
Tangan kanan Davendra diangkat keatas, dan kilauan cahaya kuning keemasan muncul, melayang-layang dan mulai membentuk bermacam pola, garis, serta tulisan dalam bahasa kuno diatas kepala Askar.
Sebuah simbol prasasti yang sangat rumit, begitu banyak pola, serta tulisan-tulisan yang sangat sulit untuk Askar terjemahkan.
Jelas ini bukan satu hal yang mudah, termasuk untuk Dewi Sunawa sendiri, walau begitu, Askar tahu jika simbol prasasti yang Davendra bentuk adalah salah satu kemampuan keajaiban hidup, pengendali jiwa.
Kemampuan ini hanya Askar lihat dalam ingatan Asyura, dimana Dewi Sunawa menggunakannya untuk menjelajahi jiwa makhluk lain, semua itu demi mencari informasi akan suatu kejadian yang ingin dia ketahui.
Tapi Davendra mampu melakukannya secara sempurna, tanpa satu pun kesalahan, dan Askar jelas tidak ingin simbol prasasti yang tercipta menjadi kegagalan.
Karena satu kesalahan dalam huruf, atau goresan saja, maka fungsinya akan berbeda, bahkan mungkin akan memberikan efek kerusakan kepada tubuh Askar.
Davendra berhenti berkomat-kamit, dia menujukan senyum dari balik penutup kepala yang mungkin memiliki banyak makna tanpa sepengetahuan orang lain.
"Apa kau yakin ini akan berhasil." Ucap Askar cukup ragu untuk memulai rencananya.
"Apa kau tidak percaya, jika aku memang bisa melakukannya." Secara Davendra mengatakan hal itu penuh kepercayaan diri.
Sedangkan Askar hanya menatap kosong kepada Davendra, karena dilihat dari tindakannya yang salah setiap menarik jiwa, tentu Askar bisa membayangkan apa yang terjadi jika nyatanya ini gagal.
"Ya... Kau tahu, ini bukan hanya tentang keselamatan Asy, tapi juga untuk ku, jika pada akhirnya gagal maka cerita ini akan berganti judul." Balas Askar dengan lemas.
"Apa masalahnya, hanya berganti judul, sedangkan tokoh utamanya tetaplah Askar, walau entah isi dalam jiwanya itu apa." Santai saja Davendra menjawab.
"Mudah sekali kau bicara, aku tidak ingin digantikan oleh jiwa seekor monyet." Teriak Askar penuh kekesalan.
"Tenang saja, tenang saja." Sebuah jawab yang mudah bagi Davendra.
Walau harusnya dia tahu resiko yang akan terjadi jika didalam jiwa Sphinx, Askar tidak bisa keluar karena ditahan oleh jiwa-jiwa lain.
Sebuah suasana tidak menyenangkan jika pada akhirnya jiwa Askar harus dimakan oleh kekuatan yang lebih tinggi dan lenyap begitu saja.
Ketika jiwa Askar dilepas oleh raga, maka dia tidak bisa mengandalkan kekuatan apa pun, entah itu skill pemangsa, atau pun keajaiban hidup, hanya bergantung kepada kekuatan murni dan tekad.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang." Balas Askar yang berteriak keras.
__ADS_1
"Maksudku, jika pun jiwamu digantikan dengan seekor monyet, aku hanya perlu melatihnya, maka tidak akan ada yang bisa membedakan antara kau dan seekor monyet." Itu yang Askar dapatkan untuk sebuah solusi, jika hal buruk terjadi kepadanya.
"Jadi pada akhirnya, kau menganggap... dari awal aku seperti seekor monyet." Askar tidak bisa menerima kenyataan.
'Jika aku katakan itu, sama saja aku mengakui diriku sendiri.' pikir Davendra dengan lemas membayangkan itu.
Tapi Davendra menjawab...."Tidak juga, karena kau pernah mendengar bahwa manusia terlahir dari evolusi monyet, jika memang benar, tentu tidak ada salahnya mencoba melatih seekor monyet."
"Aku harap itu tidak pernah terjadi."
Persiapan untuk memisahkan jiwa Askar sudah matang, begitu pula Davendra yang dengan penuh percaya diri mampu menyelamatkan Asy.
Askar hanya bisa berharap jika semua ini berjalan lancar dan tidak ada satu pun masalah.
Davendra menjentikkan jari, lingkaran prasasti diatas kepala Askar, seketika turun dan menarik keluar jiwanya untuk masuk ke dalam tubuh Omen.
*******
Tidak berselang lama, beberapa orang yang terlambat pun akhirnya menampakkan diri.
Tapi tepat di hadapan mereka, sebuah kondisi yang tidak menyenangkan untuk dilihat, terlebih setiap orang, termasuk ratu azela terkapar lemas diatas tanah.
Tentu kakek loe teu yiu segera datang untuk memastikan keadaan seorang kawan yang dia kenal akrab selama puluhan ribu tahun.
Sedangkan Sina dan Rea yang ikut hadir kebingungan, dimana Asy dan Askar hanya rebahan tidak bergerak.
"Rea, apa yang terjadi kepada Askar." Ucap Sina dengan berusaha menampar wajah Askar agar terbangun.
"Jangan bertanya kepadaku, aku yang baru sampai disini bersama denganmu, tidak tahu harus menjawab apa." Balas Rea yang ikut kebingungan, dan memukul-mukul perut Askar untuk membuatnya terbangun.
Mereka berdua cukup yakin dengan tindakan yang dilakukan bisa membuat Askar tersadar, dan menujukan senyum bodoh seperti biasa.
Hanya saja, sudah cukup lama mereka memukul perut serta kepala Askar, tapi tidak ada perubahan, Hingga Sina merebahkan kepada di dada Askar.
"Detak jantungnya berhenti, bagaimana mungkin." Berkata Sina dengan terkejut.
__ADS_1
"Apa kau bercanda Sina, bagaimana mungkin Askar mati." Rea yang tidak percaya segera mendengar detak jantungnya.
Tapi sayangnya, tidak ada suara apa pun, hanya diam, dan tidak bergerak.
Dipenuhi dengan kesedihan, Sina dan Rea tidak berhenti untuk terus memukuli tubuh Askar sekuat tenaga, mereka tentu berharap jika ini hanya cara Askar bercanda.
"Nona muda, jika kau melakukan itu, saat Askar sadar dia akan merasakan sakit yang luar biasa." Suara itu terucap, dan mereka berdua pun mengarahkan pandangannya kepada orang yang sudah berdiri di sebelah.
"Siapa kau." Balas Rea dengan bingung saat dia tidak merasakan apa pun dari aura lelaki satu ini.
"Aku ?, Aku hanya tokoh tambahan, yang datang sebagai penyelamat Askar." Balasnya mencari alasan.
"Jika memang begitu, kau mengatakan kalau nanti Askar sadar, apa Askar tidak mati." Sina berusaha mencari kepastian.
Tidak bisa mereka bayangkan jika orang yang mereka berdua cintai harus tewas dan membuat semua istrinya menjadi janda, anak-anaknya menjadi yatim dan ibu harus kehilangan anaknya.
"Aku hanya melepaskan jiwa askar." Singkat penjelasan Davendra.
"Apa yang kau katakan, melepaskan jiwa Askar... Itu sama saja kau yang membunuh Askar." Rea tidak benar-benar paham atas tujuan Davendra.
Seketika itu, kemarahan menyelimuti pikiran Rea, mengeluarkan sebilah pedang perak berkabut dingin, dan tanpa ragu mengayun cepat untuk menebas kepada lelaki yang ada di hadapannya.
Tapi mudah untuk Davendra menangkap pedang bulan perak dengan dua jari... "Nona dengarkan penjelaskan ku sampai selesai."
"Apa yang ingin kau jelaskan, aku tidak perduli." Rea semakin kesal, aura kuat dari transformasi kitab beku abadi dia keluarkan.
Frozen Queen valkyrie.
Suhu udara seketika jatuh ke titik minus, kekuatan dingin yang mampu menghancurkan tulang Rea gunakan.
Hanya ketika Rea akan bergerak, Sina menahan tubuhnya, dan menghentikan Rea agar tidak bertindak lebih jauh.
"Rea kita dengar penjelasannya lebih lanjut lagi, aku yakin Askar tidak akan tewas begitu saja." Ucap Sina menenangkan Rea.
Davendra menujukan senyum, dari balik tutup kepala itu, dia merasakan sensasi nostalgia dan iri, dimana Askar di masa sekarang, masih bisa bersama dua wanita yang benar-benar mencintai dirinya.
__ADS_1