PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
super premium


__ADS_3

Alam semesta kerajaan beladiri.


Sebuah wilayah kekuasaan yang memiliki dua puluh tiga planet dibawah kepemimpinan penguasa Varjo de hores.


Dari nama sebuah alam semesta kerajaan beladiri, tentu tempat ini dipenuhi oleh para ahli beladiri karena memang di sinilah asal mula terciptanya berbagai macam jenis seni bertarung.


Mulai dari keahlian bersenjata pedang, tombak, gada, kapak, tongkat, tangan kosong, hingga kebatinan, semua itu dimiliki oleh tempat ini.


Ada lebih dari sepuluh ribu perguruan seni beladiri yang tersebar di seluruh penjuru alam semesta, diberbagai planet dalam kerajaan beladiri.


Salah satu sosok yang menjadi kebanggaan adalah Loe Teu Yiu, dia berasal dari alam semesta kerajaan beladiri, walau pada akhirnya, sang penguasa pedang lebih memilih pergi dan hidup menyendiri dalam kekuasaan khusus di alam semesta pedang tanpa tanding.


Tapi tetap saja, nama Loe Teu Yiu tidak pernah lepas dari perguruan pedang surga, dimana itu menjadi tempat awal sang penguasa pedang menitih karir.


Biar pun dia tidak mau mengakui hal itu, tapi Loe Teu Yiu terikat janji kepada ayah dari Varjo de hores untuk tidak mengusik setiap urusan alam semesta kerajaan beladiri.


Lepas dari itu....


Kini langkah kaki Varjo berjalan cepat dengan senyum lebar disetiap sisi, satu hal yang membuat dirinya bahagia, dan itu adalah keberuntungan karena mendapat sebuah barang berharga tak ternilai harganya.


Pedang dewa pemangsa kematian milik dewa pemangsa, Asyura.


Kilauan cahaya putih keperakan yang menyala terang menyilaukan semua mata orang yang melihat, aura kuno pun muncul dari mata pedang bertuliskan pedang dewa pemangsa kematian.


Berulang kali dia lihat, berulang kali dia gosok, tidak tanggung-tanggung, kain untuk menggosok mata pedang dari senjata dewa Asyura itu menggunakan kulit binatang iblis kualitas super premium. Jauh lebih berharga dari binatang iblis tingkat tinggi.


"Biarpun kita tidak mendapatkan bunga Anemoe kristal, tapi pedang dewa pemangsa kematian tidak ada duanya, sungguh beruntung pedang itu hadir di pelelangan kota Sourina." Ucap Varjo de hores dengan perasaan bangga.


"Tapi ini cukup aneh tuan, pedang dewa pemangsa kematian milik Asyura sudah ratusan ribu tahun lenyap dari jagat raya, kenapa tiba-tiba saja itu muncul tepat saat kita datang." Ucap salah satu bawahan yang memang menjadi penasihat keuangan bagi varjo.


Tapi tanggapan varjo mengenai ucapan dari bawahan yang bernama Karjo, dengan menujukan tatapan serius penuh amarah.

__ADS_1


"Jadi kau pikir jika pedang ini palsu." Ucap Varjo dengan tegas.


"Aku memang meragukan keaslian pedang itu, tuan." Cukup tajam cara berpikir Karjo, karena dia memang bisa dikatakan ahli dalam urusan menilai suatu barang.


Karena bagi dirinya, sebuah kebetulan yang datang dari satu banding satu juta tempat pelelangan, kenapa pedang itu hadir di kota Sourina.


"Kau harusnya tahu, jika memang ini palsu, lalu .... dari mana datangnya aura kuat sang dewa pemangsa dalam pedang." Balas Varjo yang tetap ngotot dengan penilaiannya sendiri.


Melihat bagaimana varjo melotot, Karjo hanya menunduk lemas dan tidak berani berucap yang membuat tuannya kesal... "Soal itu, aku memang tidak bisa membantahnya."


Mendengar balasan Karjo, varjo kembali menujukan senyum penuh kesombongan yang membuat kepalanya terangkat tinggi.


"Kau harus banyak belajar untuk tahu perbedaan tentang barang berharga, dan barang sampah." Cukup varjo membanggakan diri karena membeli barang berkualitas.


"Maaf tuan, jika memang aku kurang ilmu dalam hal memilih barang." Merendah diri Karjo demi menghindari masalah.


"Itulah sebabnya, kau tidak bisa memilih seorang istri... wanita seperti barongsai kau jadikan istri." Sindir varjo de hores kepada bawahannya itu.


Dia tidak bisa membalas atau melawan perkataan varjo, bagiamana pun sosoknya adalah sang tuan yang setiap perkataan menjadi hal mutlak.


"Tidak, pedang ini terlalu berharga untuk pertarungan yang tidak berarti, biar aku simpan sebagai senjata rahasia saja." Jawab Varjo dengan tersenyum sendiri.


Itu memang sangat dipikirkan oleh Varjo, dimana kehadiran pedang dewa pemangsa kematian mungkin berdampak besar terhadap pandangan penguasa lain.


Bahkan jika diketahui oleh publik tentang pedang milik Asyura, akan terjadi masalah yang mungkin mengakibatkan peperangan besar.


Kini varjo hadir di dalam ruang singasana penuh dengan gaya, ditambah lagi pedang ditangan dia mainkan hingga membuat semua orang memperhatikan langkah tuan mereka.


"Apa yang terjadi dengan tuan Varjo."


"Ya... Ini pertama kalinya aku melihat dia senyum-senyum sendiri begitu."

__ADS_1


"Apa mungkin saat perjalanan dia mengalami kecelakaan dan kepalanya terbentur."


"Itu bisa saja terjadi, karena belum pernah aku melihat tuan Varjo begitu."


"Atau juga ini pertanda kita akan mendapat kenaikan gaji."


"Semoga saja itu yang akan terjadi."


Setiap komentar dari para penjaga tidaklah tertuju kepada pedang yang di bawa oleh Varjo, melainkan perubahan sikap, dimana biasanya dia menujukan wibawa penuh kesombongan, tapi sekarang dia tersenyum seperti orang gila dapat nasi bungkus.


Tujuan varjo adalah ruangan Silviana, yang bertempat di ruang khusus dekat singasana, dan saat melihat varjo berjalan mendekat, seorang pengawal ruangan mulai bersiap.


"Tuan baginda raja penguasa alam semesta kerajaan beladiri Varjo de hores yang perkasa datang." Berteriak salah satu penjaga menujukan tanda akan kedatangan varjo.


Tepat varjo berhenti, dia tersenyum menujukan apresiasi untuk penjaga yang telah bekerja sebagai seorang menyambut dengan baik.


"Kerja bagus." Satunya singkat dan lewat begitu saja.


"Kerja bagus doang, apa gak ada yang lain gitu." Lirih suara penjaga dengan lemas.


Dilihat sosok gadis berambut kuning keemasan yang terurai panjang dengan kecantikan luar biasa hingga membuat semesta malu, menikmati waktu untuk menyisir.


Tapi ketika dia melihat sosok varjo dari pintu, senyuman silviana seketika turun dan merasa kesal dengan alasan yang jelas, karena dia adalah musuhnya.


"Apa yang membuatmu kemari, sudah aku katakan aku tidak ingin melihatmu." Tegas ucapan Silviana yang tidak mau melihat ke arah Varjo.


"Jangan bilang seperti itu Silviana, apa kau tahu aku hanya ingin menujukan sesuatu." Berkata Varjo yang mengeluarkan pedang dewa kematian dari belakang punggung.


Mata Silviana sontak terbuka lebar, karena dia tahu apa yang dibawa oleh Varjo adalah sebilah pedang milik seseorang yang dia kenal.


Tanpa basa basi Silviana menarik pedang ditangan Varjo, dengan teliti dia memperhatikan setiap lekuk dari berbagai macam sisi.

__ADS_1


'Bukan, ini memang mirip tapi bukan milik Askar.' pikir Silviana dengan tatapan tajam namun bisa dia pastikan.


Dia tentu tidak bisa membayangkan jika pedang di tangan varjo adalah asli, bisa jadi Askar dikalahkan dan lelaki ini mengambil pedang askar, tapi sedikit perasaan lega, karena semua tidak seperti pikirannya.


__ADS_2