
Tentu ada alasan dibalik tujuan varjo de hores memanggil semua anak-anak, dan istri-istrinya dalam sebuah acara pertemuan keluarga.
Tentang Silviana yang akan dijadikan istri ke 35, itu sudah biasa terjadi, tidak aneh bagi mereka semua ketika harus dikumpulkan hanya untuk membahas mengenai pernikahan baru dari Varjo.
Para istri-istri Varjo de hores tidak mempermasalahkan hal ini, karena sejak awal mereka tahu dan hanya mengikuti keinginan dari lelaki itu.
Selama posisi mereka di dalam istana tidak terusik, entah mau sebanyak apa pun dia mencari wanita, macam bentuk, atau jelas yang bukan manusia, kambing misalnya, itu terserah Varjo.
Tapi cukup berbeda saat Varjo mengambil Tisumi sebagai istrinya, entah apa yang terjadi, mereka sangat tidak menyukai wanita itu, sampai sekarang, dan turun kepada dua putrinya, Resra dan Resya.
Makan malam telah selesai, Varjo pun mulai angkat bicara untuk alasan yang jelas tertuju kepada Silviana.
"Baiklah, aku tidak akan berpanjang lebar untuk dibicarakan, tapi satu hal yang akan aku katakan, Silviana akan aku jadikan sebagai permaisuri kerajaan." Ucap Varjo yang jelas didengarkan oleh semua istri dan anak-anaknya.
Berawal dari keheningan, mereka mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Varjo, dan nyatanya satu suara angkat bicara mengenai keputusan itu.
"Maaf tuanku, ini tidak bisa aku terima."
"Begitu juga untukku."
"Aku pun sama."
Hampir sebagian besar dari para istri varjo melakukan penolakan terhadap keinginannya untuk menjadikan Silviana sebagai permaisuri kerajaan.
Dimana itu adalah posisi tertinggi setelah penguasa alam semesta kerajaan beladiri, dan para wanita juga merasa tidak nyaman, saat tahu bahwa wanita muda yang menjadi calon istri varjo memiliki kekuasaan di kerajaan ini.
Itu jelas akan mengancam posisi para istri yang merasa lebih senior, dan tidak ingin ada pengganggu di kehidupan mereka sekarang.
"Kenapa kalian menolak ini, aku ingin tahu alasannya." Bertanya Varjo de hores dengan tujuan mereka.
"Posisi permaisuri kerajaan tidak pantas untuk diberikan kepada musuh alam semesta kerajaan beladiri kita." Itu yang dikatakan oleh seorang istri varjo dan dia pun adalah istri paling senior diantara semuanya.
Kejadian ini sama seperti keinginan Varjo terhadap Tisumi, ya saat itu Varjo sangat menginginkan kekuatan dari dalam tubuhnya sebagai pemilik tubuh ilahi langit ke enam.
Dia ingin memberi sebuah kekuasaan untuk mengikat Tisumi di alam semesta kerajaan beladiri dan tidak ada keinginan pergi.
Dan saat itu pula semua orang menolak, begitu saja Tisumi dia tidak ingin dibebankan masalah dalam hidupnya, terlebih pernikahan dia dan Varjo adalah keterpaksaan.
Tisumi memilih pergi, dan memang varjo mengijinkan hal itu, seakan tidak lagi ada alasan untuk menahan kehadiran Tisumi di dalam kerajaan.
"Tisumi apa kau tidak ingin memberi pendapat untuk hal ini." Bertanya Varjo kepada Tisumi yang masih sibuk mengunyah daging di mulutnya.
__ADS_1
"Itu terserah kau saja, aku benar-benar tidak ingin ikut campur mengenai setiap masalahmu, karena sekarang kebahagiaan Resra dan Resya adalah hal utama yang ingin aku lakukan." Jawab Tisumi dengan tidak perduli.
"Aku anggap kau menyetujui keputusasaanku, sedangkan tentang pendapat kalian yang menganggap Silviana adalah musuh kerajaan, aku pun tidak membantahnya, tapi.... Jika setelah Silviana menikah denganku, kedua wilayah alam semesta menjadi satu kesatuan, tidak akan ada lagi yang namanya musuh." Varjo pun menjelaskan secara terperinci.
Walau Varjo menganggap hal itu akan terjadi, tapi tidak untuk Silviana, karena semua arguman yang diucapkan oleh Varjo adalah hasil pemikirannya sendiri.
Keinginan mendapat kekuatan dari dewi Sunawa, keajaiban hidup, membuat Varjo de hores rela memberi segalanya, melakukan apa pun, bahkan jika itu adalah menjadikan seluruh alam semesta sebagai musuh.
"Aku tidak yakin jika alam semesta kerajaan suci menerima hal ini." Gumam salah satu istrinya yang memikirkan tindakan orang-orang dari kerajaan suci.
Vario tertawa, dia seakan sudah tahu tentang hal itu... "Jika memang begitu, harusnya mereka sadar, bahwa tidak ada kesempatan untuk melawan kita, alam semesta keabadian sudah beraliansi, maka tidak perlu kita takutkan."
Dominasi Varjo de hores untuk menjadikan dirinya dan seluruh alam semesta kerajaan beladiri ke puncak kasta tertinggi jagat raya adalah pasti.
Beraliansi, mengambil paksa wilayah lain, memperkuat pasukan dan mencari bakat kekuatan terbaik adalah setiap langkah yang sudah dirinya ambil.
Masalah selanjutnya terdapat di lawan-lawan yang akan Varjo de hores hadapi, termasuk alam semesta samudera bintang, alam semesta pedang tanpa tanding, alam semesta awal penciptaan dan alam semesta keabadian itu sendiri.
Varjo menginginkan kekuasaan, kekuasaan diatas segalanya, jagat raya atau seluruh wilayah alam semesta, semuanya berada dalam genggaman kekuatan yang dia miliki.
Lepas dari pembahasan soal Silviana...
Varjo mengarahkan pandangan kepada Resya, karena dia sendiri memiliki sesuatu yang ingin dibahas kepada salah satu putrinya itu.
Terkejut, tentu saja Resya terkejut, bahkan sampai terbatuk-batuk saat menenggak segelas air minum.
"Siapa yang mengatakan itu." Resya ingin menolak tapi dia sadar jika ada Tisumi di sampingnya.
"Jariko mengatakan bahwa melihatmu berduaan dengan seorang lelaki." Jawab Varjo.
Ini sulit bagi Resya, dia tidak mengharapkan permasalahan tentang Askar sampai di telinga Varjo dengan sangat cepat.
Keinginannya untuk mengakhiri urusan dengan Askar belum selesai, tapi sekarang ayahnya sudah mempertanyakan tentang hubungan antara mereka berdua.
Tisumi pun hanya diam, dia ingin Resya sendiri yang menceritakan semua tentang Askar, meskipun Resya terlihat kebingungan.
"Ayah hanya ingin tahu siapa lelaki yang mendapatkan perhatian darimu." Ucap Varjo de hores dengan serius.
Sedikit hal Resya berpikir, ini akan menjadi sebuah keuntungan, dimana saat Varjo tahu tentang Askar, dia akan marah dan mencoba memberi pelajaran kepada lelaki itu.
"Dia bernama Askar, keponakan dari Gorongo." Jawab Resya sembari bersikap sopan.
__ADS_1
Nama Askar disebutkan, mata Silviana terbuka dari rasa malas mendengar segala ocehan Varjo.
Tidak ada nama Askar selain lelaki itu, bahkan jika ada yang sama pun, mereka tidak lebih sekedar juru parkir, kuli angkut atau pun calo tiket, bukan ahli beladiri keponakan Gorongo.
"Sejak kapan dia menjadi keponakan Gorongo." Pikir Silviana bingung.
"Askar, apa maksudmu Askar dari padepokan beladiri pedang semesta yang baru saja masuk ke turnamen itu." Dengan tegas Varjo pun angkat bicara.
"Eh... Iya sepertinya dia." Resya tidak tahu jika Askar lolos sampai ke turnamen ini.
Tapi Resya menganggap jika Askar berhubungan dengan Gorongo, itu akan membawa kemarahan Varjo kepada Askar.
Dengan permusuhan antara Varjo de hores dan Gorongo, poin kebencian mengenai Askar akan bertambah, itu jelas menjadikan Askar sebagai seorang yang tidak akan ayahnya terima.
"Bagaimana ceritanya, kau bisa berhubungan dengan lelaki bernama Askar itu." Balik Varjo bertanya.
"Soal itu, sangat rumit, aku sulit menceritakannya, tapi berawal dari sebuah masalah, hingga kami menjadi dekat." Tentu Resya enggan menjelaskan bahwa dirinya dikalahkan telak saat menaiki menara puncak semesta.
Ditambah lagi taruhan yang dia buat dengan Askar, menjadikan Resya sebagai pelayan, hak itu hanya akan membuat dirinya menjadi malu dihadapan para istri varjo yang memang tidak menyukai ibunya.
"Baiklah jika itu sangat rumit, tapi kenapa harus dia." Tegas ucapan Varjo.
"Aku tidak tahu, kenapa aku bisa cinta dengannya, tapi hanya dia dan bukan yang lain." Alasan saja Resya untuk memperkuat keyakinan dari Varjo dan Tisumi.
Varjo dalam diam duduk lemas untuk mengambil segelas air putih, walau tidak disembur, hanya ditelan habis karena mencoba mencerna setiap perkataan dari Resya.
Resya tersenyum dalam hati, ketika melihat bagaimana ekspresi dari Varjo, antara sikap, raut wajah dan tatapan mata itu, seakan menjadi pertanda jika ada yang tidak beres untuk dia terima.
"Aku senang jika kau benar-benar mendapatkan hati Askar." Ucap Varjo dengan sikap tenang."
"Eh... Ta... ta... ta... tapi kenapa ayah berpikiran seperti itu." Terkejut Resya mendapatkan respon dari Varjo diluar dugaannya.
"Kenapa memang, dia lelaki yang memiliki bakat tinggi bahkan sangat luar biasa, jika dia akan menjadi calon menantuku, alam semesta kerajaan beladiri ini tentu semakin kuat." Dengan penuh semangat Varjo pun memberi pendapat tentang Askar.
Resya jatuh lemas di atas kursinya, dia menganggap jika cara ini akan membuat Varjo menolak keputusan Resya dan menyingkirkan Askar tanpa perlu bersusah patah.
Tapi apa yang dia dapat adalah sebuah restu, tanpa penolakan, tanpa pertimbangan, entah itu ibunya atau ayahnya, mereka berdua benar-benar serius menerima Askar.
"Ayah apa anda yakin jika Askar adalah orang yang cocok untukku." Bertanya Resya mencoba mengubah isi pikiran Varjo.
"Kenapa tidak.... aku sudah melihat kemampuannya bertarung diatas arena, aku mengakui bahwa lelaki itu memiliki bakat yang mungkin melampauiku, jadi aku tidak perlu takut, dia mencoba mengambil takhta kerajaan beladiri." Varjo menjawab dengan tawa keras menggema di seluruh ruangan.
__ADS_1
Resya benar-benar bingung untuk saat ini, antara dia harus pasrah atau hidupnya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pelayan bagi Askar.
(note untuk Minggu malam dan Senin pagi kita gak up dulu, tanggal 31 malam jam 8 baru update lagi...)