PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
Najis tahu !


__ADS_3

Ini sangat sulit tapi Askar bisa melawan mereka bertiga, jika dibandingkan dengan Quan Qian sang pendekar mata api, lawan Askar sekarang lebih lemah satu tahap.


Tapi tetap saja tidak bisa Askar bersikap sembrono, karena dia sendiri belum mengetahui kemampuan dari masing-masing lawannya, akan jauh lebih merepotkan jika mereka mampu menggunakan mode transformasi Phoenix.


Andai kata terjadi lepas harapan Askar untuk menang dalam pertarungan ini, hanya saja, dari informasi yang dia dapat dari Asy, mode transformasi akan bangkit jika pemilik kekuatan Phoenix mendapatkan jiwa Phoenix asli atau darah keturunan murni.


Dan di klan Phoenix hanya pangeran Ke'su saja yang menyandang status sebagai keturunan langsung dari garis darah murni leluhur Phoenix.


Sosok yang pertama maju, adalah seorang lord alam monarch tahap akhir, ini mungkin cukup mudah bagi Askar, hanya perlu membuka gerbang ke empat kebangkitan penguasa dari skill pemangsa.


Itu akan membawa kekuatan Askar menuju kesetaraan sebagai lord alam monarch tahap menengah, tapi dengan bakat yang melampaui satu tahap, seharusnya mampu melawan balik serangan musuh.


"Apa kau memerlukan waktu untuk bersiap-siap ?, Karena orang-orangku tidak akan ragu dalam bertarung." Ucap pangeran Ke'su merasa menang sebelum perkelahian di mulai.


"Itu tidak perlu, aku sudah siap, bahkan sebelum kau menujukan wajah." Balas Askar setelah melakukan peregangan.


Semua peregangan itu cukup penting sebelum melakukan gerakan besar dan menguras banyak tenaga, salah-salah otot yang sebelumnya masih kaku akan mengalami keseleo.


Tidak lucu ketika pertarungan dalam kecepatan cahaya, tangan Askar secara tiba-tiba merasa keram dan salah urat, sampai harus dibawa ke tukang urut, mana ada tukang urut di alam semesta atas.


Lelaki kurus, tinggi, membungkuk, wajah bercoretan merah di kedua kelopak mata, gigi-gigi kuning, telinga lebar dan semua tindik yang bergelantungan di wajah.


Jika seorang anak kecil melihat wajah lelaki bernama Bo're itu saat tersenyum, bisa dipastikan mereka akan terkejut dan semaput seketika.


"Kau boleh mengeluarkan semua jurusmu, aku hanya akan bertarung dengan dua belati ini." Ucap sosok bernama Bo're tersenyum sembari menjilat mata belati dengan lidahnya.


"Bisa kau tidak melakukan itu." Balas Askar melihat dengan jijik.


"Apa maksudmu."


"Jangan menjilat senjatamu." Perjelas Askar.


"Kenapa kau mempermasalahkan ini."


"Aku tidak ingin air ludah dibelatimu muncrat kemana-mana, najis tahu !." Askar memang tidak nyaman jika dia menangkis serangan Bo're, tapi wajahnya basah dan bau pula.


Itu tidak diperdulikan oleh Bo're, karena tanpa ragu lelaki cungkring itu bergerak dan menghunuskan belati ke arah kepala.


Askar belum siap, bahkan belum membuka skill pemangsa, hampir lepas kepalanya itu, jika kakek Loe Teu Yiu tidak menghadang belati Bo're dengan pedang tanpa wujud.


"Aku belum memulai pertarungan, jika kau tidak mundur, aku akan membunuhmu." Suara kakek loe teu yiu terdengar mengancam.

__ADS_1


Bo're yang sebelumnya cengengesan, kini diam dan segera melompat mundur dengan gemetar, memang dirasakan Loe Teu Yiu mengeluarkan aura kuat sebagai seorang lord keabadian tertinggi.


Tidak ada satu pun berani berkomentar, bahkan setiap penonton yang duduk bersila diatas tanah, sembari berbincang-bincang ria, seketika diam karena aura penguasa pedang membuat nafas mereka tercekik.


"Askar apa kau sudah siap." Tanya kakek loe teu yiu.


Skill pemangsa gerbang keempat kebangkitan penguasa.


Ledakan energi naik ke atas langit, kobaran aura kuat membuat mata pangeran Ke'su terbuka lebar.


Seperti yang dikatakan oleh kakek Loe Teu Yiu, dia tidak tahu apa pun tentang kekuatan Askar, dan itu jelas sekali menujukan kesalahan.


"Ya aku siap." Balas Askar dengan pedang besar ditangan.


Bo're tahu kekuatan Askar meningkat secara signifikan, tapi dia masih menujukan senyum penuh semangat untuk bertarung melawan Askar.


"Baiklah silakan dimulai." Tegas ucapan kakek loe teu yiu.


Kecepatan langkah dari serangan Bo're sangat lincah, ini sama seperti gaya bertarung dari Resla, sebuah teknik beladiri bernama tarian Phoenix.


Untungnya Askar cukup memahami sebagian besar langkah-langkah dari serangan Resla, sehingga dia bisa mengikuti gerakan Bo're tanpa perlu mempelajarinya lagi.


"Tidak perlu bertanya kenapa, karena pernah aku bertarung dengan lawan menggunakan teknik yang kau gunakan." Balas Askar selagi menghindari setiap serangan Bo're.


Hanya saja, faktor lain yang membuat gerakan Bo're lebih berbahaya dan harus diwaspadai adalah kelenturan tubuh kurus serta jangkauan tangan panjangnya.


Dari pada Resla, orang-orang dari klan Phoenix mempelajari tentang teknik beladiri tarian Phoenix sejak balita, karena itu Askar harus lebih waspada.


Askar membalas, tapi Bo're cepat menghindar dan kembali menyerang, bertubi-tubi tangan panjang yang lentur itu seperti gerakan kepala burung.


Cepat, tepat dan berbahaya, belati datang tanpa henti, tanpa jeda dan tanpa memberikan Askar kesempatan mencari celah.


Tapi kuat kuda-kuda Askar membenturkan pedang besarnya ke sisi sebelah kiri dimana arah belati Bo're datang.


Benturan keras dua senjata terjadi, Askar tidak melewatkan satu jeda dalam waktu sepersekian detik untuk mengalirkan seni beladiri pernafasan.


Seni beladiri pernafasan gelombang ke pertama : hembusan dari tenggara.


Bola angin energi pernafasan membengkak dari inti tubuhnya meledak dan menghempaskan Bo're ke belakang.


Pijakan tidak seimbang, dan bingung dengan serangan tanpa dia duga, seketika itu Askar menampakan diri di sebelah kanan, dimana satu tarikan pedang melayang tegas ke tubuh Bo're.

__ADS_1


Hantaman langsung tidak terhindarkan, pedang besar membuat Bo're berguling-guling di atas tanah kemudian melompat dan berdiri lagi.


"Hmmm ?." Askar bingung.


Tidak terlihat Bo're merasakan dampak dari serangan Askar, karena dia sendiri tahu, seberapa kuat ayunan pedang yang dia lepas.


"Hampir saja." Tersenyum lega Bo're saat menatap Askar.


"Bagiamana bisa ?." Askar binggung.


Askar pun memikirkan apa yang terjadi pada tubuh Bo're, dan beberapa kemungkinan memberi jawaban di dalam kepala.


Salah satunya adalah tubuh lentur Bo're menjadi alasan kenapa hantaman pedang Askar seakan tidak berpengaruh terhadapnya.


Bukan berarti tidak memberikan efek sakit, tapi dengan kelenturannya itu, dia bisa meminimalisir dampak serangan Askar, karena tubuh Bo're ikut melengkung.


"Kalau memang begitu, aku tidak membutuhkan pedang." Askar melenyapkan senjata berat yang biasa dia gunakan.


Dan secara sengaja Askar menciptakan dua belati untuk berhadapan dengan Bo're yang sama-sama sebagai pengguna senjata pendek.


Walau keuntungan berada di pihak Bo're yang memiliki lengan lebih panjang, Askar tidak akan bertindak tanpa kepastian menang.


(Note : gerbang-gerbang dari skill pemangsa yang berhasil Askar gunakan.



kerakusan jiwa.


gemuruh surga.


Penghakiman neraka


kebangkitan penguasa


murka penguasa


raja penguasa



Hanya enam gerbang yang baru di ketahui, sedangkan Asyura sendiri mampu membuka delapan gerbang sebagai batas akhir dari kekuatan skill pemangsa.)

__ADS_1


__ADS_2