PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
seorang pelawak


__ADS_3

Askar membuka mata, satu perasaan menujukan sensasi nostalgia akan sebuah aura yang secara tiba-tiba datang memasuki zona persepsi.


Dia tahu siapa pemilik aura yang jika dirasakan seperti melihat ke tumpukan sampah non organik, berserakan, merusak suasana mata dan tidak bisa di daur ulang.


Segera bangkit untuk menyambut kedatangan aura itu, tentu ini sudah menjadi alasan kenapa dirinya harus repot-repot datang ke alam semesta kerajaan bawah.


Lelaki yang mengaku sebagai ayahnya, bertindak seenak jidat, dan membuang-buang waktu untuk keperluan tidak penting sama sekali.


"Sina, Rea kalian tetap disini, aku akan turun karena tamu itu sudah datang." Ucap Askar yang sudah berjalan ke arah pintu.


Tapi cepat tangan Sina maju dan menghentikan langkah Askar, dia tentu merasakan hal yang tidak nyaman ketika Askar bertemu dengan Sam.


Untuk beberapa alasan Askar tentu masih memiliki kebencian terhadap lelaki itu, dan akan sangat berbahaya jika Askar sampai terbawa emosi.


"Askar tunggu sebentar..." Balas Sina untuk memastikan kondisi hati Askar.


Berbalik Askar karena Sina memanggil... "Ada apa Sina ?, Aku tidak boleh membuat tamu penting menunggu."


Di dengarkan suara Askar yang tenang, dan jelas tidak ada ucapan darinya untuk mengarah ke sebuah pertengkaran.


Tapi saat Sina melihat ekspresi wajah Askar, rumit untuk digambarkan, karena berbeda cara Askar berbicara, berbeda pula raut wajah dengan semua urat wajah tegang penuh emosi.


"Bersabarlah sedikit Askar, aku tahu kau masih kesal kepada Sam, tapi kita tidak bisa berbuat seenaknya di sini." Sina mencoba untuk mengingatkan Askar dalam posisinya.


"Bicara apa kau Sina, aku sudah benar-benar bersabar, aku juga tidak ingin ada masalah terjadi, lihat wajahku, apa senyuman ini tidak bisa menujukan ketenangan yang aku miliki." Berkata Askar dengan tenang.


"Ya...." Ragu-ragu Sina memberikan tanggapan, karena jelas sekali jika itu berbeda dari cara Askar berbicara..."Aku melihat kau tersenyum seperti ingin membunuh seseorang Askar."


"Tidak apa-apa, itu bukan masalah besar." Santai saja Askar menjawab.


"Jelas itu masalah kalau kau melakukannya." Lemas Sina menjawab.


"Sudah aku katakan aku bisa menahan diri, jadi jangan khawatir."


Sina tidak bisa berkata-kata lagi untuk membalas ucapan Askar, karena seharusnya dia bisa percaya jika Askar tidak mungkin melakukan hal nekad yang berakibat fatal bagi orang lain, terlebih untuk kedua istrinya dan satu hewan peliharaan.

__ADS_1


Tapi karena tetap saja Sina khawatir, dia pun memutuskan untuk mengikuti Askar, paling tidak jika Askar mulai terbawa emosi, dia mampu menghentikan Askar.


Saat Askar turun, dilihatnya sosok lelaki yang benar-benar mirip dengan Samoel, ibarat pinang dibelah dua, tidak ada satu pun terlewat, dari hidung yang mancung seperti perosotan, dua alis tajam serta tegas, sorot mata tenang dan cara dia berjalan mendekat.


Jika saja saat itu Sam mengatakan bahwa dia adalah saudara kembar Samoel, mungkin Askar percaya, tapi dia adalah tubuh nyata dari jiwa Samoel, Askar tidak ingin mempercayai hal itu.


"Askar lama tidak berjumpa, sungguh kau benar-benar sudah berubah." Ucap Sam dengan sok akrab.


Berusaha mengendalikan emosi, walau saat ini tepat dihadapan Askar mampu melayangkan satu pukulan ke wajahnya.


Nyatanya, Askar benar-benar tidak bisa menahan diri, hingga pukulan telak melayang kepada Sam dan terbang jatuh menghantam dinding.


"Ahhh aku merasa lega sekarang." Ucap Askar menghela nafas panjang dan terhembus dengan senyuman cerah.


Sina terkejut, para pengunjung penginapan terkejut, bahkan Virnda pun yang ada di samping Sam tidak bisa menutup mulut karena takjub akan tindakan Askar.


Sina memang mengantisipasi, tidak sempat untuk menghentikan Askar yang jelas-jelas memulai masalah.


"Askar apa yang kau lakukan." Gemetar Sina karena terkejut.


"Jangan, jangan lakukan apa pun kepadanya." Perintah Sam kepada semua pasukan.


Jika memang hal terburuk Askar harus melawan balik, dia tentu sudah bersiap kabur karena sosok Virnda jelas hampir mustahil dilawan oleh Askar.


Sam pun berdiri dan berjalan mendekat, walau wajahnya masih merah dengan cap jelas sebuah kepalan tangan di pipi.


"Aku anggap ini sebagai salam pertemuan Askar." Berkata Sam yang masih menunjukan senyum diwajahnya.


"Tidak itu adalah pesan dari ibu, karena ibu berkata untuk menitipkan satu pukulan ke wajah Sam." Jawab Askar karena memang itulah yang ibunya inginkan.


"Benarkah begitu."


"Ya jika kau tidak percaya tanyakan saja."


"Hana benar-benar tidak berubah." Memang ekspresi yang ditujukan oleh Sam, seakan dia mengenal sosok Hana dengan sangat dekat.

__ADS_1


Bagiamana pun kehidupan bersama Hana selama belasan tahun bukanlah kebohongan, manis pahit hari-hari yang mereka jalani jelas diingat oleh Sam, walau saat itu dirinya sebagai Samoel.


"Jadi apa tidak ada pelukan kerinduan untuk ayahmu ini." Berkata Sam dengan membuka tangan.


"Apa kau sedang bercanda, apa memang kau ingin aku pukul lagi Sam ?." Tapi Askar tidak ingin hal itu.


"Sepertinya kau tidak bisa diajak bercanda Askar."


"Untuk apa aku bercanda dengan orang yang hampir membuatku kehilangan nyawa." Askar tidak bisa melupakan perbuatan Sam.


"Hei saat itu, aku hanya ingin menghancurkan kekuatanmu agar kau tidak perlu lagi bertarung Askar." Beralasan Sam seakan itu bukan masalah.


"Apa itu pantas menjadi alasan."


"Baiklah, baiklah, kita lupakan dulu..."


"Jangan harap aku bisa melupakannya." Gumam Askar saat Sam masih berbicara.


Virnda yang jelas melihat pertengkaran antara Askar dan Sam, tidak habis pikir, karena Askar serta Hana ibunya, sifat Sam benar-benar berubah drastis.


Sam dulu dikenal sebagai penguasa yang rakus dan kejam, kini berubah menjadi seorang pelawak. Sungguh semua itu berbanding terbalik karena hidup seseorang.


"... Kita cari tempat untuk mengobrol, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu." Ucap sam dengan tujuan lain.


"Aku menolak, aku akan segera pergi ke alam semesta api mulia." Ucap Askar untuk tidak mengikuti keinginan sam.


Hanya saja Virnda pun angkat bicara untuk membantu Sam... "Askar paling tidak dengarkan perkataan Sam dulu, dan setelah itu kau bisa putuskan."


Bagaimana pun Sam menginginkan Askar datang ke alam semesta kerajaan bawah adalah untuk alasan yang tidak di kehahui oleh Askar.


Walau sebenarnya Askar merasa enggan, tapi karena sudah berada di tempat ini dan juga permintaan Virnda, maka tidak ada alasan untuk dirinya menolak tanpa tahu alasannya.


Di rumah makan yang kemarin Askar lenyapkan untuk beberapa saat, kini dirinya kembali dengan sosok penguasa kerajaan dan tentu orang-orang disana tidak bisa percaya.


"Jadi..." berkata Askar dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Aku ingin kau mengambil alih posisiku sebagai penguasa tempat ini." Berkata sam dengan jelas.


__ADS_2