
Pagi kembali datang, secara sadar atau tidak, Sina membuka mata dengan tatapan bingung dan rasa sakit disela-sela paha, terlebih tanpa mengenakan satu helai pun pakaian.
"Apa yang terjadi." Gumam Sina dengan melihat sekitar.
Sosok lelaki masih berbaring disampingnya, dan kondisi cukup berantakan, dimana semua pakaian yang sebelumnya melekat ditubuh kini berhamburan, bahkan ada yang sobek, basah, dan bau.
"Aku tidak ingat tidur bersama Askar, bukannya semalam ada di rumah Salora." Binggung Sina sendirian, mencoba mengingat tapi tidak ada jawaban pasti.
Tapi yang benar-benar jelas dia rasakan adalah kondisi tubuhnya terasa tidak karuan, sakit, kaku dan pegal, sangat lelah bahkan untuk menggerakkan satu kaki saja itu sangat sulit.
Selama dia melakukan hubungan intim bersama Askar, tidak pernah dirinya sekacau ini, sampai lupa tentang apa yang terjadi.
"Askar, Askar." Sina coba membangunkan lelaki yang terlelap dalam tidur.
"Ada apa ?, Apa kau masih mau lagi." Ucap Askar dengan sedikit senyuman kecil.
Mata malas untuk terbuka, hanya sedikit kesadaran yang membuatnya terbangun, tapi dengan keras tamparan ditangan plus kekuatan energi melesat tanpa ragu.
Askar berdiri dengan terkejut...."Apa ?, Apa ?, kebakaran ?, Maling ?, Satpol PP ?, Grebek warga ?."
"Hei aku tidak tahu kau pernah berurusan dengan satpol PP, apa lagi kena grebek warga." Berkata Sina yang kesal mendengar setiap ucapan Askar.
Segera sadar ketika dilihatnya wajah wanita yang sedang duduk tanpa busana tepat di sebelah.
"Ternyata kau Asy." Ucap Askar.
"Asy ?."
"Bukan ?."
"Sekarang aku Sina ?, Kenapa kau bicara tentang Asy." Balas Sina dengan bingung.
"Begitukah ?, Hehehehe." Tertawa Askar seakan menutupi sesuatu.
Intuisi wanita dalam diri Sina seakan berkelana ke berbagai kemungkinan, tapi dia mencoba untuk tidak memberi kesimpulan secara asal.
"Apa yang terjadi semalam Askar, kenapa aku merasa sakit sekali." Bertanya Sina untuk memastikan.
"Ya seperti biasa, kita melakukan rutinitas malam." Balas Askar.
"Tapi ini tidak seperti biasanya."
"Mungkin karena aku terlalu bersemangat." Jawab saja Askar dengan asal.
Hanya saja Sina sangat memahami Askar, dua puluh tahun lebih mereka hidup dan tahu sifat masing-masing, karena itu insting Sina sebagai seorang wanita jelas mencium adanya perubahan dari cara Askar berbicara.
__ADS_1
"Apa kau menyembunyikan sesuatu." Berkata Sina dengan tatapan mata tajam.
"Huh ?, Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu, kau bercanda Sina, lagian hanya karena kau tidak ingat seberapa serunya semalam, kau menganggap aku berbuat hal yang salah." Balasan Askar terlihat meragukan, dimana dia tidak berani membalas langsung tatapan Sina.
"Hmmm, aku akan bertanya kepada Asy." Ucap Sina yang seharusnya Asy tahu akan sesuatu.
Askar segera menarik tangan Sina dan menghentikan dia memasuki alam bawah sadar."Tu... Tunggu sebentar Sina, tenang lah dulu, ini bukan masalah besar, tidak perlu kau bawa orang lain."
"Aku hanya ingin bertanya kepada Asy, apa salahnya..., memang aku sendiri yang ada di sini, tapi kenapa aku lupa, dan seharusnya aku sedang tidur bersama Rea." Jawab Sina yang semakin penasaran.
Melihat bagaimana Askar begitu gugup ketika dia membahas tentang Asy, semakin kuat pula jiwa sebagai seorang wanita yang ingin tahu tentang sesuatu.
Coba Sina memanggil Asy untuk bertukar jiwa, tapi tidak ada jawaban dan Sina pun semakin bingung.
"Aku tidak bisa memanggil Asy keluar."
"Sudahlah, sudahlah, aku yakin Asy sedang kelelahan, jadi jangan ganggu dia." Gugup Askar menanggapi perkataan Sina.
"Bagaimana kau tahu Asy sedang kelelahan ?."
"Kau tahu, dia selalu terbangun dari pagi hingga malam didalam jiwamu, mungkin untuk kali ini Asy kurang sehat, seperti kata bang haji,... karena terlalu banyak begadang, muka kusam karena gak punya uang." Balas Askar.
"Aku tidak tahu jika begadang membuat orang gak punya uang."
Sina secara langsung memasuki alam bawah sadar, dan nyatanya dia jelas melihat seekor burung merah berbaring lemas di atas tanah.
Terkejut bukan main Sina melihat kondisi Asy, dia yang biasa hinggap diatas dahan pohon dalam alam bawah sadar, seakan tidak berdaya tanpa mampu bergerak.
"Asy apa yang terjadi." Ucap Sina dengan binggung sekaligus takut.
Karena ini tidak pernah terjadi kepada jiwa Phoenix merah, bahkan jika Sina kehabisan energi setelah pertarungan panjang, Asy hanya akan tertidur untuk beberapa waktu.
Tapi kali ini, Asy terkapar tidak berdaya, tubuhnya lemas kehabisan sumber energi.
"Ah Sina kau datang." Ucap Asy dengan suara lirih.
"Kenapa bisa begini Asy."
"Sekarang aku sadar, Askar bukan sembarangan, jangan buat dia menujukan burung rajawali nya itu." Balas Asy yang kemudian kembali tidak sadarkan diri.
Kembali Sina kedalam tubuh yang nyata, dan saat melihat ke arah Askar, dia hampir pergi melarikan diri untuk menghindar dari pertanyaan Sina.
"Askar apa yang kau lakukan kepada Asy."
"Aku lakukan, memang dia kenapa ?."
__ADS_1
"Jangan berlagak bodoh, Asy sekarang pingsan tidak sadarkan diri."
"Tidak... Aku tidak melakukan apa pun."
"Cepat katakan." Tegas suara Sina mengancam.
"Baiklah, baiklah, semalam aku pikir kau yang datang dan mencoba merayuku untuk berhubungan."
"Huh ?."
"Aku tidak tahu jika itu adalah Asy."
"Terus ?."
"Aku terbawa suasana." Lemas Askar mengakui perbuatannya.
Askar tidak punya pilihan untuk menceritakan semua, terlebih lagi Sina jelas berhubungan dekat dengan Asy.
Jika dia mendengar langsung dari orang lain, terlebih sahabatnya sendiri didalam jiwa, maka akan merepotkan kalau dikira ada pelakor diantara mereka.
"Baiklah aku mengerti, jadi kenapa dia sampai pingsan." Sina mengangguk paham.
"Soal itu, aku ingat jika dulu dia mengejekku untuk persolan begitu, begitu, aku membalasnya dengan mengalirkan energi iblis agar itu semakin besar." Perjelas Askar untuk menceritakan kondisi yang terjadi.
"Kau tahu itu berlebihan, bagaimana jika Asy sampai trauma." Lemas Sina untuk membayangkan.
"Maafkan aku."
Entah kenapa Sina tidak mempermasalahkan tentang posisi Asy yang merayu Askar, dan juga soal dirinya terbawa suasana.
"Jadi apa kau tidak marah soal Asy yang meminjam tubuhmu untuk berhubungan." Bertanya Askar.
"Aku sudah tahu jika Asy memperhatikanmu, dan juga menaruh perasaan, tapi kau terlalu berlebihan Askar." Sina membalas dengan jawaban yang membuat Askar terkejut.
Ini tidak pernah terpikirkan oleh Askar, sepanjang perjalanan dia mengenal Asy, memang beberapa kali terjadi pertengkaran, dan mengejek satu sama lain.
Tapi siapa sangka, dalam hubungan yang rumit tanpa adanya perasaan, lambat lain Asy menujukan minat kepada Askar.
"Aku merasa bersalah sekarang."
"Minta maaflah nanti kepada Asy."
"Ya aku akan lakukan." Balas Askar yang menunduk lemas.
(Note : di novel Dunia di balik batas 1, telah di buat voice Record story... Walau ada yang kurang sreg, karena cara ucapannya terlalu serius.... Tapi top banget, terimakasih Baharata FM Trenggalek...)
__ADS_1