PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
mati berdiri


__ADS_3

Kediaman Askar, ruang makan.


Telah berkumpul semua orang menempatkan diri dikursi mereka masing-masing, Askar, Hana, Silva, Elica, Sina, Rea, Xixi, Arya, Aryana, Syfa, else, Si dan Omen.


Secara khusus kucing spesial berwarna belang Oren putih itu memiliki kursi sendiri yang jelas-jelas sudah dianggap sebagai bagian keluarga Askar.


Ibu Askar, Hana, tidak mempermasalahkan tentang kedua istri Askar yang memang berbeda ras, dan secara penuh memberikan kepercayaan bahwa anaknya itu tidak mungkin salah pilih.


Walau cukup pusing Hana memikirkan setiap wanita yang di bawa oleh Askar adalah sosok luar biasa dan tidak pernah dibayangkan.


"Mengetahui saat kau sudah menikah dengan Elica, ibu terkejut, benar-benar tidak menyangka, kalau anak lelaki ibu bisa menikah." Ucap Hana yang tersenyum kecut melihat ke arah Askar.


Tapi Askar pun merasa tidak nyaman dari ucapan ibunya..."Kenapa aku merasa ibu meragukan anakmu sendiri."


"Ibu tidak meragukanmu, tapi ya... Kau tahu, dulu ibu bahkan tidak yakin ada wanita yang mau dengan keluarga miskin seperti kita." Jawab Hana mulai mengingat kembali masa sengsara bertahun-tahun lalu.


"Dulu mungkin, tapi sekarang..." sombong Askar menujukan diri.


"Ya sekarang kau benar-benar seperti lelaki tidak bermoral, menikahi begitu banyak wanita, padahal aku tidak mengajarkan itu kepadamu." Lemas suara hembusan nafas Hana terdengar.


"Aku tidak bisa membantahnya, jika aku sangat mencintai mereka semua, dan tidak ingin ada orang lain memiliki mereka." Tapi Askar jawab dengan tatapan serius.


Tegas perkataan Askar membuat mereka binggung, bagaimana harus menggambarkan Askar sebagai lelaki sejati yang memperjuangkan cintanya, atau pria tidak bermoral yang mempermainkan wanita.


"Tapi ibu akan sangat kecewa jika kau tidak bersikap adil kepada semua istrimu." Tambah Hana sebagai peringatan kepada Askar.


"Ibu jangan khawatir, aku selalu adil, tidak membeda-bedakan antara mereka semua, aku rela berkorban walau harus mempertaruhkan nyawa, demi siapa pun yang aku cintai." Askar kembali menjawab tanpa keraguan.


Karena mungkin dirinya sebagai orang yang rela berkorban dan bertanggung jawab, menjadi satu-satunya nilai lebih bagi Askar.


"Baguslah kalau begitu." Tersenyum Hana dengan sedikit perasaan kurang nyaman... "Aku bingung dari mana kau mendapatkan kemampuan untuk membawa mereka kedalam pelukanmu."


Gumam Hana yang jelas terdengar oleh semua orang, dan membuat para wanita Askar merasa malu, bukan karena apa pun, tapi mereka juga tidak menyadari bahwa tidak terpikir alasan kenapa harus jatuh cinta kepada lelaki itu.


Kehadiran Else dan Si, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Askar, karena saat ini setiap istrinya berada dalam satu meja makan yang tertawa merdu saat membicarakan resep masakan rendang daging.

__ADS_1


Bagi mereka berdua, makanan dari dunia mortal tidak pernah sekali pun dirasakan, hingga tanpa tersadar sudah habis lima kilo rendang hanya untuk Else sendiri.


Sejenak suasana menjadi hening, ketika Askar berdiri untuk membuka pembicaraan penting.


"Ada yang harus aku sampaikan." Kini Askar cukup serius terdengar.


Semua orang tentu menyadari akan sesuatu yang akan Askar bicarakan dengan mereka, sebuah hal penting untuk tujuan lain.


"Katakanlah Askar." Saut Hana yang memang mengetahui isi pikiran Askar.


"Ini mengenai Sina dan Rea, awalnya aku hanya ingin membawa Sina ke alam semesta atas, alam semesta api mulia, tapi siapa sangka, Rea pun memiliki urusan yang mengarah ke tujuan yang sama." Askar mulai bercerita.


Awal mula tindakan Askar ditentang keras oleh Elica, dengan segala macam resiko yang tentunya memiliki tingkat bahaya sangat tinggi, siapa pun tentu tidak ingin orang tercinta menghadapi masalah.


Tapi sayangnya Askar bukan orang yang bisa berubah tekadnya, biar pun Elica menolak keras untuk itu, Askar akan tetap pergi.


Walau begitu, Elica memberikan beberapa syarat dan itu harus Askar tepati.






Tidak boleh membuat masalah atau pun mencari masalah, terhadap makhluk-makhluk dari alam semesta atas.




selalu bersikap low profil, jangan bertindak sombong, karena dengan merendah diri, itu akan menghindarkan Askar dari musuh berbahaya.


__ADS_1



Jelas dua poin terakhir yang Elica berikan kepada Askar sedikit meragukan, tapi jelas, waktu lima tahun, hanya itu saja, tanpa bisa menawar lagi, Askar harus kembali.


Lima tahun bagi para ahli beladiri itu menjadi waktu singkat, karena ada beberapa dari mereka mengorbankan puluhan tahun hanya untuk bermeditasi.


"Ibu tidak pernah melarangmu untuk melakukan bermacam hal, karena ibu tahu, apa yang kau lakukan adalah demi keluarga." Hana hanya bisa mempercayakan semua kepada Askar.


"Aku tahu itu ibu, karenanya, aku akan membawa Sina dan Rea pergi, setelah kelahiran putri Si." Askar sudah menentukan waktu keberangkatannya.


Dengan ingatan dari dewa Asyura, Askar tidak perlu lagi kebingungan tentang arah tujuan setiap lokasi alam semesta atas.


Tapi sebelum itu, tujuan Askar adalah alam semesta kerajaan bawah, tempat dimana Sam tinggal, entah ada urusan apa dia ingin Askar datang.


"Ibu titipkan salam kepada Sam, biar pun dia bukan sosok ayahmu lagi, tapi ibu yakin Samoel masih hidup didalam jiwannya." Berkata Hana yang jelas menujukan perasaan rumit dari ingatannya mengenai suaminya itu.


"Sebenarnya aku menolak hal ini, tapi jika memang ibu menginginkannya, maka aku akan lakukan." Askar hanya mengangguk patuh.


Setidaknya untuk sekarang, Askar memiliki kekuatan yang cukup besar jika dia harus bertarung melawan orang-orang di tingkat Lord alam monarch kebawah.


Dari semua alam semesta atas, tiga kekuatan yang jelas-jelas Askar harus hindari adalah alam semesta samudera bintang, alam semesta penguasa naga, dan alam semesta keabadian.


Alam semesta samudera bintang dan alam semesta keabadian, keduanya jelas menjadi musuh untuk Askar, karena jika tahu dirinya membawa kekuatan dari dewa pemangsa, maka tidak ada kesempatan bagi Askar kecuali melawan.


Dilihatnya Elica yang tetap diam, tidak ada komentar apa pun demi menghentikan tekad Askar untuk pergi.


"Rea, Sina, aku titipkan Askar, agar dia tidak berbuat seenaknya sendiri disana." Dengan wajah rumit itu, Elica berbicara kepada Rea dan Sina.


"Kakak Elica, tenang saja, aku akan menjaganya untuk tetap bertindak merendah diri." Balas Rea yang sadar seberapa khawatir Elica kepada Askar.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku Elica, aku tahu apa yang harus aku lakukan." Askar pun ikut bicara.


"Malah jika aku membiarkanmu melakukan tindakan tanpa diawasi oleh Sina dan Rea, kami di sini bisa mati berdiri karena mengkhawatirkanmu." Keras Elica memarahi Askar dengan tegas.


Askar tidak bisa melawan balik perkataan Elica, ini bukan berarti Askar takut kepada istrinya, tapi jelas dia tidak ingin Elica semakin marah dan itu membuat Askar sakit kepala.

__ADS_1


__ADS_2