
Setiap orang yang hidup di alam semesta api mulia, lebih tepatnya, planet merah, memiliki daya tahan tubuh terhadap api, ditambah energi berkekuatan element api.
Seperti halnya Kan'so memang tubuhnya berotot dan keras, tapi jika menerima serangan langsung dari seseorang yang sama-sama berada dalam tingkat lord alam setengah saint, masih mungkin memberi luka.
Hanya saja kemampuan api yang Kan'so miliki menjadi sistem pertahanan tubuh, lapisan amor dari magma, dan itu menjadikan Kan'so sebagai salah satu keturunan klan Phoenix terkuat.
Dia pun terpilih sebagai salah satu wakil yang dikirim oleh alam semesta api mulia untuk ujian kasta tertinggi jagat raya, walau nyatanya Kan'so masih kalah dengan seseorang dari alam semesta dunia beku.
Persaingan ini sudah biasa terjadi antara kedua wilayah, dimana api mulia dan dunia beku mengirim sepuluh orang terkuat dari masing-masing klan untuk beradu mendapatkan kursi wakil di ujian kasta.
Seperti yang sudah-sudah wilayah api mulia masih mendapatkan kursi lebih banyak dari pada dunia beku, tapi bukan berarti wilayah es di sisi sebelah selatan alam semesta ini lemah.
Bagi mata orang-orang alam semesta atas keduanya adalah setara dalam kekuatan, tidak ada yang berani asal menantang bahkan mengajak berperang.
Tentu saja ini sudah membuktikan seberapa pantas alam semesta api mulia dan dunia beku bertengger di daftar puncak kasta tertinggi jagat raya.
Kembali ke pertempuran Askar dan Kan'so.
Benturan demi benturan, puluhan tangan berlapis elements magma dan pedang besar yang terselimuti hukum kegelapan saling beradu.
Wilayah sekitar tidak lagi berbentuk rata, semua tanah hancur, berlubang dan terhempas ke segala arah karena kekuatan pertarungan mereka.
Kini pangeran Ke'su jelas khawatir, dia dengan serius menatap Askar di atas kursi, sedangkan pengikut lain duduk bersila diatas tanah.
Selagi Askar dan Kan'so serius bertarung, pangeran Ke'su pun memanggil dewa suci So'ek untuk membahas sesuatu.
"Ada apa tuan Ke'su." Jawabnya dengan patuh.
"So'ek, sebelumnya kau mendengar jika lelaki bernama Askar itu memiliki beberapa tetes darah Phoenix, apa kau bisa memastikannya." Bertanya sang pangeran yang lebih mengkhawatirkan hal lain.
Jelas kehadiran Askar sudah menjadi sakit kepala bagi pangeran Ke'su, dan kini Asy, sang Phoenix sendiri menyatakan jika Askar membawa darah Phoenix asli.
Ke'su tentu semakin pusing jika seluruh pengikut klan Phoenix mengakui Askar dalam garis darah yang murni, karena ini pun akan membuat statusnya terancam.
"Sebentar tuan, biar aku terawang dengan mata ku." Jawab So'ek yang menujukan satu kemampuan.
__ADS_1
Mata so'ek menyala terang memancarkan sebuah kilauan api menyala dalam retina, sebuah kemampuan untuk melihat kondisi tubuh para keturunan Phoenix.
Sebagai dewa suci, tugas So'ek bukan hanya tukang bersih-bersih altar, atau pun penjaga altar kebangkitan, dia pun bertugas sebagai tabib bagi klan Phoenix.
Dan menggunakan mata itu, so'ek mampu memastikan segala macam kondisi bagi mereka yang masih dalam satu keturunan.
Pangeran Ke'su menunggu jawaban, dia gelisah, gundah dan galau, dimana raut ekspresi so'ek seakan tidak menyenangkan untuk di lihat.
"Bagaimana ?." Ke'su gugup.
"Sulit tuan, baju hitam emas yang melindungi tubuh bocah Askar itu, menghalau mata ini, tapi...."
"Tapi apa ?."
"Memang benar, ada sedikit aura Phoenix di dalam tubuhnya, dan lagi itu jauh lebih murni dari milik tuan." Jawab So'ek atas penglihatannya.
Ucapan so'ek memberikan pengaruh besar terhadap raut wajah sang pangeran, perbandingan antara dirinya dan Askar, kalah telak atas tingkat kemurnian darah Phoenix.
"Jika setiap orang tahu kalau Askar membawa kemurnian darah lebih kuat, mereka akan minta aku turun status." Gumam Ke'su sendiri.
"Tuan... ?." Suara so'ek memanggil.
'Aku harus mencari cara melenyapkan bocah ini tanpa di sadari oleh kakek Loe Teu Yiu.'
"Tuan ?."
'Sesuatu yang secara langsung bisa membunuhnya, tanpa perlu turun tangan.'
Pangeran Ke'su dengan binggung tetap berpikir, jika saja Askar kalah tapi dia masihlah hidup, dia ingin Askar tewas tapi siapa pun akan menganggap itu sebuah kecelakaan.
"Tuan ?." Sekali lagi So'ek memanggil.
"Ah itu dia." Berdiri tegak dengan wajah penuh semangat.
Sedangkan So'ek sendiri langsung jatuh karena terkejut ketika melihat sang pangeran berdiri secara tiba-tiba.
__ADS_1
"So'ek kenapa kau malah tiduran di situ." Bertanya Ke'su yang mengarahkan pandangan kepada so'ek dibawah.
"Siapa juga yang tiduran, aku jatuh, tahu." Kesal so'ek dan bergumam sendiri.
Pikiran pangeran terlihat segar karena menemukan rencana yang tepat untuk menyingkirkan Askar tanpa di ketahui oleh kakek Loe Teu Yiu.
Dia masih memberikan wajah dan seperti kata Asy, penguasa dari alam semesta pedang tanpa tanding tidak akan membiarkan dia bertindak seenaknya kepada Askar.
Dari tempat Askar bertarung, ledakan besar terjadi, Ke'su yang tidak perduli dan hanya memikirkan rencananya, tanpa siap, sesuatu cukup besar terbang mengarah kepada pangeran Ke'su, dan dia pun menangkis sesuatu itu agar tidak terkena lemparan Askar.
"Oi jangan lempar sampah sembarangan, kau tahu wajah ini lebih penting dari pada kedua orang tua mu." Teriak Ke'su yang marah kepada Askar.
"Dan yang kau anggap sampah itu adalah pengikutmu." Balas Askar dengan tersenyum kesal.
Ke'su segera melihat kemana dia melemparkan sesuatu yang ditangkis sebelumnya, dan sosok Kan'so tergeletak didalam lubang tanah karena pertarungan mereka.
"Siapa sangka kau mampu mengalahkan Kan'so." Walau kesal tapi sang pangeran masih menujukan apresiasi atas kemampuan Askar.
"Sebenarnya tadi dia masih sehat dan hanya terlempar saja, tapi kau memukulnya jadi kau sendiri yang mengalahkan Kan'so." Balas Askar dengan wajah tersenyum lemas.
Pangeran Ke'su berjalan dari kursinya, dia datang mendekat menuju Askar, dia tidak perlu khawatir kalau Ke'su sendiri akan menyerangnya, karena kakek loe teu yiu pasti akan bertindak.
"Lao'mo, kemarilah." Ke'su memangil orang terakhir.
"Baik tuan." Satu sosok yang terakhir terlihat biasa saja bahkan tidak unik seperti dua orang tadi.
Dilihat oleh Ke'su, kalau Askar kecewa dengan sosok Lao'mo yang berpostur tubuh seperti orang-orang pada umumnya.
"Kenapa aku merasa kau sedang kecewa ?." Ucap Ke'su penasaran.
"Tidak, aku hanya berharap orang-orangmu itu unik-unik, karena akan pantas jika dibuat sebuah sirkus, ah... kau pasti tidak tahu apa itu sirkus, jangan repot-repot mencari tahu." Jawab Askar dengan tersenyum mengejek.
"Terserah kau saja, aku hanya ingin mengganti pertarungan ini, aku akan mengujimu Askar, jika memang kau berhasil, aku pastikan Dewi Asy akan pergi tanpa paksaan." Berkata Ke'su dengan rencananya.
"Apa itu." Tanya Askar.
__ADS_1
"Berendam di dalam lereng gunung itu." Tunjuk pangeran Ke'su ke sebuah gunung yang paling besar di sekitar gunung lain.