
Pernyataan Asy untuk menolak keinginan Ke'su menjadi pengantinnya, membuat pangeran klan Phoenix melakukan tindakan tidak terpuji.
Dia menyandra Asy dan Sina dalam kubah dimensi dan ingin menggunakan Askar sebagai bentuk tawar menawar sehingga tujuannya tercapai.
Memang benar, apa yang pangeran Ke'su lakukan yaitu untuk melindungi jiwa Phoenix asli agar tidak lenyap, tapi Asy sudah menaruh hati kepada lelaki lain dan itu adalah Askar.
Jelas Askar tidak mungkin mampu mengalahkan pangeran Ke'su yang notabenenya adalah lord alam saint suci tahap menengah, jarak tiga tingkat lebih tinggi dari Askar.
Biar pun Askar membuka semua kekuatan yang dia simpan, bahkan membuka gerbang ke enam raja penguasa, itu hanya akan menyetarakan kekuatan Askar sebagai lord alam setengah saint tahap menengah.
Kesenjangan yang sangat jauh antara Askar dan pangeran Ke'su, karena itulah tidak ingin dia mengambil resiko untuk berhadapan dengan keturunan darah murni dari Phoenix.
Terlebih lagi kekuatan transformasi Phoenix akan lebih mengerikan saat dia menggunakan itu dalam pertarungan melawan Askar.
"Kau menginginkan sesuatu yang adil ?, Atas dasar apa kau berani memintanya." Pangeran Ke'su jelas menujukan ekspresi mengejek dan merendahkan Askar.
"Ya tentu saja, aku tidak ingin bertarung tanpa ada kepastian untuk menang." Balas Askar dengan santai dan tidak terbawa emosi.
Dalam hal ini kakek Loe Teu Yiu berjalan mendekat untuk satu hal yang harus dia lakukan.
"Tapi aku pun setuju, Ke'su jika kau turun tangan langsung dalam pertarungan ini, aku sendiri pun tidak menyukainya." Siapa sangka kakek loe teu yiu memberikan sedikit bantuan.
Jika sebelumnya dia mengatakan segala resiko yang terjadi Askar sendiri harus menanggung akibatnya, tapi dengan kesenjangan besar antara kekuatan mereka berdua, dia pun tidak ingin melihat sebuah pertarungan yang berat sebelah.
Pangeran Ke'su tentu memberikan wajah kepada penguasa pedang Loe Teu Yiu, dia sendiri cukup yakin dengan kekuatan para pengikut di klan Phoenix.
"Baiklah jika tuan Loe Teu Yiu yang meminta hal itu." Ucap pangeran Ke'su menujukan rasa hormat.
"Ini lebih baik." Askar merasa lega atas keputusan Ke'su.
"Kau boleh membawa tiga pengikut klan yang kuat, tapi ingat jangan lebih dari lord alam setengah saint." Berkata kakek Loe Teu Yiu untuk menyeimbangkan keadaan.
"Apa anda yakin tuan Loe Teu Yiu, karena lelaki satu ini hanya seorang lord alam kaisar, jika aku bawakan lord alam monarch, dalam satu tamparan nyawanya akan lunas." Tertawa Ke'su menganggap remeh Askar.
__ADS_1
"Aku tidak masalah jika kau berpikiran seperti itu pangeran yang terhormat, tapi jangan salahkan aku nantinya kalau orang-orangmulah yang akan lunas nyawanya." Askar tentu tidak mempermasalahkan ke'su untuk meremehkannya.
"Kau mengatakan keadilan, tapi saat aku mencoba memahami keinginanmu, kau malah semakin sombong."
"Tapi ingat pangeran Ke'su, jika aku bisa mengalahkan tiga pengikutmu, lepaskan Asy dan Sina, biarkan kami pergi dari tempat ini." Ucap Askar untuk sebuah permintaan.
"Baiklah kalau begitu Askar."
Pangeran Ke'su menujuk tiga sosok yang sudah berdiri di sekitar kerumunan penghuni klan Phoenix, dan maju sebagai perwakilan untuk bertarung.
Mereka-mereka adalah dua lord alam monarch berdaulat tahap menengah dan akhir, ya Ke'su tidak tahu apa pun soal kekuatan Askar, dan dia menujuk orang-orang yang dianggap cukup mengalahkan Askar.
"Apa kau yakin dengan ketiga orang itu Ke'su." Bertanya kakek loe teu yiu.
"Aku rasa tiga orang ini cukup."
"Benarkah begitu ?, Tapi kau tidak tahu apa pun soal kekuatan Askar, aku sih tidak masalah." Kakek loe teu yiu menujukan adanya niat lain kepada Askar.
"Kakek apa yang kau katakan, aku jelas kesulitan melawan mereka bertiga, jangan mengada-ada." Askar gugup jika perkataan Kakek loe teu yiu dipahami oleh Ke'su.
"Jangan begitu Askar, jika ini terlalu mudah, maka tidak akan seru." Balas Kakek Loe Teu Yiu yang tersenyum sendiri.
Tapi terlihat jelas wajah pangeran Ke'su menjadi ragu karena perkataan Loe teu yiu cukup memberikan hasutan yang besar.
Dia pun menyuruh ketiga orang yang sudah terpilih itu kembali ke tempat mereka, dan memanggil tiga orang lain dengan kekuatan lebih tinggi lagi.
Seorang lord alam monarch tahap akhir, lord alam setengah saint tahap awal dan menengah, jelas ini membuat Askar merasa pusing.
Askar menatap kakek Loe Teu Yiu dengan kesal, tapi dia pun tidak bisa menujukan kemarahan kepadanya, dan hanya pasrah saja untuk bertarung melawan tiga lawan kuat ini.
Paling tidak Askar masih memiliki persentase kemenangan yang lebih tinggi, walau pun itu sama dengan pembukaan gerbang ke enam raja penguasa.
"Baiklah aku mengerti, jika memang harus bertarung maka aku tidak akan ragu." Tegas ucapan Askar.
__ADS_1
Dari tangan Askar memunculkan sebilah pedang besar yang menghujam ke tanah dengan getaran kuat dirasakan oleh semua orang.
"Kalau begitu biar aku yang menjadi wasitnya." Kakek Loe Teu Yiu pun menyertakan diri.
Di dalam kubah itu.
Sina dan Asy hanya mendengar apa yang diperdebatkan oleh pangeran Ke'su, dia sendiri sadar jika Askar tidak mungkin bisa mengalahkannya.
"Asy, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu dengan kubah ini." Gugup Sina karena tahu, jika Ke'su akan berbuat tidak baik.
"Mustahil, seperti yang dikatakan oleh Ke'su, jika kubah ini mampu menyegel energi keluar." Ucap Asy yang hanya bisa pasrah dan menyerahkan semua kepada Askar.
"Semoga kakek Yiu mau membantu Askar." Sina berharap demikian.
Walau nyatanya tidak begitu, demi menyelamatkan mereka, Askar pun mencoba berunding tapi kepastian tetap tidak lepas dari pertarungan.
Untungnya kakek Yiu bisa mengambil keputusan untuk berlaku adil, dan Askar tidak di rugikan dalam pertarungan yang mustahil dia menangkan.
"Sina maafkan aku." Ucap Asy yang mencoba tenang dalam situasi ini.
"Untuk apa ?." Balas Sina.
"Soal itu." Dimaksudkan oleh Asy adalah kejadian malam lalu yang membuat dirinya berhubungan dengan Askar.
"Ya aku mengerti, jadi untuk apa kau meminta maaf ?." Secara tidak langsung Sina memang memahami perasaan Asy sejak lama.
"Apa kau tidak marah ?."
"Memang aku mengenalmu baru kemarin, aku sendiri sudah sadar jika kau pun memiliki ketertarikan kepada Askar." Jawab Sina dengan tersenyum cerah.
Asy yang kini sudah mendapatkan tubuh nyata, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah yang malu karena pembicaraan tentang Askar.
Terlebih lagi itu menyangkut antara hubungan Sina dan Askar pula, dia yang mengenal keduanya lebih dari enam tahun, tentu merasakan ikatan takdir membawa mereka dalam satu perasaan.
__ADS_1