PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
lebih perduli


__ADS_3

Askar memberikan arahan yang jauh lebih mudah di pahami oleh setiap orang dalam pasukan khusus, serangan gabungan dari pelatihan Askar menunjukan tingkat keberhasilan lebih baik.


Penggunaan energi yang jauh lebih sedikit, atau pun mengurangi resiko kegagalan dalam merapalkan mantra dalam penggabungan energi.


Dimana energi yang keluar tidak dikendalikan oleh semua orang, melainkan secara khusus Askar menjadi inti dan titik utama semua energi di lepaskan.


Kemampuan itu jelas sangat luar biasa, dalam satu kali percobaan, pelepasan serangan gabungan dari seratus pasukan khusus, mampu menghasilkan energi yang bisa ******* sebuah planet tanpa ampun.


Sesi latihan di hari ini berakhir untuk sekedar memperkenalkan diri Askar dihadapan semua pasukan khusus.


Meski nyatanya terjadi inrik-intrik kecil hingga terjadi sebuah pertarungan, tapi Askar tidak mengecewakan, Dal mantilo, harus berakhir kalah hanya dengan satu serangan telak.


Mengejutkan, jelas semua orang hampir tidak percaya jika tidak mereka lihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri, seorang top ranking dari istana beladiri suci, tidak mampu bertahan dalam perlawanan terhadap Askar.


Hingga ada tiga prajurit khusus mulai membicarakan tentang Askar, Dal mantilo dan Le Wei...


"Jika Dal mantilo kalah setelah bertukar ratusan jurus andalan, tentu dia kalah secara terhormat."


"Tapi lihat, dia menyombongkan diri seakan langit hanya ada untuknya, kalah oleh orang yang tidak dikenal sama sekali."


"Jika aku jadi dia, aku lebih baik pergi ke dinas pencatatan sipil, untuk mengubah nama dan wajahku juga."


Setiap komentar berdengung di telinga Dal mantilo, dimana orang yang sedang di bicarakan itu, berada tepat dibelakang mereka dan masih mengusap-usap perut akan rasa sakit dari serangan Askar.


Karena merasa iba atas kekalahan yang benar telak itu, Le wei membantunya berjalan, bisa dianggap, mereka berdua sama-sama kalah, jadi sama-sama memahami.


"Apa memang sebaiknya aku pergi dari sini dan mengganti identitas ku saja." Ucap Dal mantilo dengan seseorang yang membantunya berjalan.


"Jangan kau pikirkan mereka, biar pun mereka menganggap kau lemah, tapi jika mereka melawan mu, mereka pun tidak akan mampu, apa lagi melawan Askar." Le Wei pun memberi sedikit nasihat untuk melapangkan dada Dal mantilo.


"Kau benar juga, tapi aku masih penasaran, bagaimana mungkin lelaki itu bisa memiliki kekuatan yang jauh melebihi batas tingkat setara denganku." Ucap Le Wei dengan suara lemas dan isi pikiran rumit.

__ADS_1


Dal mantilo jelas masih memikirkan apa yang terjadi saat melawan Askar, saat dia mencoba menarik paksa tubuh Askar, kekuatan pijakan kakinya sama seperti sebuah gunung. Tidak bergerak sedikit pun.


Ini jelas membuatnya bertanya, dari mana asal kekuatan Askar yang begitu besar, tapi melihat itu juga dialami oleh Le Wei, sedikit perasaan lega, jika bukan dirinya saja dikalahkan.


"Mungkin memang benar, jika Askar memiliki tingkat kekuatan yang sama denganmu, tapi aku sadar jika besar kekuatannya sama seperti lord alam saint suci tahap akhir, kita bukan tandingannya." Le Wei menjawab yang ikutan lemas sendiri memikirkan kekalahannya juga.


"Jika itu memang benar dia mungkin bisa menjadi lord alam semesta kerajaan beladiri menggantikan tuan Varjo de hores." Sedikit hal terpikirkan oleh Dal mantilo.


"Aku cukup yakin dengan hal itu, karena dia akan menjadi suami dari nona Resya." Le Wei sudah mendengar berita tentang mereka.


Askar terlalu luar biasa, asal usul yang jelas tidak diketahui, secara tiba-tiba datang di padepokan beladiri pedang semesta, dan mendominasi semua orang sebagai sosok terkuat diantara mereka.


*******


Para pasukan diberikan tempat khusus oleh Varjo de hores dengan membuat sebuah rumah yang sangat besar di belakang istana kerajaan beladiri.


Tidak hanya itu, segala kebutuhan, pelayanan dan fasilitas lainnya pun di sediakan oleh Varjo, termasuk para wanita yang siap menemani waktu istirahat mereka semua.


Mereka mendapat kompensasi atas kerja keras yang dilakukan, nilai yang jelas sangat besar, meski pun gaji itu berasal dari pungutan pajak setiap orang di wilayah alam semesta kerajaan beladiri.


Di sisi lain.... Askar yang duduk diam di dalam ruangan pribadinya, secara mengejutkan seorang tamu datang tanpa mengetuk pintu.


Wanita cantik dengan raut wajah marah, emosi yang tidak terkendali dan tidak ada sopan-sopannya itu menunjukkan niat ingin membunuh siapa pun dihadapannya.


"Maaf nona aku sedang tidak ingin menerima pelayanan pribadi." Ucap Askar saat melihat Resya berjalan kepadanya.


"Siapa yang sudi memberikan pelayanan kepadamu, aku kesini untuk menghajar mu Askar." Balas Resya seakan tidak perduli dari cara Askar menyapa.


"Wah... Aku takut."


Askar sedikit paham kenapa Resya datang ke ruangan Askar, bahkan dia pun tahu dari mana asal aura membunuh di dalam tubuhnya itu.

__ADS_1


Meski sejak awal niat wanita satu ini adalah untuk membunuhnya, tapi sekarang auranya jauh lebih kental daripada yang biasa dia keluarkan.


"Jangan bercanda, kau sudah melewati banyak batasan hingga membuatku harus menanggung beban berat." Tegas jawaban Resya dengan suara tinggi dan marah.


"Hei apa kau pikir aku disini tidak menanggung apa pun." Askar pun merasakan hal yang sama.


"Asal kau tahu, ibu dan ayahku sudah menginginkan untuk kita menikah."


"Aku tahu itu."


"Lantas kenapa kau tidak membantahnya." Resya mengingatkan Askar tentang syarat yang pernah dia ajukan.


"Perjanjian yang pernah kita sepakati adalah saat kau memberikan keinginanku, aku bersedia membatalkannya, tapi kita belum melakukan apa pun."


Hanya saja ketika itu, kegiatan mereka berdua harus terganggu karena kehadiran Karlina secara mendadak, dan Askar pun menghentikan apa yang dia inginkan.


"Kalau begitu kita lakukan sekarang." Ucap Resya yang sudah membuka bajunya dengan berani.


Satu persatu pakaian dia tanggalkan, memperlihatkan lekuk tubuh putih mulus yang memang menggairahkan, Askar tidak memungkiri jika seketika itu ada rasa ingin memberontak.


Tapi Askar berusaha menahan diri, karena ada hal yang jauh lebih berbahaya setelah melakukan itu, dan harus melunasi janjinya kepada Resya.


"Itu bukan hal penting sekarang." Askar jelas tidak ingin mengikuti keinginan Resya.


"Bagiku itu penting." Tapi Resya dengan tekad kuat menunjukan diri dalam tubuh yang telan*jang.


"Untuk apa, Varjo dan nona tisumi sudah berharap pernikahan ini, jika aku membatalkannya secara sepihak, aku akan menjadi musuh bagi mereka." Askar tahu dengan konsekuensinya.


"Aku tidak perduli, karena aku perduli akan masa depanku."


"Dan aku lebih perduli dengan keselamatan ku." Bagi Askar Ini cukup berbahaya, jika sejak awal mereka menolaknya tentu tidak sampai serius.

__ADS_1


Dan sekarang nasi sudah menjadi gosong, jika Askar mengakhiri semua ini, maka Varjo dan tisumi akan membunuhnya tanpa ragu.


__ADS_2