PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
mana masih muda


__ADS_3

"Jangan asal kau bicara mengatakan kalau dirimu adalah Askar, kau tidak ada mirip-miripnya dengan tuan Askar."


"Apa kau mau mati mengaku sebagai Askar."


"Aku punya cermin mau aku pinjamkan."


Tentu ini membuat Askar bingung sendiri, dia adalah Askar, dari dulu sampai sekarang, tidak operasi plastik atau pun berganti kulit, tapi kenapa semua orang meragukan dirinya sebagai Askar.


Dan sekilas Askar ingat tentang patung yang dibuat oleh akademi laut selatan untuk menggambarkan wajahnya agar tetap di kenang sebagai kebanggaan akademi ini.


Memang jelas dari tempat Askar berdiri melihat sebuah patung yang berdiri sembari mengangkat pedang, nyatanya itu hampir tidak ada kemiripan sama sekali.


"Aku tidak ingat wajahku bisa setampan ini." Gumam Askar merasa di khianati oleh orang yang membuat patung dirinya.


Belum juga Askar membela diri, sebuah tombak panjang mengarah tepat di depan batang hidungnya, dia tidak bisa begitu saja membela diri, karena mereka semua tidaklah salah menganggap bahwa Askar yang ada didepan mata bukan Askar seperti di patung itu.


"Apa kau mau masih disini, atau kami melakukan hal yang kasar agar kau pergi." Ancam seseorang dengan berani.


"Bisakah aku membela diri."


"Untuk apa ?, sejak awal kau sudah salah karena sudah masuk tanpa izin dan kau masih ingin mencari alasan."


"Aku bukan mencari alasan, tapi bisakah kalian memanggil para grand master agar bisa menjelaskan tentangku."


"Huh ?.... Kau tidak tahu sopan santun, sudah masuk tanpa izin, dan mau menemui grand master kami, memang siapa kau itu."


"Sudah aku katakan aku ini Askar."


"Cukup, sekali kau menghina nama tuan Askar karena mengaku-ngaku sebagai dia, aku tidak akan mengampuni mu."


Askar merasa pusing sendiri menanggapi perkataan semua orang yang jelas-jelas tidak pernah melihat sosok dirinya secara langsung, karena memang sebagian besar dari mereka adalah murid baru.


Berniat melakukan perlawanan kecil, paling tidak untuk masuk ke istana utama dan bertemu salah satu grand master agar semua jelas.


Dan memang, saat tombak menyentuh kulit Askar, secara otomatis lapisan pelindung di sekitar tubuhnya aktif mengeluarkan sebuah gelombang kejut, dimana orang-orang di sekeliling Askar terdorong mundur.

__ADS_1


Ya perbedaan besar antara orang-orang di alam dunia asal tempat dia tinggal dan alam semesta atas memang sangat jauh, karena baru seujung jari kelingking Askar melepaskan gelombang energi mereka hampir semaput.


"Kau bernai melawan kami." Satu orang cukup memiliki kekuatan dalam bertahan dan berniat menyerang.


Gerakan yang sangat kaku, lambat dan jauh dari kata mampu, tapi masih berani melawan orang karena dia membela Askar, entah harus merasa senang atau sedih, untuk Askar pribadi ini masih membingungkan.


Seketika satu sosok wanita menghentikan tindakan murid yang berniat melakukan hal nekad karena dia mencoba melawan seseorang di atas kemampuannya.


"Kau mundur, dia bukan lawan yang bisa dilawan olehmu." Seorang wanita mungil empat belas tahun seakan paham jika kekuatan di balik tubuh Askar jauh dari pemahaman orang lain.


"Tapi grand master dia sudah....." mencoba membantah hanya saja satu wanita muda itu melempar tubuhnya dengan kuat.


"Jangan melawanku, apa kau mau mati karena hal ini." Tegas satu grand master yang marah untuk tindakan nekad.


Askar merasa aneh dengan kehadiran gadis muda yang datang secara tiba-tiba, karena dia seakan pernah melihatnya untuk waktu lama.


"Grand master Sui...." Ucap Askar sebuah nama yang telah lama hilang.


"Huh ?, Siapa kau yang berani-beraninya memanggil namaku dengan sok kenal." Balas grand master muda yang melihat Askar tajam.


Terlebih lagi, sudah bertahun-tahun lamanya grand master Sui dikabarkan tewas saat pertarungan melawan ras iblis, tentu tidak ada yang bisa berharap jika dia masih selamat, karena hampir mustahil ada orang bertahan melawan ledakan senjata pemusnah Dewa saat itu.


"Askar ?." Bingung Grand master Sui menyebutkan nama Askar lagi.


"Ya kau memang mirip dengan Askar yang asli dari pada patung itu, sungguh jauh dari bayangan." Terlihat ekspresi jijik dari wajah grand master Sui saat membandingkan antara dua orang yang jelas berbeda wajah.


"Karena aku memang Askar yang asli." Tersirat rasa bahagia karena grand master Sui masih mengakui dirinya.


Tidak berselang lama setelah kehadiran Sui menemui Askar, kini para guru-guru dan grand master lain pun mulai berdatangan untuk melihat keadaan karena keributan ini.


Grand master tua gila, Sui, Suni dan Laila, mereka datang bersama-sama, tapi sekilas semua orang tampak terkejut karena siapa yang mereka lihat sekarang bukan orang lain, itu adalah Askar.


"Kapan kau kembali askar." Grand master Laila menunjukan wajah bahagia untuk Askar.


"Anak muda, aku kira kau sudah melupakan kami." Grand master Suni pun cukup terbuka sekarang.

__ADS_1


"Tentu aku tidak akan melupakan tempat asal ku disini, aku bukan kacang yang lupa di goreng." Asal saja Askar memberi peribahasa.


Tapi melihat ke semua Grand master ada beberapa orang yang tidak terlihat, ya grand master jilu dan grand master Wajo.


"Apa yang terjadi dengan grand master Wajo, aku tidak melihatnya." Bertanya Askar karena merasa aneh.


"Soal grand master Wajo, dia.... Dia..." Terlihat cukup bingung untuk grand master Suni menjelaskan.


"Jangan-jangan dia.... Sungguh sangat disayangkan jika wajo, Hmmm...mana masih muda lagi." Asal saja Askar beranggapan.


"Memang apa yang sedang kau pikirkan Askar." Cukup kesal Grand master Laila karena imajinasi Askar berlebihan.


"Loh... Memang apa yang ingin Grand master Laila bicarakan." Askar tertawa kecil karena dia terlalu banyak berpikir.


"Dia hanya mengundurkan diri untuk menggantikan posisi ayahnya di klab Pajajaran." Jawab Laila.


"Ah jadi begitu, aku kira." Askar merasa tidak nyaman untuk isi pikirannya.


Dan satu orang lain yang biasanya hadir bersama dengan mereka pun tidak terlihat, dimana terakhir Askar tahu bahwa dia adalah ketua para grand master akademi laut selatan.


"Bagaimana dengan grand master jilu." Bertanya Askar.


"Kalau soal dia, anggap saja dia telah tewas." Santai saja Grand master Sui menjawab.


"Aku turut berdukacita, mana dia masih muda ?, Tidak sepenuhnya memang sudah umur." Anggapan Askar jelas berbeda.


"Botak pula." Tambah Grand master Sui membicarakan Jilu.


"Ya, masih botak pula." Ulangi Askar.


Tapi seketika sosok yang mereka bicarakan hadir dengan tatapan marah dan mata melotot tajam penuh emosi.


"Jangan asal bicara kau bocah, aku masih hidup, baru di tinggal pergi sebentar ke toilet kau anggap aku sudah mati." Dengan marah grand master Jilu ingin memukul Sui.


Ya ... Ini adalah mereka, bukan sekelompok para Grand master, tapi lebih seperti grup lawak, tapi dari dulu hingga sekarang Askar jelas tahu bahwa mereka tidak berubah.

__ADS_1


"Oi... kapan aku dapat bagian untuk bicara, ini sudah di ujung chapter." berkata Guru tua gila yang murung karena tidak mendapat tampilan.


__ADS_2