
Seekor kucing belang-belang oren putih segera datang mendampingi Askar yang tengah berhadapan langsung dengan Suzong dan Varjo de hores.
Memang belum ada satu pun pergerakan diantara mereka berdua, tapi Omen jelas mengkhawatirkan kondisi Askar jika harus berhadapan dengan sosok penguasa.
Terlebih di pertarungan terakhir Askar melawan Suzong, kondisi yang dia terima jelas-jelas membuatnya kacau, meski Omen belum melihatnya, tapi bisa dia tebak seberapa sulit menghadapi Suzong.
"Omen bisa kau lawan Suzong untukku." Ucap Askar yang ingin mencari perhitungan dengan Varjo atas dendam di masa lalu.
"Aku tidak yakin bisa bertahan lama tuanku, dia sangat kuat." Omen pun mengakui kekuatan Suzong.
"Itu tidak apa, aku akan berusaha menyelesaikan semua masalah dengan Varjo secepat mungkin." Balas Askar yang cukup yakin jika pertarungan ini akan cepat saat tidak ada gangguan.
Gangguan yang jelas adalah Suzong, melawan mereka berdua dalam satu waktu, mustahil untuk Askar menang kecuali membuka skill pemangsa gerbang ke tujuh.
Tapi semua itu sama saja bunuh diri, belajar dari apa yang dikatakan oleh Loe teu yiu, jangan pernah mengorbankan nyawa di dalam pertarungan.
Selama nyawa masih ada, kesempatan pasti akan datang, tapi jika Askar tewas, maka semua kesempatan itu akan berakhir tanpa bisa lagi di ulangi.
Suzong berniat melakukan gerakan untuk menyerang Askar, tapi Omen segera datang dan menghantam tubuhnya hingga mundur.
"Kucing kampung, kau menghalangi jalanku." Dengan kesal Suzong memaki Omen.
"Lawan mu bukan tuanku, karena untuk sekarang aku adalah lawan yang harus kau hadapi." Tapi cukup menjanjikan cara Omen berkata-kata.
Omen tidak ragu membuka kekuatan Sphinx yang tersimpan secara khusus, itu semua hanya untuk melawan Suzong. Tanpa kekuatan Sphinx, Omen tidak akan mampu bertahan meski hanya sepuluh nafas.
"Ternyata kau bukan sekedar kucing kampung biasa." Suzong merasa tahu kekuatan apa yang dimiliki Omen.
"Ya, aku adalah kucing kampung luar biasa." Balas Omen dengan berani.
Aura sphinx yang sudah membengkak keluar membentuk bayangan makhluk suci dari hewan peliharaan sang dewa sunawa.
__ADS_1
Omen pun menerkam tubuh Suzong, dan membawanya pergi menjauh dari tempat Askar dan Varjo untuk bertarung, semua adalah perintah yang harus Omen lakukan sekarang.
Askar beranjak mendekat ke hadapan Varjo, Azela yang baru sadar jika sosok itu adalah sang dewa pemangsa, kini memahami perkataan kakeknya, bahwa dia yakin alam semesta kerajaan suci akan menang.
Dan dewa Asyura adalah kunci kemenangan di peperangan ini, tapi dia belum tahu kenapa Askar lah yang Davendra sebutkan, bukan Asyura.
"Kau adalah Askar kan ?." Ucapnya azela yang mencoba menebak siapa sosok beramor hitam dan disebut sebagai Asyura.
Tetap diam Askar untuk menjaga rahasia, tapi Varjo tentu terkejut saat Azela menyebutkan nama Askar didekatnya.
"Varjo, aku adalah lawan yang harus kau hadapi." Tegas Askar sembari mengacungkan pedang perak yang sama dengan milik Varjo.
"Aku tidak tahu kenapa kau mengincar ku, tapi kekuatanmu sekarang jelas berbeda dari dewa Asyura yang dulu." Tegas jawaban Varjo.
"Askar, berhati-hatilah, dia...." Tidak berhenti Azela terus memanggil dirinya sebagai Askar, padahal secara khusus identitas itu akan membuat Varjo curiga.
Askar berusaha tidak perduli, tapi jelas Varjo mulai merasa aneh atas sikap Azela yang sangat percaya bahwa Asyura adalah orang bernama Askar.
"Meski pun begitu, aku yakin bahwa ini cukup menghabisi mu." Mencoba mengalihkan perhatian Varjo dari ucapan Azela, Askar terus mengajaknya bicara.
"Diam kau nenek tua, aku sedang mencoba membantumu, tapi kau berisik sekali." Teriak kesal Askar karena Azela jelas membocorkan rahasia.
"Tunggu, tunggu sebentar, kenapa Azela memanggilmu sebagai Askar, jangan-jangan...." Ucap Varjo mulai merasa ada yang aneh dari semua ini.
"Aku adalah Asyura, dewa pemangsa, lihat ini ada tanda pengenal ku." Tunjuk Askar ke plate name yang tertulis Asyura di bagian dada.
(Sejak kapan dia membuat papan nama di situ.)
"Lantas kenapa Azela menyebutmu Asyura." Kembali Varjo bertanya.
"Mungkin kau salah dengar, siapa Askar, aku bahkan tidak mengenalnya." Asal saja askar mencari alasan agar Varjo melupakan panggilan Azela.
__ADS_1
"As....." Belum selesai Azela menyebutkan nama itu, Askar melemparkan Azela pergi menjauh agar tidak ada gangguan lagi.
Ditambah Azela tidak bisa membaca situasi, karena sekarang posisi Askar adalah sebagai Asyura, dan semua identitas tentang Askar bisa diketahui oleh Varjo.
"Kenapa kau melempar Azela begitu, bukankah kau akan menolongnya." Varjo bingung sendiri melihat kelakuan Asyura.
"Sekarang tidak ada yang menganggu, jadi ...." Sekilas Askar tanpa perlu bicara lagi melepas serangan dalam kecepatan tinggi.
Berayun pedang untuk satu nafas membawa lima puluh gerakan ke setiap sisi tubuh Varjo, meski mudah di hindari olehnya. Askar pun masih mampu menangkis balasan demi balasan yang di lancarkan Varjo.
Skill dimensi yang Varjo ciptakan membuat Askar kesulitan melihat dari arah mana serangan Varjo datang, biar pun sudah menghindar, tapi dimensi yang ada di sekitar Askar mengeluarkan garis tebasan sisa-sisa serangan itu.
Skill penciptaan ruang : akselerasi penuh.
Skill penciptaan ruang : mata masa depan.
Dalam sepersekian detik sebelum garis serangan dimensi muncul, akselerasi penuh dan mata masa depan memberi sedikit kesenjangan waktu untuk Askar menghindar.
Di satu kesempatan ketika Askar berhasil melemparkan tubuh Varjo, tercipta ratusan senjata melayang-layang disekitarnya, berayun satu tangan menggerakkan semua pedang untuk menghujam ke tubuh Varjo.
Harusnya itu adalah serangan mutlak yang tidak mungkin bisa di hindari oleh Varjo, tapi tetap dia adalah pemilik kekuatan dimensi, dimana setiap senjata yang mendekat lenyap dan bergeser ke pemiliknya.
Senjata yang di arahkan kembali kepada Askar berhenti seketika sebelum menyentuh kulit, hampir mustahil untuk Askar melepaskan serangan jarak jauh demi mengalahkan Varjo.
Dia bisa berpindah sebelum serangan itu memberi luka, terlebih lagi gerakan perpindahan hampir tidak bisa dibaca oleh mata masa depan, sehingga cukup sulit Askar memastikan bagaimana dia akan menyerang.
Lepas dari itu, Varjo mulai membentuk energi skill dimensi seperti bola, menekan dan menyebarkannya ke seluruh ruangan, dengan jangkauan sedemikian luas, biar pun Askar berusaha pergi, tapi dia tidak bisa menghindar.
Ini sama seperti kekuatan yang mengurung Azela saat mereka berdua bertarung, Askar tidak tahu pasti seberapa berbahaya kemampuan yang Varjo de hores gunakan.
Tapi selagi kesempatan masih ada, sebelum dia selesai membentuk bola dimensi untuk mengurung Askar, aliran energi dikeluarkan dari dalam tubuh dalam jumlah besar.
__ADS_1
Teknik naga hitam : rising dragon road.
Sebuah lintasan lurus mengarah ke tubuh Varjo, yang dimana ayunan pedang milik Askar membentuk bayangan naga hitam besar dan melesat tanpa halangan.