
Tidak ada yang bisa menghentikan Omen, dimana dua belas orang di masing-masing sudut segel prasasti, hanya bisa diam di tempat.
Sekalinya mereka lepas konsentrasi untuk menghentikan kerja segel prasasti, maka energi yang ada dalam jiwa Sphinx itu akan menjadi sangat berbahaya.
Ibarat bom, salah sedikit maka seluruh alam semesta kerajaan suci akan binasa, karena di jiwa Sphinx itu adalah sekumpulan energi yang berasal dari ribuan binatang iblis tingkat tinggi dan binatang mistik.
Tentu tidak ada yang bisa membayangkan, jika ledakan itu terjadi alam semesta kerajaan suci lenyap dari jagat raya, termasuk peradaban didalamnya.
Dari pandangan Omen.
"Bukankah ini sangat mustahil." Omen menelan ludah ketika dia melihat langsung sosok Sphinx tepat di bawahnya.
Tuannya memerintahkan untuk menyerap kekuatan Sphinx, sedangkan Omen sendiri tidak merasa yakin apa tubuhnya muat dengan semua energi super besar itu.
"Tapi ini adalah perintah, aku harus siap." Tegas Omen dengan pasti.
Omen berjalan di tengah-tengah segel prasasti, sang jiwa Sphinx menatap kucing belang-belang oren putih itu tanpa ekspresi, dan ini menjadi syarat terakhir untuk membangkitkan Sphinx.
Sebuah wadah dan hanya Omen yang kini berdiri dekat dengan tujuan mengorbankan tubuhnya sendiri demi menyerap habis seluruh jiwa itu.
Sang Sphinx pun meleburkan diri menjadi kepingan-kepingan cahaya kecil keemasan, berputar-putar mengelilingi Omen dan perlahan memasuki tubuh.
Di dalam alam bawah sadar, omen memasuki mode pencerahan, dan hadir disebuah tempat serba putih yang penuh keping-keping cahaya keemasan.
Dan tepat dihadapan Omen wujud Sphinx hadir menampakan diri dengan tubuh singa berkepala manusia.
"Dua, tiga, minum jamu, Binatang kecil, siapa namamu." Ucap Sphinx saat setelah mereka bertatap muka secara langsung.
"Heh ?, Apa itu." Bingung Omen mendengar perkataan Sphinx.
"Dua, tiga, tambah satu, ini pantun, harusnya kau tahu." Balas kembali Sphinx dengan pantun.
"Aku tahu itu pantun, kenapa harus pantun, dari sejarah duniaku Sphinx itu memberi teka teki, bukan pantun." Itu yang Omen tahu.
Dalam sejarah yang diketahui jika Sphinx mengajukan sebuah teka teki kepada orang-orang untuk memberi kepantasan hidup bagi mereka.
"Aku sudah bosan mengajukan teka-teki mereka manusia terlalu bodoh untuk memikirkan jawabannya." Lemas jawaban Sphinx.
__ADS_1
"Jadi begtu.... Orang gila makan permen, Aku adalah Omen." Balasnya dengan berani.
"Omen kah, baiklah, apa yang membuatmu berani membangkitkan aku dari kematian."
"Bukan aku yang melakukan semua ini, aku pun hanya korban untuk dijadikan sebagai tumbal dari orang-orang demi membangkitkan mu kembali." Omen jelas membalas dengan kemarahan.
Karena dia pun merasa kesal kepada orang yang telah membuat jiwa chimera didalam tubuhnya tewas.
"Jadi begitu, secara tidak langsung aku menempatkan diri untuk masuk kedalam tubuhmu." Sphinx memahami keadaan Omen.
"Ya seperti itulah."
Sejenak Sphinx memejamkan mata, dia pun berada dalam posisi terpaksa karena tidak memiliki wadah untuk menampung jiwanya.
"Aku memiliki beberapa kondisi, apa kau akan menerima jika aku menempati tubuhmu."
"Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau aku akan menuruti apa yang kau inginkan, asal satu hal, kau berada di pihak tuanku." Berkata Omen dengan tujuannya.
"Selama itu tidak merugikan orang lain, aku ada di pihak yang benar." Jelas itu adalah sifat dari Sphinx.
"Cakep."
"Ini bukan pantun." Balas Omen.
******
Jelas yang terjadi tidak ada dalam rencana Azela, dia marah, karena tujuannya untuk mengorbankan diri sebagai wadah Sphinx harus di gantikan oleh seekor kucing.
Dengan kemarahannya itu, Azela mengeluarkan energi kuat dan menghantamkan ke tangan Askar, dimana itu membuat Askar terlempar jauh.
Azela berusaha keras untuk mencapai lokasi Omen, hanya saja, saat langkah kakinya menginjak tepian segel prasasti, ledakan besar pun terjadi.
Tubuhnya terlempar tanpa mampu mengambil pijakan demi bertahan, hantaman dinding gua pun keras membentur tubuh, dirinya jatuh dengan luka yang tidak ringan.
Beberapa tulang Azela patah, aliran energi menjadi kacau balau, dan inti kehidupan pun hampir hilang dari dalam tubuhnya.
Begitu pula dengan dua belas orang yang mengelilingi segel, keadaan mereka sama kritisnya seperti Azela.
__ADS_1
"Kalian semua manusia-manusia yang telah di selimuti kebencian, dendam dan hasrat membunuh, aku sang pembawa keadilan harus menghapuskan kalian." Suara itu datang dari kepulan asap sia-sia ledakan.
Askar mengarahkan pandangan menuju tempat suara itu datang, dan satu sosok yang sangat dia kenal pun muncul.
Dia adalah Omen, tapi hanya wujudnya saja, beda dengan jiwa didalamnya, karena kekuatan Sphinx yang lebih mendominasi, tentu Omen tersingkir dari peran utama.
Bisa dirasakan aura kuat yang benar-benar luar biasa besar tergambar jelas di dalam zona persepsi, bahkan menutupi aura orang lain, termasuk juga untuk Askar.
Tapi Sphinx yang melihat Askar segera melenyapkan niat membunuh kepada orang-orang Azela, jika bukan karena kehadiran Askar sebagai dewa Asyura, tentu Sphinx akan melenyapkan semua orang.
Askar berjalan mendekat tanpa rasa takut jika terjadi serangan, karena ingatan Sphinx tidaklah lenyap mengenai sosoknya sebagai dewa Asyura.
"Dewa pemangsa, Asyura terima hormat dariku." Ucap Sphinx dalam wujud Omen.
"Aku tidak tahu harus aku ucapkan apa, selamat atas kebangkitanmu, atau maaf karena membuatmu bangkit, Sphinx." Askar yang tentu mengingat sosok peliharaan dari Sunawa itu membalas sapaannya.
"Sejak awal aku tidak berharap untuk dibangkitkan kembali, tapi karena aku sudah disini, aku akan tetap menjalankan tugas yang di berikan oleh Dewi Sunawa." Berkata Sphinx menjawab pertanyaan Askar.
"Tapi Dewi Sunawa telah tiada, kini hanya keturunannya saja yang membawa takdir dari keajaiban hidup." Askar mengatakan kenyataan tentang dewi Sunawa.
"Begitu kah." Terdengar lemas jawaban Sphinx.
Askar tahu jika kebangkitan dari Sphinx, adalah satu hal yang baik bagi alam semesta kerajaan suci, tapi kejadian ini membuat Asy menjadi korban.
Terlalu banyak yang dirugikan dengan bangkitnya Sphinx, Askar ingin mengembalikan semua itu kembali seperti semula.
Askar membawa tubuh Asy yang kini hanya tersisa jasad kosong tanpa jiwa, dia merasakan penyesalan, saat semua itu diambil paksa oleh Azela.
"Jadi Sphinx, apa kau bisa mengembalikan jiwa dari gadis Phoenix ini." Bertanya Askar dengan menujukan tubuh Asy di hadapan Sphinx.
"Mustahil, tanpa adanya Dewi Sunawa atau pemilik keajaiban hidup dalam pemahaman penuh, membongkar jiwa dalam diriku adalah hal yang sangat sulit."
Ini jadi masalah, Askar belum sampai ke tingkat kesempurnaan dari keajaiban hidup, karenanya, akan mustahil memisahkan jiwa dari Asy.
"Tidak perlu khawatir, aku ada disini." Saut suara seseorang dimana kemunculannya tidak dirasakan oleh Askar.
Secara tiba-tiba sosok manusia tanpa bisa Askar lihat wajahnya, berjalan maju mendekati Askar, zona persepsi tidak bisa melihat apa pun, tapi tidak Askar rasakan niat jahat darinya.
__ADS_1