PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
Keputusasaan taring malam


__ADS_3

Omen sekuat tenaga berlari mengejar dengan kecepatan maksimum, walau sedikit tertinggal, tapi penciuman kucing belang Oren putih itu cukup handal untuk mengikuti kemana arah mereka membawa Asy.


"Gila, apa mereka tidak bisa menungguku, empat kakiku sampai kram mengejar kecepatan lari mereka." Gumam Omen dengan kesal.


Jelas perbedaan kekuatan antara Omen dan beberapa orang berjubah putih yang membawa Asy terlampau jauh, jika bukan karena penciuman tajamnya, tentu Omen sudah kehilangan jejak.


Tapi Omen sudah mengirimkan sinyal penghubung, dimana Askar pun sedang dalam perjalanan untuk mengikuti arah dirinya pergi dan itu sangat jauh.


Melewati barisan pegunungan, dua sungai, satu lembah, Padang rumput luas dan tibalah di sebuah gurun berbatu yang memiliki sebuah gua.


Secara khusus Omen merasakan aroma dari Asy mengarah masuk ke mulut gua, hanya saja, Omen tidak ingin mengambil resiko, karena dia tahu, sekali pun bersembunyi, kehadirannya bisa diketahui dari dekat.


Apa lagi melawan, itu adalah hal paling mustahil untuk Omen lakukan, di mata mereka, dia tidak lebih seperti seekor kucing rumahan yang tidak berarti.


Memperhatikan sekitar, semua yang Omen lihat hanya Padang pasir dan bukit-bukit kecil berbatu, orang-orang itu memasuki gua hingga aura keberadaannya lenyap.


Kucing itu jelas mengkhawatirkan kondisi Asy, dia tidak ingin terjadi apa pun kepada salah satu wanita tuannya, terlebih lagi, tingkat kekuatan orang-orang itu adalah seorang lord alam setengah saint.


"Tuan... Cepatlah kau datang." Ucap Omen yang bersembunyi dibalik batu.


Di sisi lain....


Empat orang yang membawa Asy dengan jelas merasakan kehadiran dari sosok lain bersembunyi, tapi tidak ada rasa khawatir jika itu menganggu rencana mereka.


Karena jelas aura kekuatan dari sosok yang sudah mereka ketahui saat membawa jiwa Phoenix, hanya tingkat lemah, bahkan tidak jadi masalah apa pun kalau mereka harus bertarung.


"Apa yang akan kita lakukan dengan binatang itu, shinro." Berkata salah seorang dari mereka berempat.


"Tak perlu kau pikirkan, apa yang bisa di harapkan oleh seekor binatang kecil berkekuatan lord yang nyata, bahkan tikus gurun kekuatannya jauh lebih kuat." Balas sosok Shinro dengan santai saja.


"Mungkin kau benar, tapi bagaimana jika dia memberitahu lokasi ini." Balas orang itu lagi.

__ADS_1


"Itu ada benarnya juga, baiklah, kau pergi dan tangkap dia, Aryon." Perintah Shinro.


Hanya dia seorang yang dengan sigap pergi untuk menangkap Omen, dimana diketahui olehnya, jika kucing belang Oren putih itu bersembunyi diluar gua, dibalik batu.


Bagi mereka hanya ada dua orang yang dikhawatirkan akan menjadi masalah, sang penguasa pedang dan pangeran Phoenix, soal Askar atau yang lainnya, empat orang itu menganggap bahwa dia adalah lawan mudah.


Kedatangan kucing itu bersama dengan Loe Teu Yiu, menjadi pertanda akan hubungan kerja sama antara Askar dan penguasa pedang.


Akan sangat berbahaya jika Loe Teu Yiu ambil bagian dalam pertarungan ini, karena itu, agar si kucing tidak menunjukan lokasi mereka, dia harus ditangkap.


"Puss kau dimana, paman bawakan ikan asin." Saut Aryon memanggil Omen.


Sayangnya Omen memiliki harga diri tinggi, hanya sekedar ikan asin dia tentu tidak akan terpancing begitu saja, apa lagi dari tangan musuh.


Tapi orang yang sudah mengetahui kehadiran Omen jelas tahu jika dia sedang bersembunyi, hanya seekor binatang berkekuatan lord yang nyata.


Tidak ada kewaspadaan apa pun, jika diserang olehnya, tapi Omen memiliki kecerdasan yang cukup handal dalam melakukan bermacam metode bertarung.


Dengan skill khusus berupa ilusi nyata, kemampuan Omen berpengaruh terhadap siapa pun orang yang berada dalam ruang lingkup jangkauan serangannya.


Termasuk satu orang yang kini berjalan mendekat ke tempat Omen bersembunyi, secara mengejutkan ada sembilan ekor kucing muncul, dimana masing-masing dari mereka berlari mendekat.


Biar pun tidak akan berdampak besar untuk penyerangan, tapi ini akan membuat repot orang yang berniat menangkap dirinya dalam waktu lama.


Sembilan wujud Omen dari gambaran sembilan nyawa berlari cepat menuju satu orang itu, lompatan dengan cakar tajam mengarah langsung secara bersamaan.


"Oh jadi kamu ingin bermain-main dengan ku rupanya." Ucap orang bernama Aryon itu yang tersenyum cerah.


Bagi dirinya Omen bukanlah sebuah ancaman, bahkan jika dirinya ada sembilan ekor, semua itu dia hindari seakan sebuah permainan belaka.


"Sial, di duniaku, aku termasuk salah satu makhluk terkuat yang ditakuti oleh dua belas ras, tapi disini.... Aku seperti sedang dipermainkan." Omen merasa kesal sendiri atas perlakuan orang-orang dari alam semesta atas.

__ADS_1


Seakan menujukan wajah bahagia karena bermain dengan sembilan ekor kucing, Aryon tertawa-tawa, menghindar dan menangkap bayangan omen.


"Aku tidak benci kepada seekor kucing, bahkan aku merasa senang karena bisa bermain denganmu." Ucapnya sambil menikmati setiap serangan.


"Benarkah, kalau begitu apa kau masih menikmatinya kalau ini...." Berkata Omen yang jelas berniat mengeluarkan skill lain.


Skill takdir : keputusasaan taring malam.


Seketika dalam pandangan mata Aryon menjadi gelap, terlihat jika dia pun kebingungan atas apa yang terjadi, karena dia tidak tahu apa pun dengan kekuatan dari omen.


Sesosok bayangan muncul dari balik kegelapan, itu adalah chimera, bertubuh singa, berekor ular, bersayap burung dan dua kepala, kambing dan singa.


Tanpa keraguan, sosok makhluk yang dikenal sebagai chimera datang menyerang Aryon dengan cakar tajam dan tepat bersarang ditubuh, walau mampu dia hindari.


Rasa sakit jelas nyata untuknya, walau itu sebenarnya hanya sebuah ilusi, namun segala kesakitan didalam skill takdir keputusasaan taring malam adalah nyata.


Tidak hanya itu, sosok chimera pun terus menyerang secara membabi buta tanpa ragu, walau bagi Aryon semua tampak mudah.


"Oh sepertinya ini sudah berbeda cerita." Ditujukan tatapan serius kepada chimera dihadapannya.


Lantas muncul Kilauan kuning menyala dan dia tepuk kedua tangan hingga terjadi ledakkan yang melenyapkan kegelapan di sekitar.


Semua kembali menjadi normal dan Aryon pun terbebas dari skill ilusi yang Omen gunakan.


Omen tidak mengharap lebih dari sekedar mengulur waktu hingga tuan Askar datang, dan itu sedikit terlambat, dimana skill yang dia gunakan hancur oleh satu kekuatan saja.


"Apa kau masih mau bermain-main kucing manis." Ucap Aryon atas tindakan yang Omen lakukan.


"Aku ini kucing jantan, jangan panggil aku dengan manis." Teriak Omen yang mempermasalahkan tentang panggilan.


"Aku baru tahu jika seekor kucing pun biaa tersinggung." Balasnya dengan tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Tentu saja, karena aku memiliki harga diri." Ucap Omen yang mengalirkan energi besar kedalam tubuh.


Tapi dari itu Omen tidak ragu mengeluarkan kekuatan yang dia sembunyikan, perubahan wujud nyata sebagai seorang chimera.


__ADS_2