PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
tidak layak


__ADS_3

Kehadiran Askar sebagai pemimpin di kelompok pasukan khusus bentukan Varjo de hores, memang memiliki beberapa masalah internal.


Jika mereka menerima Askar karena takut menghadapi Varjo de hores, sang penguasa alam semesta kerajaan beladiri, tapi di balik itu semua, wajah patuh yang mereka tunjukkan dihadapan Varjo, jelas berbeda jika harus menanggapi Askar.


Berbanding terbalik dengan kesetiaan dari beberapa prajurit, terlebih lagi bagi mereka-mereka yang mendapatkan top ranking, tapi harus menjadi bawahannya.


Varjo dan Suzong menyaksikan bagaimana Askar akan mengatur dua orang yang jelas-jelas tidak menginginkan dirinya hadir sebagai seorang majikan, sedangkan mereka tidak lebih dari para pembantu.


"Perkataan tuan Varjo mungkin terdengar mengancam."


Memang sejak awal Varjo de hores mencoba mengancam siapa pun yang tidak patuh kepada keputusannya.


"Tapi aku disini akan bertanya satu kali lagi... Siapa diantara kalian tidak menginginkan aku menjadi pemimpin, silakan maju dan datang kepadaku." Tegas ucapan Askar yang berdiri sombong menghadap sembilan puluh sembilan orang.


Dimana sekarang mereka menatap Askar dengan sorot mata tajam, ketidaksukaan terhadap Askar yang tertahan karena ancaman Varjo de hores kini bisa disalurkan secara langsung.


Dan hampir separuh dari mereka mengangkat tangan, sedangkan salah duanya jelas Le Wei dan Dal mantilo, kedua orang inilah yang menunjukan ada permusuhan antara Askar dan mereka, meskipun untuk Le Wei dia berulang kali dikalahkan, tapi tetap saja tidak mau terima.


Sedangkan Dal mantilo merasa Askar tidak layak, dia belum sekali pun berhadapan langsung melawan Askar, seseorang yang tidak pernah diketahui asal usulnya, tapi sekarang mencoba untuk menjadi pemimpin, Dal mantilo terlihat ingin memberontak.


Di sisi lain, Fei sui sue yang memang pro kepada Askar, tidak menunjukan penolakan, bahkan mungkin dia adalah orang yang benar-benar mendukung Askar sepenuh hati.


"Ternyata cukup banyak...." Gumam Askar sembari mengangguk-anggukan kepalanya perlahan.


Sebuah pedang besar jatuh dari atas langit, menancap tepat di hadapan Askar, guncangan keras pun dirasakan oleh semua orang yang menyaksikan.


"Aku mengatakan ini dengan tujuan agar kalian semua bisa mengakui ku secara langsung, tapi berhubung cukup banyak yang menolak, aku beri kalian kesempatan untuk berunding, siapa yang akan bertarung melawanku." Tegas suara Askar menawarkan pertarungan dengannya.

__ADS_1


"Lantas apa untungnya untuk kami, misal pun kau kalah, tuan Varjo de hores masih mendukungmu agar tetap bersanding di atas kursi kepemimpinan." Satu suara berkomentar.


"Tidak, kau salah, jika memang kalian bisa mengalahkan ku, aku pastikan turun, dan tidak perduli tuan Varjo menginginkan aku memimpin, aku akan menolaknya, itu jika kalian bisa mengalahkan ku." Askar menjawab untuk sebuah tawaran yang layak.


Mereka semua, orang-orang yang meragukan Askar mulai berbisik satu sama lain, tapi tidak lama kemudian, dua orang melompat maju di hadapan Askar.


Askar sendiri sudah menebak siapa mereka, karena dari awal hanya dua orang itu saja yang cukup pantas bersaing dengan Askar. Dal mantilo dan Le Wei.


"Tunggu bukankah aku katakan jika hanya satu orang yang bisa melawanku." Ucap Askar karena dua orang ini maju secara bersamaan.


"Hei kenapa kau juga ikut-ikutan, biar aku yang melawan orang ini." Dal mantilo dengan suara keras menyingkirkan Le Wei untuk mundur.


"Apa perduli mu, kau tidak bisa memerintah ku." Le Wei secara keras kepala tidak mau turun.


"Kau sudah berulang kali kalah dengan Askar, apa kau tidak malu untuk menambah daftar kekalahan mu." Secara langsung Dal mantilo menyindir soal itu.


Menarik pedang panjang lentur yang menjadi andalannya, dan dia acungkan ke leher Dal mantilo sebagai bentuk perlawanan. Melawan rasa malu tentunya.


"Oh, kau berani menantang ku rupanya, baik aku akan melawan mu." Dan Dal mantilo tidak terima atas perlakuan dari Le Wei.


Askar diam di tempat, dia jelas mengumumkan untuk siapa pun yang menentang silakan melawannya, tapi kini keadaan berbeda, dua orang itu meributkan hal tidak penting sendiri.


"Anu....bukankah sudah aku katakan jika ini adalah untuk melawanku." Ucap Askar karena bingung.


"Apa kau keberatan." Dengan tegas mereka berdua menjawab secara kompak.


"Aku sih tidak keberatan, tapi jika kalian memang mau ribut sendiri, Aku sebaiknya pergi saja." Berkata Askar yang siap untuk turun.

__ADS_1


Keduanya segera berhenti bertengkar, Le Wei menyimpan kembali pedang itu ke dalam ruang penyimpanan khusus, dengan mencoba memahami keadaan dia pun berjalan mundur.


"Baiklah, aku akan menyerahkan ini kepadamu Dal mantilo, biar aku lihat apa kau bisa mengalahkan dia atau tidak." Ucap Le Wei yang pergi dari tempat Askar.


Askar memang tidak merasa takut jika harus menghadapi dua orang itu di waktu bersamaan, tapi perjanjian yang dia berikan hanya untuk satu orang, dan Askar tidak mau merepotkan dirinya sendiri karena mereka.


Dal mantilo ini berdiri menghadap Askar dengan wajah bangga, tertawa-tawa keras dan merasa jika memang sudah waktunya menunjukan kekuatan.


Dia sendiri sudah melihat pertarungan Askar sebelumnya, entah saat melawan putra dari Varjo yang terkenal akan kekuatannya, atau pun beberapa orang di dalam duel.


Hanya saja dia belum merasakan sendiri bagaimana pertarungan melawan Askar, memang benar jika saat latih tanding antara perguruan beladiri pedang semesta dan istana beladiri suci dia tidak datang karena pelatihan tertutup.


Tapi banyak yang mengakui bahwa pertarungan Askar melawan payou sangatlah luar biasa, dia cukup penasaran, karena sejak awal antara mereka payou dan Dal mantilo seimbang.


"Sungguh, ketika latih tanding saat itu, aku tidak ikut untuk melihatmu, tapi sekarang biar aku lihat sendiri bagaimana ucapan semua orang yang membesar-besarkan tentangmu." Dal mantilo sudah siap dalam pertarungan.


"Aku tidak tahu soal tentang semua orang, tapi jika memang kau bertanya tentang kemampuanku, maka akan aku tunjukan." Askar membalas perkataan Dal mantilo dengan berani.


Hanya saja saat ini Askar masih belum memperlihatkan kekuatan sejati yang sengaja dia sembunyikan sampai sekarang, karena hal itu banyak orang menganggap bahwa Askar tidak sehebat mereka kira.


Termasuk juga Askar, pedang yang dia tarik dengan keras, memberikan efek getaran kuat di lantai, mereka secara yakin mengakui kemampuan dalam senjata tipe berat memang sangat mengagumkan.


Tapi sayangnya, lawan Askar adalah Dal mantilo, pengguna senjata cambuk dan dia pula adalah orang yang mengalahkan Karlina dalam pertarungan sebelumnya.


Jelas pertarungan pedang berat menjadi kesulitan untuk mengatasi sebuah cambuk lentur yang bisa mengarahkan setiap serangan ke segala arah.


Ditambah lagi, kekuatan Dal mantilo sendiri adalah lord alam saint suci tahap menengah, tentu saja orang-orang tidak bisa menilai bagaimana pertarungan antara dua saint suci itu.

__ADS_1


__ADS_2