
Akademi laut selatan, istana utama.
Dalam kurun waktu dua tahun setelah kemenangan akademi laut selatan di turnamen peringkat akademi seluruh dunia, tentu memberikan perubahan besar.
Perkembangan tingkat pendidikan bagi para warrior menjadi yang terbaik untuk daratan Asia tenggara, walau pun begitu, jika harus dibandingkan dengan daratan Eropa, Amerika dan Asia Selatan, tentu akademi laut selatan masih jauh dibawah mereka.
Tapi tetap saja semua yang terjadi memberikan perubahan besar, terlebih dengan kehadiran grandmaster tua gila dalam bidang studi seni beladiri pernafasan.
Satu sosok lelaki tua dengan kepala plontos berjalan santai bersama grandmaster Laila, dia adalah grandmaster Jilu yang menjadi ketua dari lima grandmaster akademi laut selatan.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Askar, masuknya tua gila memberikan pengaruh besar dalam akademi, hanya saja..." Belum selesai Jilu berbicara, ekspresi dari wajahnya seakan menjawab perkataan yang tidak dia katakan itu.
"Ya dia selalu seenaknya sendiri dalam berbuat apa pun yang di inginkan." Grandmaster Laila tidak menyalahkan ungkapan Jilu kepada si tua gila.
Grandmaster Laila yang memang merasakan sendiri bagaimana sikap dan perilaku si tua gila tentu menyadari kalau Jilu hanya bisa pasrah menerima dia sebagai seorang grandmaster, menggantikan posisi Siwase.
"Tapi pembelajaran ilmu beladiri pernafasan memang aku akui, jika mereka berhasil memahaminya, maka kemampuan bertarung antar warrior semakin meningkat." Jilu tidak membantah bahwa si tua gila memberikan kontribusi besar.
"Aku mengerti, dan aku tidak bisa menolak untuk hal itu." Laila hanya mengeluh lemas dalam cara dia menghembuskan nafas.
Sekitar 100 murid bagian dalam atau pun luar akademi laut selatan mengikuti pelatihan dari grandmaster tua gila, cukup mengejutkan karena mereka mampu bertahan dengan cara tua gila itu menguji mereka.
Seni beladiri pernafasan bukan hanya mengenai bakat masing-masing orang, tapi kerja keras, ketekunan dan pemahaman para murid yang mempelajarinya.
Bagi Askar yang memiliki otak cerdas dalam kemampuan memahami setiap pengajaran, membutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk mampu menggunakan kekuatan seni beladiri pernafasan.
Nyatanya semua murid yang ingin mempelajari seni beladiri pernafasan, adalah karena Askar, dimana dia mampu mengalahkan salah satu peserta yang bernama Maldini, tanpa menggunakan sedikit pun kekuatan energi.
Untuk seorang Sina yang pernah mencoba mempelajari seni beladiri pernafasan pun mengangkat tangan, dia menyerah karena sistem pengajaran dari grandmaster tua gila sangat sulit di mengerti.
Tapi saat ini Sina harus benar-benar mempelajari seni beladiri pernafasan untuk memperkuat inti kehidupannya, pengaruh besar akan dirasakan oleh siapa pun yang sudah menggunakan kemampuan pernafasan.
__ADS_1
Dan saat ini apa yang Sina butuhkan adalah memperkuat inti kehidupannya, karena itu Askar sengaja datang kembali ke akademi laut selatan untuk bertemu guru tua gila.
Atas kehadiran Askar dan Sina ini, hampir semua murid berbondong-bondong datang untuk melihat kehadiran dua sosok yang menjadi legenda di akademi laut selatan.
Walau itu baru dua tahun yang lalu, tapi ketenaran Askar dan Sina, benar-benar memberikan dampak besar bagi para murid yang di penuh kekaguman atas pencapaian mereka berdua.
Tanpa memperdulikan setiap orang yang datang mengelilingi Askar, dia segera beranjak pergi menuju istana utama.
Tentu tujuannya adalah mencari grandmaster tua gila, dan juga bertemu dengan empat grandmaster lain yang cukup lama tidak bertegur sapa.
Grandmaster Jilu merasa penasaran dengan semua keributan yang terjadi, dia berjalan keluar dari istana utama dan melihat sekitar.
Sangat jarang untuk semua murid bertingkah seenaknya sendiri, mereka yang biasanya akur, damai dan menaati peraturan, kini saling berkerumun meributkan satu hal.
"Apa yang mereka ini lakukan, apa tidak ada kerjaan lain." Bergumam grandmaster Jilu yang memperhatikan semua murid.
"Sepertinya kita kedatangan tamu penting." Laila bisa melihat jika diantara kerumunan semua murid itu ada dua kehadiran yang menjadi pusat perhatian.
"Grandmaster Laila, grandmaster Jilu bagaimana kabar anda berdua." Berkata Askar yang jelas menujukan rasa hormat kepada dua sosok petinggi akademi.
Biar pun saat ini Askar sudah lepas dari akademi laut selatan tapi tidak menghapuskan setiap hal yang sudah dilakukan oleh akademi terhadap perjalanan hidupnya.
"Bisa kalian lihat, kami berdua baik-baik saja, tapi bagaimana dengan kalian berdua." Ucap grandmaster Laila dengan senyum lebar melihat kedua orang yang sangat penting.
Pencapaian besar dimana Askar mendapatkan peringkat pertama di turnamen peringkat akademi, akan selalu menjadi kebanggaan untuk para grandmaster.
"Aku dan Sina tentu merasa baik dengan semua yang terjadi, terlebih kami pun sudah mendapatkan anggota keluarga baru." Ucap Askar dengan membalas senyuman Laila.
"Senang mendengarnya, jadi siapa nama anak kalian berdua." Bertanya Grandmaster Laila.
"Asyfa Finiksia." Singkat Askar menjawab.
__ADS_1
"Ah indah sekali aku mendengar nama putrimu itu Askar." Grandmaster Laila.
Biar pun terlihat adanya rasa iri diwajah Grandmaster Laila, karena kehidupan selama ratusan tahun tidak memberikan rasa bahagia dalam ikatan keluarga.
Ini yang menjadi permasalahan bagi para warrior dan ahli beladiri lain, mereka terlalu sibuk mengejar kekuatan dan kekuasaan, sehingga melupakan kebahagiaan untuk menjalani hidup seperti manusia biasa.
"Jadi grandmaster Laila, dimana tua gila itu." Bertanya Askar yang memang orang tua gila adalah tujuannya datang ke akademi.
"Dia ada didalam ruangannya, tapi jarang sekali dia keluar, bahkan semua urusan tentang pembelajaran diserahkan kepada bawahannya." Jawab Grandmaster Jilu dengan ekspresi aneh dan sedikit kesal.
Askar tidak merasa bersalah dengan sikap dari guru tua gila, bahkan akan aneh jika beliaulah terlihat rajin dan bertanggung jawab.
Tapi persoalan yang menyangkut keahlian dalam mengatasi masalah, jangan di ragukan lagi, karena memang tua gila sudah meragukan dari awal membuat masalah.
"Memangnya ada keperluan apa kau ingin bertemu dengan Tua gila." Bertanya grandmaster Laila.
"Sebenarnya bukan aku, tapi sina."
"Sina ?." Diliriknya oleh grandmaster Laila penuh pertanyaan.
"Aku mengalami kemacetan, dan menurut Askar dengan mempelajari ilmu pernafasan akan membantu mengatasi masalah ini." Ucap Sina yang merasa risih jika pertanyaan Laila tidak di jawab.
"Apa itu mungkin, Askar." Kini Askar lah yang mendapat perhatian Laila.
Cara grandmaster Laila melihat kepada Askar, membuat Askar tidak bisa dihindari.
"Dalam beberapa alasan, kemampuan inti kehidupan menjadi faktor penentu untuk setiap orang mendapatkan peningkatan, saat ini inti kehidupan Sina masih belum mampu menerima peningkatan, sehingga seni pernafasan menjadi cara untuk mengatasi masalahnya." Perjelas Askar karena tatapan Laila menujukan keingintahuan yang besar.
Entah itu Laila, atau pun Jilu terkejut mendengar pernyataan dari Askar..."Apa, itu mungkin."
"Tentu saja, karena seni pernafasan tidak hanya memperkuat fisik tapi juga organ dalam tubuh." Jawab Askar dengan santai.
__ADS_1
(note : kenapa Askar menyerahkan Sina kepada tua gila, jawabannya,... Askar bukan orang yang bisa mengajarkan sesuatu kepada orang lain. tipe orang seperti Askar tidak bisa menjadi guru.)