
Istana kerajaan bawah, Kota Loyi...
Apa yang lelaki itu lihat dalam tatapan kosong ketika dirinya berada di acara pertemuan dengan para wali kerajaan.
Seakan tidak perduli atas perdebatan yang masing-masing dari sepuluh wali atas keinginan untuk Sam turun kekuasaan sebagai lord kerajaan.
Mereka terbagi menjadi dua kubu, di pihak pro kepada Sam, para wali masih menjunjung kesetiaan terhadap ayah dan kakek dari Sam, karena bagi sepuluh wali, mereka adalah sosok tuan atas alam semesta kerajaan bawah.
Terlebih semuanya ada murid-murid dari ayah Sam, dan harus melindungi keturunan dari guru mereka sebagai bentuk penghormatan.
Tapi di sisi lain, pihak yang kontra terhadap Sam adalah mereka-mereka dengan tujuan untuk membawa alam semesta kerajaan bawah ke kasta lebih tinggi lagi.
Karena Sam gagal dalam pembagian jiwa, serta perubahan sifat yang jelas terlihat, memberikan dampak besar bagi kewibawaan seorang lord seperti Sam.
Mereka tidak berniat menyingkirkan Sam dan mencelakakan dirinya, semua itu demi mengganti sosok pemimpin yang jauh lebih kuat, dan membawa masa depan kerajaan menuju lebih baik.
Sayangnya Sam seakan tidak perduli, hanya menyandarkan kepala dan memandangi langit dengan pandangan mata lemas.
"Mau sampai kapan kalian akan meributkan hal-hal tidak penting seperti ini." Bergumam Sam sembari menghela nafas panjang dengan malas.
Seketika itu juga, semua orang mendengar gumamannya dengan tatapan serius, bahkan pihak yang pro merasa pusing atas tanggapan dari Sam.
"Entah kenapa, aku merasa semangat perjuangan membelamu seakan hancur menjadi tidak berguna." Balas salah satu wali dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Aku sangat berterimakasih untuk apa yang paman Gabo lakukan, tapi ini tidak akan berakhir hanya dengan perdebatan tanpa ujung." Sam masih menujukan rasa sopan, walau wajahnya sangat ingin pergi dari acara pertemuan ini.
"Ya itu memang benar, tapi jika kau turun dari kursi kekuasaan, maka kami bisa memastikan, bahwa orang lain harus menggantikanmu." Wali kerajaan bernama Gabo pun mengungkapkan tujuannya.
Semakin berat nafas Sam terhembus, setiap hal yang mereka perdebatkan, tidak membuat Sam ingin turun takhta, karena semua tindakannya, memiliki alasan sendiri.
"Bukan aku tidak ingin turun dari takhta, tapi aku hanya ingin menyerahkan kursi kekuasaan kepada orang yang sudah aku tentukan." Jawab Sam dengan jelas didengar oleh semua wali kerajaan.
__ADS_1
"Siapa yang sebenarnya kau tunggu Sam, kami sudah semakin tua, kami pun sudah melatih para pengganti kami untuk generasi selanjutnya." Kini sosok wali lain ikut bicara.
"Tenang lah paman Samo, kau terlalu banyak pikiran." Balas Sam yang masih bersikap santai.
"Terlebih lagi kau gagal dalam pembagian jiwa, tujuanmu semakin tidak jelas." Dan yang lain pun ikut memojokkan Askar.
Tindakan pembagian jiwa memang menjadi dampak besar bagi para wali kerajaan, dimana membuat sebuah jiwa untuk berenkarnasi dalam ingatan penuh bukanlah hal mudah.
Sepuluh wali, harus berkerja keras selama lima puluh tujuh tahun, demi membentuk kekuatan baru dan berakhir sebagai kegagalan.
"Aku mengerti, dan aku pun sudah mempersiapkan semuanya untuk membayar semua yang menjadi kegagalanku." Jawaban dari Sam memang ingin mereka percaya.
Hanya saja, apa yang mereka bisa harapkan dari kehidupan Sam sebagai Samoel di dunia antah berantah, sedangkan posisi alam semesta kerajaan bawah berada tingkat kasta akhir.
"Aku merasa ragu untuk hal ini, alam semesta lain sudah jauh didepan, sedangkan kita tetap berjalan di tempat, bahkan aku yakin dalam kurun waktu sepuluh tahun kita akan disingkirkan dari kasta alam semesta atas." Berkata kembali Paman Gabo dengan ketakutannya sendiri.
"Memang semua yang terjadi tidak bisa kita tebak, tapi aku merasa yakin satu-satunya orang yang aku nantikan, akan membawa alam semesta kerajaan bawah ini ke puncak kasta tertinggi." Balas Sam menujukan tatapan serius dan benar-benar meyakinkan.
Semua wali memang mengharapkan kehadiran seseorang untuk membawa alam semesta kerajaan beladiri ke tingkat yang lebih tinggi, karena alam semesta lain pun sudah mulai mengembangkan banyak kekuatan.
Tidak bisa mereka merasa tenang, karena status sebagai salah satu kasta tertinggi cukup memberikan dampak besar bagi perkembangan alam semesta mereka.
*******
Setelah pertemuan berakhir dengan ke sekian kalinya tidak ada hasil pasti, Sam masih terduduk santai bersandar kursi.
Wajah tegas menatap langit dari jendela ruangan, dan lemas setiap nafas terhembus seakan mengharapkan sesuatu dari hal yang tidak bisa dia dapatkan.
Sesaat kemudian, salah satu wanita bercadar datang dengan tatapan khitmad tanpa ekspresi sama sekali menghadap kepada Sam.
"Aku benar-benar tidak menyangka kau menemukan sebuah bakat luar biasa di dalam kegagalanmu bocah ingusan." Berkata Virnda.
__ADS_1
"Jangan panggil aku bocah ingusan lagi tante." Balas Sam yang jelas-jelas menyindir Virnda.
Sekilas pandangan mata penuh niat membunuh muncul di wajah Virnda, jelas sekali cara Sam memanggilnya membuat wanita satu ini tersinggung.
"Kalau begitu apa aku harus memanggilmu bapak ingusan." Balas Virnda yang kesal.
"Maaf kalau begitu." Sam benar-benar tidak ingin lanjut bercanda.
Kembali Virnda dalam ketenangan, Sam pun menujukan tatapan serius dari cara untuk bersikap terhadap salah satu wali kerajaannya.
"Entah hanya kebetulan, atau memang alam semesta menjadi sangat sempit, hingga aku bertemu dengan lelaki yang kau maksudkan itu." Berkata Virnda dengan senyuman cerah karena penilaian terhadap Askar sangat tinggi.
"Jadi dia sudah datang." Sam memahami perkataan Virnda.
"Ya, walau pada akhirnya Askar tidak tahu apa pun mengenai alasan, kenapa kau menginginkan dia datang ke kerajaan ini." Sedikit Virnda merasa kasihan kepada Askar.
Tapi memang begitulah tujuan Sam, membawa Askar ke alam semesta kerajaan bawah demi tujuan untuk dirinya bergabung dalam kerajaan.
Kemampuan, bakat, skill dan kegigihan akan menjadi faktor penting, dan demi membawa alam semesta kerajaan bawah ke masa depan lebih cerah.
"Jadi bagiamana pendapatmu nona Virnda." Bertanya Sam dengan sedikit perasaan yang menyombongkan diri.
"Dia adalah masa depan paling cerah untuk alam semesta kerajaan bawah." Jelas jawaban Virnda membanggakan Askar.
"Tentu saja, dia adalah anakku." Semakin sombong Sam atas penilaian tinggi terhadap Askar.
"Sayangnya Askar tidak ingin mengakuimu sebagai ayahnya." Sindir Virnda atas tanggapan Askar yang sebenarnya.
"Itu hanya soal waktu, sampai nanti dia terbiasa." Entah apa yang membuat Sam percaya diri.
"Kau berpikir seperti itu."
__ADS_1
Sejenak senyuman di wajah Sam tampak jelas menujukan perasaan bangga, walau pernah berselisih paham, tapi keterikatan mereka berdua dalam takdir tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Beranjak Sam dari tempat duduknya, melangkah ke luar bersama dengan Virnda untuk bertemu Askar.