
Askar tahu jika kehadiran empat orang ini memiliki niat buruk kepadanya, tapi siapa sangka apa yang muncul hanya mereka bertiga.
Kemana satunya, Askar bisa merasakan aura yang sangat kuat datang mendekat, dan itu tidak jauh dari ruangan tempat Askar bermeditasi.
Mereka bertiga yang muncul ini bukanlah masalah bagi Askar, walau pun tidak mudah mengalahkannya, tapi Askar bisa yakin jika dia akan menang.
Tapi untuk satu orang itu, hanya bisa dilawan jika Askar membuka gerbang ke enam, dan masih belum cukup mengalahkannya.
"Apa yang kau cari, sejak awal kami hanya bertiga." Ucap salah seorang dari mereka karena melihat Askar yang sedang bingung.
"Aku tidak mungkin salah, ada satu orang lagi yang datang." Balas Askar cukup santai.
Hanya saja Askar merasa aneh, jika mereka tidak bisa mengetahui satu orang lain yang jelas-jelas ada di dekat tempat ini.
"Tunggu sebentar, kalau begitu, orang itu tidak ada hubungannya dengan kalian." Berkata Askar sendirian.
"Untuk apa kami menunggu." Bersiap dalam serangan secara bersama-sama.
Askar pun bersiap melawan, dengan kuda-kuda pertahanan dan berniat pergi keluar rumah, dia tidak ingin kena masalah jika rumah ini hancur olehnya.
Tapi sebuah ketukan pintu terdengar jelas, membuat gerakan ketiga orang ini berhenti seketika.
"Askar cepat kau buka pintunya, aku ada urusan denganmu." Suara wanita terdengar tidak asing bagi Askar.
Biar begitu, Askar tidak bisa mengenali siapa sosok yang mengganggu pertarungan mereka di saat-saat menegangkan.
"Aku sedang repot."
"Jika kau tidak membukanya, aku akan masuk secara paksa."
Seakan tidak diperdulikan oleh ketika orang yang berniat membunuh Askar, serangan mereka berlanjut.
Askar mengeluarkan senjata ukuran normal, menangkis ketiga serangan secara langsung, dan mendorong balik hingga mereka mundur.
Ini cukup sulit, ruangan yang sempit, dan gerakan terbatas, dan akan lebih buruk ketika rumah ini hancur, dimana satu serangan sudah menggetarkan seluruh dinding.
Melawan tiga orang sekaligus bukan hal yang mudah, Askar terpojok, dan mencari celah untuknya berlari keluar.
"Hei... Aku tidak bisa menunggu lama-lama berdiri di depan pintu." Sosok itu akhirnya menampakkan diri dibelakang tiga orang yang hendak menyerang Askar.
__ADS_1
Satu tamparan dari belakang melempar dua tubuh lord alam saint suci tahap awal dengan mudah, sayangnya kerusakan tidak bisa dihindari, dinding rumah Askar pun harus menjadi korban.
Jelas saja mereka dikalahkan dengan mudah, karena sosok itu sendiri adalah Tisumi, guru besar padepokan pedang semesta.
"Siapa kau ?, kenapa kau menyerang kami." Berkata satu orang yang terkejut dengan tindakan Tisumi.
Dua kawannya dikalahkan dengan mudah hanya perlu satu tamparan, siapa yang bisa melawan kekuatan milik Tisumi sebagai lord alam saint suci tahap akhir.
"Aku memiliki urusan dengan lelaki ini, dan kalian hanya menganggu saja." Tanpa ragu satu orang terakhir pun kena tampar.
Terlempar pergi dan hilang kesadaran seketika, Askar menelan ludah sendiri, dia tahu jika para guru besar padepokan sangat kuat.
Tapi mengalahkan lord alam saint suci tahap awal dengan tamparan, ini berada di tingkat yang jauh berbeda.
"Aku selamat, terimakasih guru besar Tisumi." Dengan sopan Askar membungkuk hormat.
"Selamat apanya ?, aku kemari untuk memberi perhitungan denganmu Askar." Itu yang Askar dapatkan dari ucapan Tisumi.
Tanpa ada angin, atau pun badai, Askar mendapat masalah dari Tisumi, sedangkan dia jelas tidak pernah berbuat hal yang tidak sopan.
Tapi saat pertama kali dia berkunjung, bukan sesuatu yang menyenangkan untuk mereka bahas, melainkan sebuah kejadian tanpa ada alasannya.
"Kau sudah membuat Resya menangis."
"Aku tidak..." Askar mencoba membela diri.
Hanya saja, belum selesai Askar berbicara, kepalanya ditarik paksa oleh Tisumi dan dilemparkan keluar dengan kasar.
Askar tidak mungkin melawan, dia pun akan kesulitan jika harus berhadapan melawan salah satu guru besar, dan yang terkuat diantara watoi serta Gorongo.
Gorongo memang yang tertua, sekaligus paling dihormati oleh banyak orang, sedangkan Tisumi bukan siapa-siapa, asal-usulnya selain istri dari Varjo de hores tidak diketahui.
Biar begitu, kekuatannya berada satu tingkat diatas Gorongo, kemungkinan besar selama ini, Tisumi menyembunyikan diri untuk tidak menarik perhatian orang lain.
Dan kini Askar harus dihadapkan dengan suatu masalah yang tidak pernah dia lakukan, tapi Askar bisa yakin jika ini adalah permainan Resya.
"Katakan padaku Askar, apa yang sudah kau lakukan kepada Resya." Tegas pertanyaan Tisumi.
"Aku tidak membuatnya menangis, hanya menggodanya saja, tentu dia tidak mungkin menangis hanya karena hal itu." Jawab Askar dimana posisinya seperti sedang kena interogasi.
__ADS_1
"Kau harus tahu, Resya itu anak baik-baik yang mudah terbawa perasaan." Sebagai ibunya tentu dia anggap begitu.
"Anak baik-baik dari mananya." Gumam Askar membantah ucapan Tisumi.
Seketika tatapan melorot ibarat makan mangga dengan biji dan nyangkut di tenggorokan, tergambar jelas dari wajah Tisumi.
Askar bukannya takut, tapi merasa tidak nyaman jika harus bermusuhan dengan wanita satu ini, selain bertindak sebagai guru besar, dia pun istri varjo de hores.
Masalah akan bertambah merepotkan, jika Askar mencoba melawan, dan lagi kemungkinannya Askar tetap akan kalah.
"Jadi apa yang kau pikirkan tentang Resya." Pertanyaan berganti ke jalur lain.
"Apa aku harus berbohong, atau jujur." Askar memberi pilihan.
"Mana yang menurutmu terdengar bagus." Balik Tisumi bertanya.
"Resya adalah gadis yang benar-benar baik untuk bermacam hal, tapi jika harus jujur, ya apa yang aku katakan adalah bohong."
Dengan kecepatan tinggi, satu tangan mengepal dan berhenti tepat di depan hidung Askar, ya jika tidak, itu cukup untuk membuat Askar hilang kesadaran.
Tanpa membuka gerbang skill pemangsa, kekuatan Tisumi cukup mudah untuk sekedar membuat kepalanya terpisah dengan tubuh.
Dihembuskan nafas berat untuk Tisumi menenangkan diri, dia menarik kembali tangannya dari depan wajah Askar.
"Askar, aku merasa jika Resya menaruh perasaan kepadamu." Kata Tisumi.
"Apa !!?." Askar terkejut, benar-benar terkejut.
"Kenapa kau terkejut."
"Aku merasa itu hanya sebuah kebohongan." Jawab Askar.
"Terserah kau menganggap apa, tapi ingat Askar jika kau hanya bermain-main dengan perasaan Resya, dan memberikan harapan palsu, aku tidak akan melepaskanmu." Tisumi mengancam dan Askar tahu jika dia bisa melakukannya.
Sebagai seorang ibu, Tisumi sangat perhatian kepada Resya, dan tidak perduli jika Askar adalah murid dari tuan Loe Teu Yiu. Tanpa rasa takut dia akan membela mereka.
"Dan satu lagi Askar, aku ingin kau memikirkan, kapan kau akan menikahi Resya." Satu perkataan terakhir membawa Tisumi pergi.
Sedangkan Askar hanya diam ditempat masih belum mampu menerima ucapannya, karena ini sama saja mempertaruhkan masa depan kepada Resya.
__ADS_1