PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
sepandai-pandainya tupai melompat


__ADS_3

Cara yang kakek Loe Teu Yiu tunjukan memang ada benarnya, selama ini Askar hanya berfokus kepada ayunan lengan sekuat tenaga.


Tapi itu juga berbalik memberikan resiko besar terhadap daya tahan tubuh, ini jelas sangat berbahaya untuk pertarungan dalam jangka lama.


Walau dia bisa saja menggunakan pedang dewa pemangsa kematian, tapi dalam kasus ini, Askar tidak ingin bergantung dengan senjata sebagai faktor kemenangan.


"Aku bisa pastikan dalam kondisi tanpa menggunakan skill pemangsa, kau hanya mampu mengayunkan empat serangan." Ucap sang penguasa pedang dengan empat jari terangkat.


"Tiga." Balas Askar meralat perkataan Loe Teu Yiu.


"Tuh.... Bahkan lebih sedikit dari perkiraanku." Tegas tanggapan kakek Yiu mendengar ucapan Askar.


"Tapi..." Askar hendak menjawab tapi berhenti karena itu masih jauh dari pengalaman.


"Pada akhirnya, ketika lawan mengandalkan kecepatan tinggi, pedang besarmu tidaklah berguna." Sangat jelas jika Loe Teu Yiu menghina Askar, tapi apa daya itu menang benar adanya.


Kakek Loe Teu Yiu sangat berpengalaman dalam teknik bertarung menggunakan pedang, bahkan hanya perlu sebuah senjata biasa, dia mampu mengalahkan ratusan musuh.


Karena hal itu, dia tidak menyukai cara Askar bertarung dengan senjata berat, bukan tentang seberapa kuat mampu mengayunkan pedang.


Tapi tentang semua gerakan yang hanya membuang-buang energi demi melayangkan satu serangan saja.


"Mungkin memang tidak masalah jika kekuatanmu setara dengan lord alam Saint suci, tapi jika kau sudah mencapai batas penggunaan skill pemangsa, apa yang akan kau lakukan ?, Pasrah ?." Terdengar nada marah dari kakek Yiu.


"Tentu tidak, aku akan terus berjuang walau nyawa adalah taruhannya." Askar menjawab penuh kemantapan.


"Itu yang aku benci kepada tokoh utama dalam novel beladiri." Lemas balasan atas ucapan Askar.


"...... Hmmm." Askar diam tanpa berani menjawab.


"Bertarung hingga titik darah penghabisan, bertaruh nyawa sampai mati... Prett."


"....." Askar semakin menunduk malu atas semua ucapan dari kakek loe teu yiu.


Melihat bagaimana Loe Teu Yiu mengomentari jawaban Askar, sangat jelas bahwa bertentangan dengan prinsip sang penguasa pedang.


"Apa dengan kau mati, semua akan berakhir baik, orang-orang akan selamat, dan musuhmu akan kasihan melihat perjuanganmu, kemudian pergi begitu saja." Perjelas jawaban Loe Teu Yiu


"Itu.... Sepertnya tidak mungkin." Askar menjawab dengan nada lemas

__ADS_1


"Ya, tidak akan pernah terjadi, jika kau mati, maka semua cerita akan berbeda .... Dunia dibalik batas, catatan tokoh utamanya sudah tewas, apa kau mau itu terjadi ?." Marah Loe Teu Yiu dihadapan Askar.


"....." Askar hanya menggeleng dengan jawabannya.


Memang benar jika plot amor yang melindungi Askar dari kekalahan dalam cerita sangat mempengaruhi setiap kemenangannya.


Tapi itu juga berbalik arah memberi rasa bosan, dimana orang pasti akan menebak jika Askar akan menang, lagi dan lagi.


Tanpa kekalahan orang tidak akan belajar untuk menjadi lebih baik, dan Askar pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia hanya mengikuti alur ceritanya saja.


"Karena itu, kau harus meminimalisir kekuatan yang tidak perlu, agar bisa menyimpan kekuatan untuk membuat peluang mengalahkan lawan." Cukup meyakinkan Loe Teu Yiu dengan pendapat dari pengalaman yang banyak.


"Contohnya." Askar penasaran.


"Aku pernah mempelajari gaya bertarung menggunakan senjata berat dari seorang ahli gada."


"Apa bisa pedang disamakan dengan sebuah gada." Askar menjadi bingung.


"Paling tidak besar dan beratnya hampir sama, dan dia tidak berfokus kepada kekuatan lengan." Balas Loe Teu Yiu kembali untuk menyelesaikan ceritanya.


"Bagiamana mungkin ?."


Askar secara tak lazim mengangguk paham, dia memang buta akan teknik beladiri senjata, terutama pedang, karena selama ini Askar hanya menggunakan gerakan ala kadarnya.


Asal kena dan asal musuh kalah.


"Pegang pedang, angkat dengan kaki, putar pinggang, ayunkan, sanggah di bahu, jatuhkan ke belakang, tendang dari belakang dan angkat ke atas jatuhkan kembali ke depan, dorong tubuh mengikuti ayunan, lompat ke atas dan menarik kembali pedang dengan satu putaran penuh."


Sebuah gerakan sederhana, dimana kakek Loe Teu Yiu tidak menggunakan kekuatan lengan, tapi semua anggota tubuh bekerja dengan selaras untuk satu serangan.


Askar bertepuk tangan, dia sangat kagum karena melihat kombinasi gerakan yang diperagakan oleh penguasa pedang.


"Kau harusnya menyadari, jika aku tidak menggunakan kekuatan lengan dan semua momentum berfokus kepada pedang itu sendiri."


"Aku masih harus banyak belajar untuk memahami cara bertarung lebih baik."


"Ini bisa kau jadikan teknik darurat, ketika seluruh energimu terkuras habis."


Askar pun mencoba untuk mengikuti setiap gerakan yang terlah diperlihatkan oleh Loe Teu Yiu, dan cukup ahli Askar memahami setiap penjelasannya.

__ADS_1


Sejak awal Askar memang tidak memiliki guru yang cocok untuk mengajarkan ilmu beladiri berpedang, tapi kini dihadapannya, sosok berjuluk penguasa pedang memberi solusi demi menambah wawasan Askar.


Lepas dari kesibukan Askar mempelajari bermacam ilmu beladiri dengan Loe Teu Yiu.


Su yiu secara langsung melihat didalam ruang pelatihan yang mereka gunakan, tersirat jelas adanya rasa penasaran kepada Askar.


Dia yang sudah merasakan pertarungan bersama Askar, Su yiu sangat tahu jika lelaki itu memiliki bakat luar biasa dalam hal beladiri.


Karena tidak ada yang bisa mengasah kemampuan itu, bakat Askar menjadi sia-sia dan berakhir dengan posisi dirugikan.


Sebuah pertanyaan terdengar dari Askar.


"Kakek Yiu, sebelumnya semua pedangku berasil dipotong oleh Su Yiu, bagaimana itu bisa terjadi." Itu pertanyaan dari Askar.


"Itu bukan teknik, tapi adalah trik." Jawab Loe Teu Yiu.


"Trik ?, Bisa anda ajarkan."


"Ini sangat mudah bahkan anak ingusan saja tahu." Tegasnya sedikit terdengar menghina.


"Berarti aku jauh lebih bodoh dari seorang anak ingusan." Gumam Askar yang merasa terhina.


Kakek Loe Teu Yiu pun memanggil Su yiu yang sudah berdiri di sebelah pintu untuk memperhatikan Askar berlatih.


Diberikan su yiu sebilah pedang dan bersiap dalam posisi awal tanpa bergerak, ketika berayun tiba-tiba saja terpotong oleh kakek.


"Apa kau sudah paham ?." Bertanya Loe Teu Yiu kepada Askar.


"Sejak kapan ada anak ingusan yang paham melihat gerakan tanpa penjelasan itu." Kesal Askar sendiri.


"Kau terlalu banyak meminta Askar.... Jadi begini."


Loe Teu Yiu pun menjelaskan jika sebuah pedang tentu memiliki beberapa titik yang menjadi kelemahan, salah satunya dibagian setelah pegangan.


Dimana itu akan membuat pedang terpotong jika serangan tepat mengenai titik kelemahan dibagian paling rentan.


"Ah sekarang aku mengerti, jadi bukan karena tipisnya pedang yang digunakan oleh Su Yiu." Askar memahami semua penjelasan Loe Teu Yiu.


"Sebenarnya itu juga pengaruh, tapi akan percuma jika kau tidak tahu triknya." Santai dia menjawab.

__ADS_1


Sebuah logika yang bisa Askar terima, jika di jadikan pribahasa, itu seperti... sepandai-pandainya tupai melompat jika tidak tahu caranya, maka percuma saja.


__ADS_2