
Ini sangat mengejutkan, Askar tidak hanya mengalahkan Remure Tianmu soal kekuatan walau itu dalam pertarungan roh, dan roh miliknya juga diambil oleh Askar.
Tentu seperti sudah jatuh tertimpa tangga, tangganya yang suka gibah pula, berat di badan, berat juga di pikiran, itu dirasakan oleh Tianmu sekarang.
"Askar apa yang sudah kau lakukan." Ucap Remure Tianmu dewa wajah bengong tidak percaya.
"Aku tidak melakukan apa pun, hanya memberikan pilihan kepada Rudolfo, tapi sayangnya dia lebih memilih mengikutiku." Santai saja Askar menjawab.
"Kau tahu seberapa berharganya roh itu."
"Aku tahu, dan kau yang tidak bisa merawatnya dengan baik, roh juga punya pikiran untuk memilih seorang tuan yang lebih baik." Tegas jawaban Askar tangan tatapan mengancam kepada Remure Tianmu.
Tidak ada yang mampu membantah perkataan Askar, dimana saat ikatan roh kontrak terlepas, itu sudah bukan tanggung jawab sang pemilik.
"Aku tidak bisa menerima ini."
"Jika kau tidak bisa menerimanya, maka datang kembali dan ambil sendiri." Itu yang Askar tegaskan kepada Remure Tianmu.
Askar sendiri merasa yakin jika keluarga dari Remure Tianmu bukanlah sembarangan, dimana mereka mampu mengikat roh sekelas Rudolfo secara paksa.
Bahkan dalam ingatan Asyura, saat dia mengambil Aza El haramale, pertarungan sengit melawan raja roh satu ini benar-benar memberi perlawanan yang kuat.
Biar pun Askar telah menginjak ekor singa yang nantinya akan mengejar dia, tapi Askar tidak ragu sedikit pun. Termasuk ini menjadi balasan atas penghinaan yang Remure Tianmu tunjukan kepadanya.
"Akan ada waktunya saat aku membalas semua ini Askar." Berkata Remure Tianmu sembari melangkah pergi.
"Lakukan saja apa yang kau mau, aku siap melawanmu senior." Askar membalas tanpa rasa takut.
__ADS_1
Kini Askar merasa cukup lega atas kepergian lelaki membagongkan satu itu dari hadapannya, pelepasan skill pemangsa pun memberikan efek samping ke tubuh Askar.
Jika saja dia memilih berbalik melawan Askar kembali, tidak ada kesempatan untuk dirinya membela diri, karena hampir 90% kekuatan dalam tubuh telah habis.
Kini sosok guru besar Gorongo datang membawa tiga wajah samar-samar dilihat Askar dan bukan berasal dari padepokan beladiri pedang semesta.
Masing-masing menggunakan baju dengan warna berbeda, Gorongo merah, serta lainnya hitam, kuning, dan biru. Jelas ini membuat Askar sadar, bahwa mereka bertiga berasal bukan dari pedang semesta.
"Jika ditambahkan warna pink, lengkap sudah menjadi power rangers." Celoteh saja Askar dalam berbicara.
"Apa yang kau maksudkan Askar." Balas Gorongo tidak tahu arti ucapannya itu.
"Tidak jangan dipikirkan, aku hanya sedikit mengingat sesuatu yang tidak penting." Ucap Askar sembari tersenyum.
Askar penasaran atas tujuan apa tiga perguruan yang ada di sekitar wilayah pedang semesta datang kemari, tidak mungkin hanya sekedar berkunjung.
Karena mereka yang saling bersaingan, datang bersama-sama di waktu yang tepat pula, kecuali ada satu hal menjadi alasan atas kehadiran mereka disini.
"Aku tidak mengambilnya tuan, tapi dia sendiri yang memilih untuk mengikutiku." Askar membalas perkataan lelaki paruh baya itu dengan nada sopan.
"Tapi apa kau tahu, kau sudah memiliki roh yang sedemikian hebat, dan kau pula mengambil roh legendaris milik Tianmu, itu bukannya akan membuat tubuhmu terbebani." Perjelas kembali Reswo kepada Askar.
"Semoga saja itu tidak terjadi." Tapi Askar tidak menolaknya.
Askar memang tahu, seberapa besar penyerapan energi Aza untuk mempertahankan dirinya dalam pertarungan, walau tidak diluar dunia imajinasi, itu masih saja cukup besar.
Tapi Askar bisa sedikit lebih tenang, dimana dunia imajinasi memiliki energi sendiri yang dijadikan penopang hidup bagi Aza, dan ditambah satu roh lagi itu tidaklah jadi masalah.
__ADS_1
Lepas dari itu, kehadiran tiga guru besar padepokan terkenal ini pun Askar ketahui, bercerita segala arah, hingga tujuan mereka adalah satu.
"Aku tidak pernah tahu ada bakat yang mampu melampaui tuan penguasa pedang di alam semesta kerajaan beladiri ini, tapi kenapa kau baru muncul sekarang Askar." Serda dari istana surgawi pun angkat bicara.
"Sejak awal, aku adalah keponakan dari Gorongo, tapi dari kecil aku diasuh oleh kakek Loe Teu Yiu dan menjadi muridnya." Askar memberi penjelasan seperti yang di rencanakan.
"Tapi atas dasar apa kau pergi dari tempat tuan Loe Teu Yiu."
"Kakek loe teu yiu meminta aku untuk menambah pengalaman, sehingga kakek mengurusku untuk berlatih di sini." Askar cukup ahli dalam mencari alasan.
"Jadi begitu, tidak aku sangka, tuan penguasa pedang menemukan bakat yang luar biasa." Reswo pun mengangguk mengerti atas penjelasan Askar.
"Itu bukan lah seberapa, aku masih terlalu muda untuk membanggakan bakat yang sebesar ini." Dan Askar dengan santainya merendah diri.
Jika diawal mereka tahu nama Askar, tidak ada hal lain yang bisa membuatmu ketiganya tertarik kecuali nama Askar mampu melampaui langkah Loe Teu Yiu di menara puncak semesta.
Sedangkan ketika Askar mengalahkan Remure Tianmu, pandangan ketiganya semkain jelas, jika Askar bukan sosok sembarangan untuk sekedar bakat yang dia miliki.
Askar mampu bertanggung jawab atas kekuatan yang dia miliki, dan statusnya sebagai murid dari sang penguasa pedang Loe Teu Yiu. Kalau tidak, bisa dipastikan Askar hanya akan membuat nama besar penguasa pedang menjadi malu.
Jelas dirasakan oleh Askar, atas tatapan mata tajam dari para murid guru besar masing-masing akademi mengarah kepada dirinya.
Sama seperti biasanya, mereka memiliki rasa kepada Askar, jauh lebih dalam dari sekedar perhatian, namun tidak ada bumbu-bumbu romantis yang bisa di rasakan, karena 7 dari 9 murid adalah lelaki.
Dan mereka-mereka lah yang jelas menatap Askar penuh makna, tentu itu adalah permusuhan dimana Askar lebih mendominasi dari pada mereka, hingga mendapat banyak perhatian.
"Jika hanya melawan Remure Tianmu kita tidak pernah bisa membandingkan seberapa kuat dia tuan." Ucap satu murid di belakang Quo.
__ADS_1
"Apa maksudmu anak muda." Gorongo balas bertanya dia merasa tidak nyaman atas salah satu murid dari istana surgawi.
"Tuan Gorongo, Biarkan Askar ini ikut berlatih tanding dengan kami, jika memang bakatnya seperti yang dikabarkan, tentu cukup mudah dia lakukan." Balas satu murid itu dengan nada suara mengejek.