
Pemandangan yang tidak menyenangkan untuk dilihat oleh siapa pun, termasuk Sina, Rea atau pun Askar sendiri, ketika semua orang disekitar mereka menujukan raut wajah murung.
Semua sisa pertempuran dari alam semesta kerajaan beladiri masih membekas di setiap sudut kota kerajaan suci.
"Tuan apa tidak ada keinginan untuk membangun kota ini kembali."
"Tentu kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kerusakan akibat serangan itu terlalu parah, sedangkan mereka mengambil banyak hal, dari harta hingga nyawa." Ucapnya dengan nada suara lemas namun menyimpan luka penuh kemarahan.
"Aku mengerti sekarang." Askar tidak bisa berkomentar lebih banyak.
Semua yang terjadi tentu tidak bisa mereka terima, karena itu memberikan dampak besar bagi seluruh penduduk alam semesta kerajaan suci.
Bahkan Askar pun melihat sebuah istana besar yang harusnya terlihat megah, mewah dan indah kini hampir sebagian besar hancur.
Tempat ini menjadi kampung halaman bagi dewa Sunawa, dipenuhi oleh energi murni yang terbentuk dari kehadiran para roh suci, kekuatan spiritual dan hanya dapat di lihat oleh mata batin.
Dari sekian banyak alam semesta di jagat raya hanya tempat ini saja yang memiliki keistimewaan untuk menghadirkan sebuah energi spiritual.
Itu semua menjadi berkah yang dibentuk oleh silviana, dengan kekuatan keajaiban hidup. Tapi bukan tidak memiliki arti, karena energi spiritual dari para roh suci mampu memberikan peningkatan kekuatan bagi mereka.
Askar dibawa masuk kedalam ruang kerajaan, dan berhenti tepat di luar pintu, dua orang yang membawa Askar pun menujuk ke pintu... "Tuan Askar, ratu Azela sudah menunggu anda."
"Hmm baiklah." Jawab Askar dengan tersenyum sopan.
Sebuah tempat dimana hanya satu wanita paruh baya berambut keemasan namun sedikit luntur oleh ubah, duduk santai di meja bundar dengan begitu banyak kursi kosong.
Bisa terlihat dengan jelas bahwa ketika wanita paruh baya itu masih dalam masa mudanya, dia sangatlah cantik, Askar cukup ahli untuk menilai paras seseorang.
Biar pun dianggap orang lain kemampuan ini tidaklah memiliki arti, tapi bagi Askar sangatlah penting, karena dia bisa tahu bagaimana sifat seseorang dari raut wajah yang ditunjukan.
Dan Askar pun merasakan aura yang familiar muncul dari dalam tubuhnya, dia tentu memiliki hubungan khusus dengan Silviana.
Melihat wanita paruh baya berjalan datang dengan selintas senyum untuk menyambut kehadiran Askar.
__ADS_1
"Tuan Askar, dan tuan Loe Teu Yiu senang berjumpa dengan anda." Terucap suara lembut dari bibir merah muda yang mulai pudar.
"Terimakasih ratu Azela." Askar membungkuk untuk menujukan sikap sopan santun kepada sosok yang lebih senior.
"Azela tidak perlu kau terlalu formal untukku, kita sudah cukup lama saling kenal." Balas Loe Teu Yiu yang harusnya memang mengenal sosok Azela.
Dari kesenjangan usia antara Loe Teu Yiu dan Azela, itu tidak lah terlalu jauh, walau Azela lebih muda, tapi karena status sebagai orang penting di jagat raya, membuat keduanya tahu satu sama lain.
"Biar pun begitu, anda lebih terhormat daripada wanita tua seperti aku ini, tuan Loe Teu Yiu." Azela dengan jelas merendah diri atas kehadiran sosok penguasa pedang.
"Jika kau anggap dirimu sendiri sudah tua, aku bagaimana ?." Balas Loe Teu Yiu yang tersenyum lemas.
"Sesepuh mungkin." Singkat saja Azela berkata.
Terlihat jelas wajah Loe Teu Yiu kaku dan tidak bisa menerima ucapan Azela yang membuatnya tidak nyaman.
"Saat kau mengatakan itu aku merasa sangat tua diantara semua orang tua yang ada di jagat raya ini." Balas Loe Teu Yiu.
"Hei aku baru tiga ratus tujuh puluh ribu dua puluh delapan tahun." Tegas jawaban Loe Teu Yiu.
"Aku rasa itu tidak jauh beda." Balas Azela yang memang menyandingkan loe teu yiu sebagai sosok sesepuh bagi alam semesta atas.
Askar memang tahu jika usia orang-orang yang sudah menginjak tingkatan lord, bisa mencapai puluhan ribu tahun, bahkan untuk sekelas Loe Teu Yiu sebagai lord alam keabadian tertinggi, bisa jutaan tahun.
"Aku yang baru berusia 24 tahun ini, seakan bukan apa-apa bagi kalian." Lemas Askar memberikan tanggapan.
"Tapi aku kagum kepadamu Askar, usia 24 tahun dan sudah mencapai lord alam guru, itu bukan satu hal yang bisa dicapai oleh orang biasa." Azela memiliki perhatian khusus kepada Askar.
"Untuk beberapa alasan ini memang berkah yang aku miliki ratu Azela." Balas Askar merendahkan diri.
Askar memperhatikan dengan seksama cara Azela berbicara, jelas sekali kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu dan mencoba menutupinya dengan senyuman.
"Tuan Askar, aku sudah mendengar, jika sebelumnya kau adalah orang yang menyelamatkan Silviana dan kakek Ji." Berkata Azela.
__ADS_1
"Kurang lebih memang seperti itu, tapi aku tidak bisa menyelamatkan kakek Ji, setelah beliau menyerahkan telur emas berisi jiwa Silviana, kakek Ji meledakkan diri untuk melindungi kami dari kejaran pasukan alam semesta kerajaan beladiri." Askar pun menjelaskan tentang kejadian itu kepada Azela.
Saat itu Askar tidak bisa berbuat apa pun, tingkat kekuatan yang jauh berbeda, dimana dirinya tidak lebih seekor semut dihadapan para pasukan alam semesta kerajaan beladiri.
Jika pun Askar mencoba melawan, itu hanya akan menjadi kematian, dan satu-satunya pilihan adalah pergi, saat kakek Ji mengorbankan dirinya demi memberi kesempatan untuk keselamatan Silviana.
"Jadi begitu, aku sangat berterimakasih karena sudah menjaga Silviana tuan Askar." Azela hampir bersujud tapi Askar menghentikannya.
"Itu .... aku tidak bisa menyelamatkan Silviana saat orang-orang alam semesta kerajaan beladiri datang kembali, maafkan aku." Berkata Askar yang diliputi rasa penyesalan.
"Anda sudah berjuang tuan Askar, karena jika awal mereka mendapatkan jiwa Silviana dalam telur, itu akan memudahkan Varjo de hores mendapat kekuatan keajaiban hidup dengan mudah."
"Tapi ini berakhir sama saja, karena Silviana dibawa paksa oleh mereka."
"Tidak tuan Askar, karena Silviana mendapat tubuh baru, Varjo tidak mungkin mengambil kekuatan keajaiban hidup tanpa persetujuan dari sang pemilik, sehingga kami bisa sedikit lebih tenang." Azela menujukan senyuman penuh makna kepada Askar.
Azela tentu menelan kepahitan yang telah di perbuat oleh alam semesta kerajaan beladiri, dia pun tidak bisa tinggal diam menyaksikan cucunya dipaksa menyerahkan kekuatan dewa Sunawa.
Tapi Askar tidak berbicara lebih lanjut, karena semua yang telah terjadi kepada Silviana, membuat dirinya sendiri merasa bersalah.
Askar pun memiliki rencananya sendiri untuk mengambil Silviana dari Varjo de hores, dan membalas perbuatan orang-orang yang telah membunuh keluarganya di istana Zilogia.
Hanya saja, satu pandangan Azela mengarah pada Ke'su, Askar tidak menujukan keanehan, walau penampilannya memang mencolok.
"Kenapa pangeran klan Phoenix ikut bersama anda tuan Askar." Ucap Azela yang merasa aneh atas kehadiran Ke'su.
"Dia ?, pangeran ku*nyuk ini hanya bertindak sebagai penjaga."
"Penjaga ?, Aku tidak tahu jika dia mau menjaga orang luar seperti anda tuan Askar."
"Tidak bukan aku, tapi dia." Tunjuk Askar kepada Asy yang berdiri di sebelah Sina.
Matanya terbuka lebar, saat Azela baru menyadari akan aura Phoenix yang membuatnya tahu, jika itu bukan berasal dari pangeran Ke'su, melainkan wanita itu.
__ADS_1