PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
drama


__ADS_3

Kota Sourina, planet hijau di alam semesta api mulia.


Setelah bahtera angkasa terparkir ke lokasi yang ditentukan oleh para penjaga, tapi melihat lambang alam semesta kerajaan bawah dibadan bahtera, memang menjadi kehadiran khusus dengan perhatian lebih.


Terlebih lagi alam semesta kerajaan bawah adalah salah satu dari pemegang kasta tertinggi di jagat raya, tentu tidak ada yang akan meragukan jika Askar dianggap sebagai pencuri bahtera dan dia gunakan ke tempat ini.


Tidak jauh dari tempat bahtera berhenti, Askar di suguhkan pemandangan kota ramai yang dipenuhi berbagai makhluk berbeda ras.


Tempat ini sangat ramai di kunjungi oleh orang-orang dari luar alam semesta api mulia, karena itu kota Sourina menjadi pusat perdagangan segala macam benda yang cukup terkenal dan populer.


Alam semesta dunia beku dan api mulia, keduanya memang memiliki sumber kekayaan alam sangat besar, dari energi yang melimpah, hingga mineral untuk dijadikan bahan-bahan pembentuk senjata hingga ramuan khusus.


Semua benda berharga itu berasal planet merah yang menjadi tempat orang-orang dari keturunan binatang mistik unsur api, termasuk lambang burung merah di sebuah senjata adalah ciri khas tempa milik klan Phoenix merah.


Tapi sekarang tujuan Askar bukan untuk berbelanja, seperti yang di rencanakan oleh Askar agar mencari tempat penginapan dari kawan kakek loe teu yiu.


Paling tidak Askar merasa aman jika harus meninggalkan Rea sendirian, terlebih ada Omen yang bersiap dalam segala situasi untuk keselamatan Rea.


"Kakek apa ini memang jalannya." Ucap Askar yang mengikuti langkah kaki kakek loe teu yiu, membawa mereka ke pinggiran kota Sourina.


"Harusnya begitu."


"Harusnya ?, Memang sudah berapa lama kakek tidak datang kemari."


"Itu belum lama."


"Ya tapi kapan ?."


"Sekitar seribu tahun yang lalu."


"Bagiku seribu tahun itu bisa membuat seekor kucing berevolusi dan mampu untuk terbang." Lemas Askar membalas perkataan kakek loe teu yiu.


Karena terlalu bingung untuk mencari lokasi penginapan, kakek loe teu yiu berjalan mendekati seorang lelaki rua pedagang yang membawa berbagai botol minum.


"Pak tua bisa aku bertanya." Ucap kakek loe teu yiu.


"Itu tergantung tuan, jika anda bertanya tentang harga satu botol arak maka aku pasti akan menjawabnya." Santai saja balasan pedagang yang sama-sama tuanya itu.


Sungguh sebuah jawaban yang memiliki makna lain agar mereka berani membayar untuk sekedar bertanya.


"Apa kau tidak tahu siapa aku." Tegas ucapan kakek loe teu yiu dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Tuan, aku tidak perduli kau itu siapa, walau kau adalah seorang lord yang menguasai sebuah alam semesta, atau pun seorang pengemis yang berlagak sombong dihadapan ku, jika kau ingin bertanya maka beli satu botol arak ini." Balas si penjual atas ucapan kakek loe teu yiu dengan suara tinggi pula.


Ini memang menjadi sistem yang berlaku di alam semesta mana pun, jika mereka menginginkan sebuah pelayanan, maka semua tergantung bagaimana mereka akan membayar.


Tapi seketika tubuh kakek loe teu yiu berbalik, dan mengarahkan pandangan kepada Askar, mengulurkan tangan dengan arti untuk meminta uang agar bisa membeli informasi dari penjual minuman itu.


"Aku tidak memiliki uang receh." Ucap Askar dengan menggeleng kepala.


"Dah terserah kau mau memberikan apa, yang penting bisa membungkam mulut pedagang itu." Balas Kakek loe teu yiu jelas merasa tersinggung dengan cara bicara si pedagang.


"Baiklah." Tanpa ragu Askar pun mengeluarkan sebuah koin kristal yang diberikan oleh Nanda sejak di kerajaan Loyi.


Mata kakek loe teu yiu terbuka lebar, dia jelas tahu seberapa besar nilai koin kristal yang menjadi mata uang di seluruh jagat raya.


Dengan senyum penuh semangat, kakek loe teu yiu meletakan koin kristal diatas meja di sertai sebuah gebrakan meja yang keras.


"Aku beli semua botolmu, dan katakan tempat penginapan yang bernama Domalana."


"Tempat itu kini sudah dihancurkan, sejak seratus tahun lalu."


"Kalau begitu, dimana aku bisa bertemu dengan Salora."


Memang sedikit penyesalan karena pengimaman Domalana tidak lagi berdiri, tapi kawan kakek loe teu yiu, Salora kemungkinan besar mau membantu mereka untuk sekedar menitipkan Rea dalam beberapa hari.


Tentu Askar tidak memaksa, tapi jika harus membayar, Askar pun tidak akan menolak, karena jelas dia adalah kawan dari kakek loe teu yiu dan keselamatan Rea pasti terjamin.


Rumah sederhana yang tidak besar, dan memang semua terbilang biasa saja di tujukan oleh pedagang minuman yang membawa Askar untuk bertemu dengan Salora.


"Salora ada didalam, silakan masuk." Tentu Askar menerima ajakan pedagang itu dengan mudah.


Sedangkan sedikit hati dia bertanya-tanya, hubungan seperti apa antara pedagang minuman arak ini dan Salora.


"Sayang ada yang ingin bertemu denganmu." Teriak pedagang itu secara lantang.


"Maaf, tapi siapa kau itu." Yang bertanya demikian adalah kakek loe teu yiu sendiri.


Secara sadar, tidak ada yang memanggil seseorang dengan nada suara seperti itu tanpa alasan, terlebih lagi dia cukup santai memasuki rumah Salora.


"Aku ?, Aku suami Salora." Sebuah jawaban yang memang tidak mengejutkan, tapi ekspresi syok jelas terlihat diwajah kakek loe teu yiu.


Sesosok wanita setengah tua keluar dari balik pintu, dimana secara tiba-tiba teko yang wanita itu bawa jatuh, karena melihat kakek loe teu yiu dihadapannya.

__ADS_1


Tapi dengan cepat Salora yang menampakan diri segera masuk kembali ke dalam ruangan.


"Apa ... apa yang terjadi." Ucap si pedagang itu karena terkejut melihat tekonya pecah.


Askar binggung, suami Salora pun ikut bingung, bahkan Omen tidak pernah perduli pun sama-sama bingung, dimana semua orang melihat kakek loe teu yiu mengejar Salora yang bersembunyi dibalik pintu ruangan.


"Salora ini aku, Teu."


"Kenapa kau kembali sekarang."


"Maafkan aku Salora."


"Sudah ratusan tahun aku menunggu, dan kau tidak kunjung kembali... Aku yang sekarang sudah hidup bahagia, dan kau datang, apa yang sebenarnya kau inginkan."


"Saat itu aku harus pergi, maafkan aku, aku salah, seharusnya aku lebih tegas untuk membawamu dari orang tuamu, tapi semua sudah terlambat." Balas kakek loe teu yiu dengan suara lemas dan penuh penyesalan.


Askar tidak tahu apa yang terjadi dia seperti melihat adegan sandiwara dalam kisah percintaan saat lelaki tidak direstui oleh orang tua mereka, dan ketika kembali semuanya kini tinggal kenangan.


"Anu.... maaf, aku disini bukan untuk menyaksikan drama kisah cinta seorang wanita yang ditinggalkan kekasih merantau dan pulang-pulang sudah bersuami." Berkata Askar yang merasa tidak nyaman ketika melihat adegan mereka berdua.


(note : Daftar alam semesta atas yang baru di ketahui.


- Alam semesta keabadian.


- Alam semesta samudera bintang.


- Alam semesta penguasa naga.


- Alam semesta pedang tanpa tanding.


- Alam semesta kerajaan beladiri.


- Alam semesta dunia beku dan api mulia.


- Alam semesta kerajaan suci.


- Alam semesta awal penciptaan.


- Alam semesta dunia gelap.


- Alam semesta kerajaan bawah.)

__ADS_1


__ADS_2