
Gadis cantik itu duduk dengan wajah datar tanpa ekspresi, ketika para pelayan yang disampingnya berulang kali menyisir rambut emas lurus dan indah itu.
Para pelayan merasa kagum, mereka terpana dan tidak bisa membantah jika keindahan dari rambut putri Silviana sangat menakjubkan.
Salah satu kecantikan yang membuat alam semesta iri memang benar adanya, karena siapa pun orang melihat Silviana, tua muda, perjaka duda, lelaki atau pun mantan lelaki, yang sudah beristri atau beranak lima, semua akan terpesona dengan kecantikan Silviana.
"Tuan putri, aku merasa terhormat karena merias salah satu dari kelima keindahan alam semesta." Ucap salah satu pelayan yang menikmati setiap kelembutan dari rambut emas silviana.
"Kau terlalu berlebihan, jika dibandingkan dengan putri penguasa naga, atau pun penguasa bintang libra, aku jauh lebih rendah." Jawab Silviana yang tidak nyaman ketika orang lain harus membicarakan tentang dirinya.
"Jangan bicara seperti itu putri Silviana, jika anda disandingkan dengan wanita lain, tentu ibarat bunga mawar dan pupuk kandang, masih utuh pula." Balas kembali dengan sedikit tawa.
"Walau begitu, aku tidak benar-benar bahagia dengan diriku yang sekarang."
"Memang kenapa ?."
"Apa yang aku miliki hanya menjadi beban bagi orang lain." Jawab Silviana dengan perasaan rumit.
Tentu semua rasa bersalah yang Silviana katakan merujuk kepada Alam semesta kerajaan suci, dan Askar, ya karena kekuatan keajaiban hidup itulah orang-orang yang ada di sekitarnya mengalami musibah.
Bahkan kakaknya sendiri harus meregang nyawa demi menyelamatkan Silviana, ketika varjo de hores menyerang alam semesta kerajaan suci demi mendapatkan kekuatan dewa Sunawa ini.
Semua itu karena Silviana, semua dosa yang harus dia tanggung karena dirinya sendiri, sedangkan dirinya tidak mampu berbuat apa pun untuk membalasnya.
Melihat raut wajah Silviana yang merenung, para pelayan merasa tahu kenapa sosok putri dari alam semesta kerajaan suci harus terkurung di tempat ini.
Karena binggung untuk memulai pembicaraan, para pelayan pun mencari topik lain demi mengubah suasana.
"Ya apa tuan putri tahu jika lord Sam dari alam semesta kerajaan bawah kini sudah turun takhta." Kata satu pelayan dengan tawa yang terpaksa.
"Ah Aku mendengar itu juga dari pengawal yang mengantarkan informasi kepada tuan Varjo." Jawab pelayan lain yang sibuk membersihkan kuku Silviana.
"Hmmm jadi orang itu masih hidup." Gumam Silviana yang tentu mengingat kejadian saat pertarungan melawan senjata pemusnah dewa.
__ADS_1
"Dan siapa itu orang yang menggantikannya, As... As..." Lupa pelayan itu sambil mengingat-ingat.
Mata Silviana terbuka, sedikit harapan atas nama lelaki lain yang ingin dia dengar .... "As ... Siapa ?."
"Asporo ?." Asal saja pelayan itu menjawab.
Lenyap sudah harapan Silviana, dia benar-benar menantikan nama itu muncul dan datang untuk membawanya pergi, tapi dia pun sadar tidak ada kemungkinan bahwa Askar mampu melawan varjo de hores.
"Tapi aku tidak yakin nama itu."
"Askar, lord pengganti tuan Sam adalah Askar." Pelayan satunya menyebutkan nama lain
Sontak saja Silviana terkejut dan segera menarik tangan pelayan itu, seakan ingin mengintrogasinya....."Apa itu namanya, jangan katakan kau pun tidak yakin."
"Kau yakin tuan putri, karena ingatanku masih sangat jelas." Karena takut dengan cara Silviana menatap.
Setelah memastikan nama itu benar adanya, kini rumit hati Silviana, dia tentu ingin melihat kembali Askar, tapi lawannya adalah Varjo sosok yang sudah mencapai lord alam awal keabadian.
Dalam kerumitan isi pikiran yang mengkhawatirkan keadaan Askar, langkah jelas datang dan mendekat.
"Tuan baginda raja penguasa alam semesta kerajaan beladiri Varjo de hores yang per.... persaka... Maaf perkasa telah datang." Berteriak salah satu penjaga dari balik pintu menujukan tanda akan kedatangan varjo.
Saat pintu terbuka, sosok lelaki paruh baya dengan kumis tebal seperti lumut yang menempel di atas bibir menampakan diri.
Tapi dilihatnya satu pengawal yang bertugas memberi sambutan dengan tatapan serius, satu kesalahan itu, membuat varjo de hores kesal.
"Jika sekali lagi kau melakukan kesalahan, maka potong gaji." Ancam varjo yang kemudian berjalan pergi dengan raut wajah sombong.
Lemas penjaga itu mendengar perkataan varjo, walau begitu dia tidak bisa membantah ucapan sang lord, hanya menunduk lemas.
Satu kawan penjaga lain pun melihatnya prihatin, karena itu terlalu kejam bagi mereka yang sudah bekerja keras untuk menghafal setiap ucapan sambutan bagi varjo.
Kembali ke tujuan varjo datang di ruangan Silviana.
__ADS_1
Dia yang menyukai seorang wanita tentu merasa bahagia ketika sosok putri dengan kecantikan hingga membuat iri alam semesta, kini berada tepat dihadapannya.
"Tuan putri Silviana, sungguh sangat menyenangkan melihat sosok yang mampu bersaing dengan putri penguasa naga." Ucap Varjo de hores dimana kini memandang wajah Silviana dari cermin dihadapannya.
"Untuk kesekian kalinya kau mengoceh tentang hal yang tidak penting seperti itu varjo." Balas Silviana dengan tatapan tajam dan dipenuhi rasa benci.
"Aku hanya memuji anda nona Silviana, tapi kenapa kau bersikap seperti aku adalah seorang musuh."
Silviana berdiri dengan tegas, tatapan tajam tidak sekali pun takut...."Kau memang musuhku vajro, karena kau harusnya sadar atas semua perbuatanmu."
"Dalam cinta, semua adalah perang, aku akan membunuh setiap orang yang menghalangiku." Ucap Varjo menujukan senyum yang kuat.
"Dan orang yang kau bunuh adalah kakakku dan ayahku." Berteriak marah Silviana dengan marah.
"Kau pantas untuk hal ini Silviana, karena kecantikan yang kau miliki, terlebih dengan kekuatan dewa Sunawa, biar pun jagat raya menjadi musuhku, aku akan tetap menjadikanmu milikku." Balas varjo de hores yang tertawa.
"Ingat ini varjo, biar pun kau memaksa aku untuk menyerahkan diri, tapi kau tidak akan mendapat apa yang kau inginkan."
"Semua itu hanya perlu waktu, dan sedikit demi sedikit kau akan memahaminya Silviana." Tapi varjo tidak merasa bersalah karena tindakannya.
Varjo berjalan pergi, suara tawa itu dengan jelas di dengarkan oleh Silviana, kebencian terhadap varjo tidak akan pernah bisa hilang, sampai nanti dia harus membayar semua yang terjadi dengan kematian.
Bahkan kematian masih jauh lebih baik, setiap rasa sakit yang di rasakan oleh Silviana adalah penyiksaan untuk dia balas kepasa varjo hingga setiap sel didalam tubuhnya merasakan itu.
Silviana duduk dengan perasaan rumit dan rasa kesal tidak bisa dia tahan lagi.
"Kalian berdua pergi." Perintah Silviana kepada para pelayan itu.
"Tapi tuan putri."
"Cepat pergi." Tegas ucapan Silvana.
Tanpa menunggu lagi, para pelayan yang ditugaskan untuk mengawasi Silviana pun berlarian keluar, dan mereka pun tahu seberapa kuat amarah Silviana.
__ADS_1