PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
belajar menghitung


__ADS_3

Sinar pagi telah muncul dari tiga bintang bercahaya terang di atas langit, Askar yang jelas tidak tidur karena menemani tiga wanita dalam semalam.


Tapi Karlina merasa aneh untuk sikap Fei sui sue dan Askar sekarang, karena di hari kemarin mereka tidaklah akrab, bahkan sekedar bicara saja pun seperti ogah-ogahan.


Sedangkan di saat ini Fei sui sue sangatlah lengket di sebelah Askar, bahkan tidak ada kesempatan untuk Karlina, karena di satu lengan sudah di tempati oleh Su yiu.


"Sejak kapan kalian sangat akrab, memang apa yang terjadi semalam." Bertanya Karlina dengan tatapan aneh.


"Aku dan Fei tidaklah akrab, hanya saja semalam sekedar mengobrol sebentar untuk mengatasi beberapa masalah." Jawab Askar untuk pertanyaan Karlina.


"Tapi kenapa sampai nempel-nempel begitu." Jelas Karlina menggeleng tidak jelas dengan sikap Fei sui sue.


"Lina, aku tidak akan merebut kekasihmu ini, aku hanya sekedar mengakrabkan diri saja." Fei sui sue pun ikut bicara untuk mencari alasan.


Askar tidak lagi mempermasalahkan persoalan di masa lalu, apa yang di katakan oleh Fei sui sue, untuk meminta maaf atas semua hal tentang kejadian memanfaatkan energinya.


Melihat bagaimana raut wajah Fei sui sue saat malam itu, ditunjukan untuk sebuah ketulusan agar menjalin hubungan kepada Askar.


Tapi Askar tidak begitu saja memberikan sepenuhnya permintaan maaf, hanya saja, untuk bermacam alasan Askar tidak ingin menjalin hubungan apa pun dengan Fei sui sue secara khusus.


Kecuali dalam hal lain, karena untuk wanita satu ini, Perjanjian antara Askar dan Fei sui sue, hanya sebuah keinginan mencari sebuah kepuasan dalam bercinta, menjadi alasan utama bagi Fei sui sue.


Tidak lebih dari itu...


Askar pun melanjutkan perjalanan untuk mencari satu pedang terakhir yang akan menjadi penentu seleksi turnamen ini.


Sedangkan dua pedang yang dia dapatkan dari wanita Le Wei cukup meringankan beban pekerjaan, karena tidak perlu dia bertarung melawan binatang iblis di sarang mereka.


Hanya saja masalah datang begitu cepat, karena baru mereka akan pergi, sekelebat bayangan dengan tiga wanita secara cepat menghentikan langkah Askar.


Tidak ada orang lain yang akan begitu cepat hanya untuk alasan sepele, dan nyatanya memang benar bahwa karena Le Wei ingin memperhitungkan kembali kejadian di hari kemarin.

__ADS_1


"Askar jangan pergi." Teriak Le Wei dengan keras untuk menghentikannya.


"Ok, baik, aku tidak akan pergi, tapi sebaiknya kau yang harus pergi." Balas Askar dengan nada suara serius.


"Kembalikan dua pedangku, dan juga Nona Fei....." Ucapnya yang memang ingin mengambil kembali pedang dari tangan Askar.


Sedangkan ketika dia melihat Fei sui sue merangkul lengan Askar, mulutnya diam dan terbuka, seakan syok atas apa yang dia lihat.


"Kau jangan dekat-dekat dengan wanitaku." Tegas ucapan Le Wei sembari mengacungkan pedang untuk mengancam Askar.


"Siapa yang kau sebut dengan 'wanitaku'." Tapi Fei sui sue dengan jelas membantah ucapan Le Wei.


"Siapa yang dekat-dekat, dia sendiri yang menempel kepadaku." Askar pun ikut ambil bicara karena sejak awal Fei sui sue sendiri yang mendekatinya.


Tapi tetap saja Le Wei tidak mau perduli, karena sejak awal dia menjadikan Askar sebagai lawan yang memang harus di kalahkan.


Semua itu demi mendapatkan kembali harga diri sebagai seorang lelaki yang pernah di kalahkan oleh Askar, termasuk memperlihatkan bahwa dirinya jauh lebih baik dari pada lelaki disampingnya itu.


"Jadi anda lebih memilih jalur kekerasan." Le Wei cukup yakin dengan kekuatan untuk sekedar melawan Askar.


"Siapa yang bilang begitu, aku tidak pernah meminta untukmu bertarung, tapi aku adalah orang orang akan membalas siapa pun jika diperlukan." Jawab Askar dengan tersenyum mengejek.


Wajah Le Wei dengan tegas menujukan tatapan mata tajam...."Jika kemarin aku kalah, karena aku belum siap, tapi sekarang...."


"Dan sekarang kau siap untuk kalah lagi." Lanjut Askar memotong perkataan Le Wei.


Sebagai orang yang di anggap dia akan mampu merebut kekuasaan Varjo, karena memang bakat miliknya sangatlah tinggi, tapi bagi Askar dia tidak lebih seperti badut.


Satu tarikan pedang pertama menghantam tanah, pelepasan energi secara besar-besaran membuat tanah terangkat tinggi dengan mudahnya.


Semua wanita bergerak mundur menghindari serangan Le Wei, hanya Askar sendirian, berdiri menantang dan mengangkat satu tangan.

__ADS_1


Berayun kuat dan menghantam dinding tanah dari ayunan pedang lawan, mudah bagi Askar dan tidak perlu membuang energi, hanya sekedar menghentikan serangan Le Wei.


"Kau harusnya belajar dari kejadian kemarin, aku membuatmu pingsan dengan satu pukulan, lantas coba kau hitung, berapa banyak pukulan untuk membunuhmu." Berkata Askar.


"Sepuluh kali ?, Jangan bercanda, kemarin kau hanya beruntung, aku sedikit lengah karena nona Fei sui sue membuatku kehilangan konsentrasi, tapi sekarang, tidak ada alasan lagi untukmu lengah." Penuh percaya diri jika Askar tidak lebih hebat darinya.


"Sebuah kebodohan lahir dari pikiran yang dangkal, aku suruh kau menghitung, tapi kau malah mencari alasan, apa kau tidak pernah belajar." Askar menggeleng pusing sebagai tanda penghinaan.


"Jangan banyak bicara."


Le Wei datang tanpa menunggu aba-aba, tidak ada wasit di tempat ini, bahkan segala resiko ditanggung oleh penumpang.


Bahkan jika harus saling bunuh, pada pengawas turnamen kerajaan beladiri, tidak akan mempermasalahkan tentang tindakan mereka.


Setiap wanita yang melihat dari kejauhan, tentu menyadari jika perbedaan kekuatan antara Askar dan Le Wei seperti langit dan bumi.


Saat itu dia mampu mengimbangi Payou dalam pertarungan tiga hari tiga malam, jika bukan karena dia adalah orang dari alam semesta keabadian.


Di turnamen kali ini, Payou sudah berdiri dipuncak tanpa harus kerepotan melawan semua keroco-keroco yang merangkak naik demi sebuah status.


Itu pun Askar masih seorang lord alam setengah saint tahap akhir, sedangkan kali ini dia berada di lord alam saint suci tahap akhir.


Payou tidak lagi menjadi lawan untuk seorang Askar, mudah baginya melayangkan satu pukulan dan semua selesai.


Pedang emas bergerak cepat melayang mengarah tepat ke leher Askar, tidak bergerak, Le Wei tersenyum bangga karena serangan kali ini diyakini akan membunuh Askar.


Saat mata pedang menyentuh kulit Askar, Le Wei dan semua wanita yang melihat terkejut bukan main, karena senjata lord itu hancur menjadi kepingan-kepingan cahaya emas kecil.


"Bagaimana mungkin..." Le Wei menolak percaya tapi dilihatnya sendiri bahwa pedang itu hancur.


Selagi Le Wei masih belum sadar atas sadar dari kejutan itu, Askar mencengkram kepalanya, diangkat keatas, dan tidak lepas walau Le Wei meronta-ronta.

__ADS_1


Dengan kuat Askar membanting tubuh Le Wei keras ke tanah, getaran dashyat datang hingga mampu menumbangkan pohon-pohon besar di sekitar.


__ADS_2