
Memang tidak ada hasil pengujian yang otentik mengenai seni pernafasan berguna untuk memperkuat inti kehidupan, tapi Askar bisa merasakan sendiri atas perbedaan jelas ketika dia berhasil mencapai tahap kesempurnaan.
Saat peradaban kerajaan Tiongkok kuno muncul, mereka tidak hanya mengembangkan diri dalam ilmu beladiri, ilmu pengetahuan, ilmu medis, atau pun ilmu Feng shui, tapi juga ilmu mengolah pernafasan yang nyatanya mampu memberikan dampak positif bagi tubuh.
Seni mengolah pernafasan awalnya hanya berguna untuk memperkuat tubuh dan ketenangan jiwa, sedikit demi sedikit manusia memahami potensi lain yang terdapat dalam seni pernafasan.
Berawal dari melepaskan energi yang diolah dalam pernafasan melalui pori-pori kulit, semua berkembang ketika pemahaman mereka semakin bertambah.
Terdapat puluhan jurus yang berhasil diciptakan, dan semua itu murni menggunakan pernafasan tanpa bantuan kekuatan energi.
Kemajuan peradaban manusia di kerajaan Tiongkok kuno sangatlah maju, bahkan bisa dikatakan mampu melampaui peradaban bangsa Mesopotamia dan Romawi, hingga mampu menguasai daratan Asia tengah hingga Selatan.
Dalam jalur perdagangan yang mengarah ke peradaban Nusantara, seni beladiri pernafasan pun mulai menyebar ke kerajaan-kerajaan kuno, dan itu menjadi awal perkembangan seni beladiri pernafasan di Nusantara.
Tapi Askar pun memahami jika manfaat lain dalam seni beladiri pernafasan akan memperkuat inti kehidupan manusia, karena itu Askar percaya jika latihan pernafasan adalah cara yang sesuai untuk mengatasi masalah Sina.
"Baiklah grandmaster Laila, aku harus pergi bertemu dengan si tua gila." Berkata Askar yang memberi hormat untuk segera berjalan menuju ruang istirahat dari si tua gila.
"Ah iya aku mengerti...." Jawab Laila yang jelas mengikuti Askar dari belakang.
Askar tidak mempermasalahkan tentang tujuan Grandmaster Laila yang mengikuti dirinya ke tempat si tua gila, hanya saja diingat kembali tentang seberapa besar kebencian Laila terhadap mantan gurunya itu, lebih seperti melihat seonggok kotoran yang bisa berbicara.
"Jadi grandmaster Laila kenapa kau mengikutiku." Bertanya Askar karena dia merasa aneh atas tindakan yang cukup bertentangan dengan pribadi Laila sendiri.
"Tidak usah kau pikirkan Askar, anggap saja aku tidak ada." Ucap grandmaster Laila dengan maksud tertentu.
"Itu benar, lanjutkan saja, lanjutkan." Grandmaster Jilu pun ikut menanggapi perkataan Askar.
Terlebih lagi dengan grandmaster Jilu yang jelas-jelas mengikuti Askar, sama seperti Laila. Dimana mereka seketika tertarik untuk membahas seni beladiri pernafasan karena alasan yang sama, mampu meningkatkan kemampuan inti kehidupan.
Jelas bagi kedua saint suci tahap akhir yang merasa sudah mencapai batas pertumbuhan kekuatan energi, mendengar jika seni beladiri pernafasan memberikan kesempatan untuk mereka berhasil melampaui saint suci, tentu menjadi alasan bagi keduanya.
"Ya aku sih tidak masalah, tapi..." Jawab Askar dengan ragu-ragu.
"Sudahlah, sudahlah..."
Askar pun mencoba tidak memikirkan tentang tujuan kedua grandmaster ini dan kembali berjalan, membiarkan mereka melakukan apa yang diinginkan.
__ADS_1
Itu memang jelas, jika seseorang dari manusia ingin melampaui batas saint suci tahap akhir adalah menemukan pengungkit yang sesuai untuk membawa ke batas seorang lord.
Dan seni beladiri pernafasan mungkin menjadi faktor penentu bagi seorang lord, biar pun hasilnya tidak lebih dari 10% untuk mencapai keberhasilan, tapi kedua grandmaster benar-benar menginginkan itu tercapai.
"Pak tua gila, apa kau ada didalam." Satu ketukan pintu di ruang kamar si tua gila.
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit ...
Tetap tidak ada jawaban, beruang kali di ketuk, berlama-lama menunggu tapi tetap si tua gila tidak menjawab panggilan Askar.
"Pak tua gila, apa sedang apa kau didalam..." Semakin kencang Askar mengetuk pintu.
Masih tidak ada jawaban.
"Oi... Apa kau baik-baik saja." Mengarah pandangan ke pada grandmaster... "Cepat telpon ambulance, kantor polisi, pemadam kebakaran, atau pembuat batu nisan."
"Baiklah, nomornya." Grandmaster Jilu yang ikut panik pun segera mengambil ponsel.
"Dari mana saja kau grandmaster tua gila." Ucap Askar dengan kesal.
Sudah cukup lama Askar menunggu dan tidak ada panggilan apa pun setelah sekian kali mengetuk pintu.
"Toilet." Singkat saja si tua gila menjawab.
"Aku pikir kau sedang pingsan di dalam kamar, sampai-sampai tidak mendengar panggilanku." Berkata Askar yang memang kesal karena sikap orang tua satu ini.
"Ya kau tidak bilang akan datang, jadi aku sedang sibuk di toilet tadi."
"Baiklah, baiklah." Askar mencoba bersabar untuk menanggapi perkataan si tua gila.
Tapi pandangan grandmaster tua gila mengarah ke Laila dan Jilu, selintas senyum yang aneh nampak di wajahnya, karena jarang sekali dua orang itu datang berkunjung.
"Mari kita masuk dulu, Askar, Sina, Laila dan botak." Saut guru tua gila yang mempersilakan semua orang untuk masuk.
__ADS_1
"Setidaknya panggil aku dengan nama yang sesuai." Grandmaster Jilu cukup sengit dengan cara si tua gila memanggilnya.
"Jangan pikirkan, itu hanya cara yang tepat untuk mengakrabkan diri." Tapi guru tua gila membalas jawaban Jilu dengan tawa.
"Entah kenapa aku tidak sudi akrab-akrab denganmu." Jelas Jilu menolak untuk mengakui bahwa saat ini dia yang ingin bertemu dengan si tua gila.
Tidak banyak barang-barang di ruangan si tua gila, hanya ada kasur lantai dan lemari kecil tempat dia mengganti pakaian, bahkan cukup penasaran apa dia mengganti pakaiannya atau tidak.
Di lihat oleh Askar sejak dulu hingga sekarang, penampilan lusuh, berantakan dan tidak terawat menjadi ciri khas fashion ala gembel bagi si tua gila.
"Jadi kau mau minum apa Askar, teh, kopi, wine, bajigur, bandrek, strawberry smoothies, jus buah, teh tarik, sekoteng, green tea, Orson, limun, soda susu, sodanya aja, atau susunya aja ..."
"Tunggu .... Memang semua itu ada ?." Ucap Askar yang memotong perkataan Si tua gila.
"Kagak, cuma air putih." Itu jawaban yang Askar dapat.
"Kalau begitu ngapain banyak-banyak kau sebutkan, kalo cuma air putih." Kesal Askar mendengar jawaban tua gila.
"Kan buat ngelawak."
"Nggak lucu... Samsudin."
Satu gelas air putih kemudian...
"Jadi ?." Bertanya tua gila kepada Askar.
"Pak tua... Bisa kau melatih Sina." Balik Askar bertanya.
Terhembus nafas lemas dari mulut tua gila dengan gelengan lembut kepalanya, dan itu seakan menjawab pertanyaan Askar.
"Bisa." Singkat jawabannya.
"Kalau begitu kenapa kau mengeluh." Askar penasaran atas sikap yang tua gila itu tunjukan.
"Melatih, tentu aku bisa, tapi bagaimana dengan Sina sendiri, apa dia bisa memahaminya, biarpun aku melatih hingga mulut berbusa, tapi pemahaman Sina tidak mampu menerima, tentu itu adalah masalahnya." Perjelas tua gila dengan jawaban rasional.
"Aku terkejut kau bisa menjawab dengan cara yang tepat." Itu yang membuat Askar terkejut.
__ADS_1
Dan nyatanya memang permasalahan utama adalah kemampuan Sina lah dalam menerima pelajaran ilmu beladiri pernafasan.