain.


Hanya saja, kali ini mendesis, merayap di atas tanah, lidah menjulur dan tentunya itu juga bukan jiwa Asy, melainkan binatang iblis tipe ular.


"Sekarang siluman ular." Lemas Askar melihat gaya merayap dari Asy.


"Aku akan coba lagi." Davendra kembali menarik dan memasukan jiwa lain yang dia ambil dari tubuh Omen.


Asy tidak bergerak, tubuhnya diam dengan mulut megap-megap seperti kehabisan nafas, Askar menggeleng tidak jelas.


"Sekarang ikan, memang apa saja yang di masukan kedalam jiwa Sphinx itu, jangan-jangan binatang keong juga ada." Askar kesal sendiri melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


"Ini terlalu banyak, aku tidak bisa menemukan jiwa Phoenix begitu saja." Balas Davendra yang memang mengakui kesulitan untuk memilih satu jiwa diantara ribuan.


Dan untuk percobaan yang entah berapa kali Askar lupa menghitungnya.


Asy bangkit dengan wajah lemas, matanya sayu, dan duduk dilantai dalam diam, Askar cukup lega, karena sekarang Asy, tidak meraung, mendesis, megap-megap atau pun mengeong.


Hanya saja untuk jiwa ini, Asy seketika menangis tersedu-sedu, memukul lantai dengan tangan dan menatap ke arah Askar penuh kesedihan.


"Anakku, dimana anakku, kau pasti yang telah mengambil anakku." Itu yang Asy ucapkan, sambil mencekik leher Askar.


"Sekarang apa lagi." Askar benar-benar bingung, dia tidak tahu jiwa apa yang masuk ke dalam tubuh Asy.


"Sepertinya ini adalah jiwa seorang janda yang kehilangan anaknya dan mati mengenaskan saat tahu bahwa suaminya lah yang telah membunuhnya." Ucap Davendra seakan berpikir.


"Kenapa kau bisa tahu sampai sedetail itu." Berteriak Askar sembari menyingkirkan tangan Asy.


"Intuisi lelaki ?." Singkat saja dia menjawab.


"Bodohnya aku bertanya kepadamu." Semakin lemas Askar ketika harus memikirkan Davendra.


Askar semakin bingung, bahkan untuk hal lain... "Sejak kapan mereka mengambil jiwa manusia untuk hal ini."


"Entahlah, mungkin tersangkut secara tidak sengaja."


Tidak ada yang berhasil, setiap kali Davendra mencoba, itu hanya menjadi kegagalan, Askar tentu tidak ingin membawa pulang Asy sebagai orang lain.


Terlebih lagi, dia menangis sembari mencekik lehernya untuk bertanya tentang anak yang jiwa itu cari-cari.


"Apa tidak ada cara lain." Bertanya Askar.


"Ada, tapi kau harus memasuki jiwa Sphinx untuk mengambil jiwa Asy." Balas Davendra atas solusi lain.


"Kalau begitu, biar aku lakukan." Tegas Askar menyanggupi.


"Tapi aku ingatkan satu hal Askar, jika kau masuk kedalam ruang jiwa Sphinx, bagiamana pun caranya kau harus keluar." Davendra memberi peringatan.


"Aku akan berusaha."

__ADS_1


"Jika tidak, maka kau akan tersangkut didalamnya, dan kau tentu tidak ingin, tubuhmu dirasuki oleh jiwa monyet bukan." Davendra menggambarkan konsekuensi.


"Aku tahu itu." Askar menjawab atas keyakinannya.


__ADS_2