
Pandangan mata Juned menjadi tajam, senyum semangat saat sosok Askar muncul tepat dihadapannya.
Tanpa ragu, tanpa berpikir tentang resiko, Juned cepat bergerak, lompatan jauh datang kepada Askar dengan satu serangan gelombang kejut di tangan kanan.
Dengan tingkat seorang setengah saint tahap menengah, tentu kekuatan serangan dari Juned tidak bisa dianggap remeh oleh grandmaster sekali pun.
Tapi dihadapannya adalah Askar, satu sosok yang tidak lagi bisa diukur tentang kemampuan dalam tubuhnya, banyak orang mengatakan jika Askar sudah melampaui batas saint suci tahap akhir, sebagai seorang lord.
Walau itu barulah kabar angin, tapi kemenangan atas Lin Dan dari Shanghai Jiao tong akademi menujukan bahwa kekuatan Askar memang sudah di atas sanit suci.
"Asssskkaaaarrrr." Teriak Juned yang siap menghantamkan pukulan gelombang tepat di kepala Askar.
Juned yang secara sadar jika saat ini dia melawan Askar, menujukan wajah terkejut, karena dengan satu ayunan tangan menangkis pukulan Juned, dan melemparkan gelombang energinya ke atas langit.
Mata semua orang tentu tidak bisa berkedip, ketika mereka melihat Askar menepis pukulan Juned dengan tangan kosong, ledakan besar membengkak di atas atap istana utama akademi laut selatan.
Efek ledakan tentu dirasakan oleh semua murid yang berada tepat di bawahnya, hanya satu orang berdiri dengan santai dan itu hanya askar.
"Apa kau tidak bisa bersabar sedikit senior Juned, aku sedang membawa seseorang jika dia terkena seranganmu bagaimana." Ucap Askar yang berteriak keras memaki Juned.
Dengan menunduk patuh, Juned tidak melawan balik teriakan Askar kepadanya dan menjawab..."Ah iya maaf."
Askar segera menurunkan Dannis yang masih terkejut akan kehadiran kakak gurunya dan secara ajaib menyelamatkan dia dari bahaya serangan kuat Juned.
Walau bagi Dannis serangan gelombang kejut itu masih mampu untuk dia lawan, tapi tetap saja perlakuan khusus dari Askar didalam pelukannya.
"Jadi apa kau masih mau melanjutkannya." Berkata Askar dengan tatapan tajam kepada Juned.
"Tentu saja." Tanpa aba-aba Juned langsung menghantamkan pukulan telak yang jelas-jelas tepat di wajah Askar.
Ledakan gelombang muncul, setiap orang di sekitar Askar terdorong jauh hingga jatuh berguling, termasuk Dargo dan Dannis yang memang tidak siap menahan efek serangan Juned.
Tapi tidak untuk Askar, tanpa luka, tanpa bergerak, tanpa mengalirkan sedikit pun energi ke tubuhnya, pukulan Juned masih belum cukup membuat Askar jatuh.
__ADS_1
Senyuman Askar tidak turun, bahkan semakin terlihat jelas jika dia mengejek Juned yang berusaha keras demi melawan dirinya.
Diangkat kedua tangan, saling mengepal dan dihantamkan serangan yang jauh lebih kuat dari dua serangan sebelumnya.
Kali ini Askar mengangkat tangan kanan, cepat gerakan sampai tidak bisa dilihat oleh Juned, dan ketika dia sadar tubuhnya sudah melayang keatas.
"Kenapa ?, Bagiamana mungkin." Ucap Juned yang jelas-jelas tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
Jatuh dengan keras menghantam lantai, Askar berjalan santai menujukan senyuman mengejek kepada Juned yang kini hanya mampu berbaring.
"Jika dulu aku harus bertarung habis-habisan demi menahan sepuluh gerakanmu, tapi sekarang, dua puluh serangan pun tidak akan mampu melukaiku Juned." Berkata Askar yang jelas-jelas kesombongannya bisa dipertanggungjawabkan.
Dari sudut pandang Dargo, dia sangat ingat bagaimana sosok lelaki yang bernama Askar itu muncul.
Ketika pertarungan antar klan Majapahit dan Mataram kuno hanya karena sebuah persaingan semata.
Askar datang membawa kejutan bagi semua orang yang melihat, dia hanya seorang kaisar agung tahap awal, sosok tanpa ada harapan sebagai menantu klan Mataram.
Empat tahun, hanya butuh waktu singkat dia mengubah pandangan semua orang yang menganggap dirinya sebagai remah-remah sisa rengginang dari klan Mataram, menjadi warrior terkuat di dunia.
"Takdir seseorang memang tidak bisa di tebak, sungguh kau adalah kawan yang bisa aku banggakan." Gumam Dargo sembari tersenyum dalam gelengan kepala secara perlahan.
"Senior Dargo, apa yang kau pikirkan." Berkata Askar karena merasa aneh melihat dia senyum-senyum sendiri.
"Kau itu memang sangat menakjubkan Askar." Balas Dargo yang tertawa terbahak-bahak.
"Hmm apa aku bisa menolak pujian itu."
"Jika kau menolaknya maka aku merasa tidak berguna setelah berlatih selama puluhan tahun Askar." Balas Dargo dengan wajah rumit.
Dargo iri, tentu saja dia merasa iri, tidak hanya Dargo, semua orang, para grandmaster, ketua klan, pemimpin guild, warrior-warrior tingkat tinggi hingga kelas teri, mereka akan merasa iri akan bakat yang Askar miliki.
*******
__ADS_1
Askar berjalan pergi dengan Dargo dan Dannis ke perkumpulan MODAR.
Terlihat kesibukan setiap orang cukup sibuk akan kegiatan yang berhubungan dengan rencana-rencana dalam tujuan pemburuan di dalam dimensi.
Diantara semua orang itu, ada beberapa orang yang duduk santai sebagai anggota eksekutif perkumpulan MODAR.
Mereka adalah Luo Pau, Launa, putri Nadia dan beberapa wajah baru yang jelas-jelas cukup dikenal sebagai murid bagian dalam akademi, termasuk Zua, putri dari Nyi Raro kidul.
"Kawan, lihat siapa yang baru saja datang dari perjalanan panjang tanpa kabar." Berteriak Dargo menjadi perhatian bagi semua orang.
Memang jelas semua yang ada di dalam ruang perkumpulan kelompok MODAR terkejut dan berlarian saat melihat sosok Askar dari belakang punggung Dargo.
Dan satu orang yang paling cepat berlari mendekat kepada Askar adalah Zua, dia jelas sangat antusias atas kedatangan Askar setelah hampir dua tahun pergi tanpa ada tahu dimana keberadaannya.
"Kenapa kau baru pulang Askar." Jelas sekali jika Zua benar-benar merindukan Askar.
"Maaf, tempat yang aku datangi, sangat terpencil, itu tidak bisa di tembus oleh kekuatan apa pun, karenanya aku tidak mampu mengirimkan pesan telepati." Balas Askar yang dengan perlahan mengusap rambut Zua.
"Kau membuatku khawatir Askar dan juga kak Sina yang harus pergi dari akademi aku sempat bingung harus berbuat apa." Berkata Zua dengan wajah kesal dan juga marah bercampur menjadi satu.
"Maafkan aku, baiklah setelah ini biar aku bawa kau ke rumah agar bisa bertemu dengan ibu." Jawab Askar dengan mencoba menenangkan hati Zua.
"Ngomong-ngomong soal ibu, ibunda ratu bertanya tentang keadaanmu."
"Aku mengerti, nanti kita akan mampir sebentar."
Luo Pau, putri Nadia, dan Launa yang menjadi sosok kawan bagi Askar merasa senang atas kedatangan dia kembali, walau mereka tahu itu tidak lama, tapi ini jelas sangat membahagiakan.
Dan siapa sangka, semua anggota kelompok MODAR datang berbondong-bondong hanya untuk menyaksikan sosok legenda di akademi laut selatan.
"Apa ini mimpi aku bisa berdiri bersama tuan Askar."
"Biar pun ini hanya mimpi, aku merasa bahagia."
__ADS_1
"Jadi apa bisa aku meminta tandatangannya."