
Aliran energi dari teknik meditasi gabungan jiwa sudah bersinkronasi antara Askar dan Asy, dimana seluruh kekuatan dewi Phoenix merah memasuki tubuh Askar untuk dia serap.
Setelah itu dikembalikan lagi kedalam tubuh, efeknya memang belum terlihat untuk Asy, tapi setelah dirinya melakukan teknik meditasi gabungan jiwa bersama Askar seluruh sirkuit energi akan di perbarui.
Kemampuan teknik meditasi gabungan jiwa ini memang sangat berguna, paten dan menyenangkan, siapa yang terpikir, jika dengan hal-hal seperti kawin, bisa menumbuhkan kekuatan secara instan.
Jiwa Askar memasuki dunia imajinasi, dimana jurang yang berisi kekuatan energi untuk naik tingkat, mulai terisi dengan cepat.
Sejumlah air yang deras seakan tumpah dan mengisi jurang dengan cepat, Askar berharap itu cukup agar dia mampu melangkah ke tahap akhir saat ini juga.
Hanya saja, jurang pengisian kekuatan Askar, sudah tidak bisa dibayangkan besarnya, jika dibandingkan dengan awal Askar membentuk dunia imajinasi, hingga mencapai tingkat lord alam guru, sudah puluhan ribu kali lebih besar.
"Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa jadinya ketika aku melangkah ke tahap dewa sejati." Lemas Askar berbicara sendiri.
Aliran energi terus tumpah dari atas langit, semakin tinggi pula air yang mengisi jurang penyimpanan, tapi ketika semua akan terisi penuh, hanya sebatas satu jengkal tangan, semua berhenti.
"Tanggung amat.... Re katakan berapa banyak energi yang diperlukan." Bertanya Askar kepada Re.
'Jawab : 98% jurang penyimpanan energi sudah terisi penuh, hanya diperlukan 2% untuk naik ke tahap akhir.'
"Hanya dua persen kah ?, Apa bunga Anemoe kristal itu bisa digunakan."
'Jawab : proses ekstraksi bunga Anemoe kristal akan selesai dalam tiga hari, dan itu cukup untuk mengisi sisa yang dibutuhkan."
"Bunga langka yang harganya sangat mahal, hanya setara dengan dua persen."
'jawab : lebih tepatnya 2,46 %."
"Apa 0,46 % itu berarti."
'Jawab : jika dilihat dari pembulatan, memang menjadi 0, tapi tidak menjadi angka 1 tanpa 0,46.'
__ADS_1
"Baiklah, baiklah, aku mengerti apa yang kau maksudkan."
Hampir tidak ada satu persen pun tersisa untuk menambahkan jurang penyimpanan energi di tahap selanjutnya.
Askar mencoba paham, memang benar tubuhnya sangat jauh berbeda dari manusia normal, jika ekstraksi bunga Anemoe kristal mampu membawa manusia di bawah tingkat lord alam monarch naik dua tahap berturut-turut.
Askar bahkan tidak sampai setengahnya, ini cukup menyulitkan jika harus mencari sumber kekuatan eksternal untuk naik ke tahap di masa depan.
Tapi terlihat jelas perubahan dalam kekuatan unsur api yang dia dapat saat pertama kali melakukan dengan Sina.
Skill api Phoenix yang awalnya hanya tambahan didalam memperkuat elements api, kini melekat sempurna dan menyajikan kekuatan setara dengan milik Sina.
Jika skill elements api biasa masih jauh lebih rendah dari element api binatang mistik, maka Askar memiliki darah Phoenix merah untuk menjadikan kekuatan api semakin kuat.
Kembali ke dalam tubuh...
Askar tidak tega melihat Asy yang hanya menyandarkan tubuhnya ke dalam pelukan Askar, dia tidak bisa bergerak, bahkan untuk satu jari pun.
Bagi Asy yang sekarang, tentu karena dirinya masih pera*wan dan menang Askar pun bisa merasakan jika Asy sangat sensitif, terutama untuk setiap aset pribadinya.
Karena terlalu menikmati waktu bersama Asy, sampai lupa dia menghitung, sudah berapa kali Asy mencapai puncak dan membasahi lantai.
Tanpa ragu Askar menepuk pan*tat Asy dengan lembut, tapi seakan aliran listrik bermuatan tinggi dia sentuh, sontak saja tubuhnya kembali menegang dan memeras senjata yang masih parkir didalam.
"Askar jangan lakukan apa pun, atau nanti aku akan keluar lagi." Berkata Asy dengan tubuh gemetaran.
"Jadi sampai berapa lama kita berada di posisi ini." Balas Askar yang tersenyum puas menyaksikan sesosok wanita tidak berdaya didalam pelukannya.
"Tunggulah sebentar, aku benar-benar tidak bisa bergerak." Lemas Asy menjawab, tapi terlihat sebuah senyuman manis dari wajah itu.
"Baiklah, baiklah." Askar paham atas kondisi Asy.
__ADS_1
Seperti halnya Sina atau pun Rea yang benar-benar kacau balau, setelah melakukan kegiatan malam bersama Askar.
Mendengar suara hembusan nafas dari Asy, detak jantung yang saling bertemu ketika dada bersentuhan, dan gemetar dirasakan bisa dia rasakan, biar begitu Asy sangat menikmati setiap hal yang mereka berdua lakukan.
"Jadi apa kau tidak terpikir untuk hidup didalam klan Phoenix, Asy." Ucap Askar selagi Asy berusaha menangkan diri.
"Huh ?, Apa ?... Keluar di dalam ?, Bukankah kau sudah cukup banyak mengeluarkan itu di dalam, bahkan sudah tidak ada tempat lagi." Balas Asy yang masih gagal fokus dan tidak nyambung dengan pertanyaan Askar.
"Bukan soal itu, apa kau berniat untuk kembali dan hidup dalam klan Phoenix ?." Sedikit keras Askar bertanya.
"Ah... Kalau soal itu, aku hanya ingin mengikutimu Askar, tidak perduli akan seperti apa klan Phoenix, karena sejak awal aku tidak merasa menjadi bagian di klan Phoenix." Ini jawaban yang memang searah dengan pertanyaan Askar.
Itu memang benar, dari awal Asy hanya bagian dari lima burung Phoenix merah asli, tapi tidak dengan keluarga keturunan Phoenix lain.
Dia pergi dan berenkarnasi di setiap jiwa orang lain, kemudian mati dan berganti menempati tubuh yang lain pula, semua itu berlangsung dalam jutaan tahun.
Tapi dia memiliki alasan untuk mendapat tubuh baru, salah satunya adalah Askar, dia ingin Askar melihat sebagai dirinya sendiri, bukan Sina yang menjadi wadah.
Di perjalanan hidup jiwa Phoenix yang terus menerus berganti-ganti wadah dari segala macam manusia di berbagai tempat, Asy tidak pernah benar-benar memikirkan tentang perasaan.
Asy memakan jiwa dari para wadah dan menjadikan wadah itu sebagai dirinya, terus berulang selama ribuan kali, tapi berbeda saat bertemu dengan Askar.
Lambat laun, perjalanan panjang selama dua puluh empat tahun dari dalam tubuh Sina, Asy mengenal Askar, dan membuatnya paham atas dasar apa Sina bisa jatuh cinta kepada lelaki tidak kompeten itu.
Seorang yang membawa takdir dewa pemangsa, dan memanglah sebagai dewa pemangsa itu sendiri, hadir menujukan niat untuk menyelamatkan dirinya dan juga Sina agar tidak ada yang harus di korbankan.
"Baiklah, apa kau sudah bisa bergerak Asy." Bertanya Askar dengan membelai rambut merah yang panjang sedikit ikal itu.
"Sedikit."
"Kalau begitu, segeralah berpakaian, kita akan turun untuk melihat-lihat sekitar." Askar berkata.
__ADS_1
walau bukan hal penting, Askar yakin Ke'su masih menunggu diluar dengan kebingungan, dan mungkin akan semaput jika tahu apa yang terjadi.