
Akademi laut selatan, Halaman luar istana utama.
Saat ini jumlah murid akademi laut selatan mencapai 3.000 warrior dari bagian luar dan dalam, peningkatan yang mencapai dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya.
Pembangunan bangunan-bangunan baru pun masih berjalan, itu tidak lah aneh, karena nama akademi laut selatan kini menyebar luas di seluruh dunia.
Tidak menutup kemungkinan banyak para warrior jenius yang berdatangan untuk mencari pengalaman dalam dunia beladiri.
Tapi satu yang menjadi sosok mengejutkan diantara semua jenius adalah Dannis, kehadirannya di akademi laut selatan ini menujukan bakat seorang jenius dimana usianya baru menginjak 16 tahun.
Dan Dannis sudah mengalahkan murid bagian dalam yang memiliki tingkat kekuatan seorang setengah saint tahap menengah. Tentu ini hampir mustahil, karena pertumbuhan tingkat kekuatannya diatas rata-rata para jenius.
Kini berjalan Dannis dengan beberapa murid akademi laut selatan yang menggunakan jubah putih biru, sedangkan Dannis berbeda.
"Senior Dannis apa yang kau lakukan hari ini." Ucap seorang gadis cantik yang berjalan di sampingnya.
"Kakak Siya, jangan panggil aku senior, karena bagaimana pun aku bukan murid akademi laut selatan, dan kak Siya jauh lebih tua dariku yang muda ini." Jawab Dannis yang masih menghormati sosok gadis itu.
"Aku bertanya-tanya, kalau kau bukan murid akademi laut selatan, lantas kenapa kau ada disini." Bertanya sosok lelaki lain yang sama mengikuti Dannis.
Walau sebenarnya bukan Dannis yang di ikuti oleh lelaki itu, dia adalah Samu pengawal pribadi dari Siya, dimana merasa akrab untuk sekedar bertanya jawab dengan Dannis.
"Hhheeeeeh." Terdengar hembusan nafas berat dari Dannis.
Kedua orang itu yang bertanya-tanya tentang kehadiran Dannis di akademi laut selatan merasa bingung, karena ekspresi wajah gadis cantik perpotongan pendek layaknya lelaki tidak menujukan perasaan bahagia.
"Maafkan pertanyaan Samu, senior Dannis, dia menang tidak berguna." Ucap Putri Siya dengan memukul kepala Samu.
"Putri Siya kenapa aku di salahkan." Merasa kesal dengan sikap putri Siya, tapi dia tidak bisa membalasnya.
"Tidak, tidak ada yang salah dengan pertanyaan Samu, hanya saja, aku sendiri bingung akan menjawab seperti apa." Jawab Dannis dengan ekspresi wajah rumit.
"Kenapa memang ?."
Dengan senyuman terpaksa Dannis memikirkan seseorang yang sudah lama tidak dia lihat, dan keberadaan tentang sosok itu pun tidak diketahui.
__ADS_1
"Apa kak Siya tahu tuan Askar..." bertanya Dannis yang menyebutkan nama itu.
"Ya jelas kami tahu, sosok peringkat pertama warrior generasi muda terbaik, dan yang membawa akademi menjuarai peringkat pertama turnamen peringkat akademi, tuan Askar yang perkasa." Ucap Samu denan ekspresi bangga saat mengagung-agungkan sosok Askar.
"Kalau begitu ini akan mudah."
"Memangnya ada hubungan apa antara senior Dannis dan tuan Askar." Putri Siya pun merasa penasaran atas hubungan mereka berdua.
"Aku adalah muridnya." Singkat saja Dannis menjawab.
Tentu itu membuat mereka terkejut, bukan hanya nama Askar disebutkan, tapi Dannis mengakui jika dia adalah gurunya, bahkan tidak ada yang tahu bahwa Askar memiliki seorang murid.
"Aku tidak pernah mendengar kalau tuan Askar memiliki seorang murid." Balas Samu.
"Ya memang benar ini tidak pernah aku ceritakan, tapi jangan anggap kalau kakak guru Askar melatihku." Ucap Dannis dengan berat.
"Bagaimana bisa, kalau tuan Askar adalah guru kakak Dannis kenapa dia tidak mau melatih." Putri Siya tentu memiliki pertanyaan tentang pernyataan Dannis.
"Itulah kenapa sampai sekarang aku masih bingung, padahal sudah dua tahun dia mengangkatku sebagai murid dan hanya satu kali kakak guru Askar mengajarkan bagaimana mengolah kekuatan energi." Dengan perasaan rumit Dannis menjawab.
Tentu bakat itu sangat diapresiasi oleh pihak akademi dan mereka pun ingin membawa Dannis menjadi bagian murid, tapi sayangnya Dannis menolak, karena dia tidak mendapatkan perintah dari Askar.
Seketika saat dannis dan beberapa orang yang mengikuti dirinya saling berbincang membahas tentang garis guru dan murid dalam hubungan rumit Dannis dan Askar.
Lima orang dengan jubah akademi laut selatan dan beremblem sebagai murid bagian dalam istana datang menghadang.
Dilihat bagaimana rupa mereka berlima dengan sengit ketika menatap Dannis, seakan memiliki dendam pribadi yang ditunjukan jelas kepada Dannis.
"Kemarin kau memukuli dua anak buahku kan." Berkata satu orang itu dengan suara keras.
Seakan tidak merasa bersalah atas tudingan dari sosok lelaki itu, dannis hanya menoleh kebelakang dan semua orang menggelengkan kepala.
Hampir semua orang menyingkir ketika lelaki itu datang, dia sangat terkenal karena dirinya memang selalu mencari masalah bagi setiap orang di akademi.
"Apa kau bicara denganku senior Juned." Bertanya Dannis dengan wajah bertanya-tanya.
__ADS_1
"Memangnya siapa lagi." Juned semakin ngegas karena Dannis mencoba menyangkal tindakannya.
"Kalau begitu aku minta maaf senior jika memang terlalu berlebihan saat melawan kedua anak buahmu." Tapi karena memang dia merasa melakukan hal itu, Dannis berusaha menghindari masalah.
"Seenak jidat kau meminta maaf, sedangkan lihat wajah kedua anak buahku, dia sampai tidak diakui oleh ibunya sendiri." Berkata Juned dengan marah.
"Padahal kemarin aku tidak memukulnya terlalu keras, tapi kenapa bisa bonyok begitu." Dannis merasa heran untuk hal itu.
Juned memang selalu bertindak arogan atas setiap kejadian yang berhubungan dengan dirinya, tidak berpikir jernih dan sebuah serangan pun dia lakukan.
Dannis bersiap dengan kekuatan ilmu beladiri pernafasan dan mulai mengalirkan hembusan nafas panjang untuk membalas serangan Juned.
Tapi saat itu juga, sosok lain datang kobaran api biru membentuk dinding api yang menghentikan langkah Juned dalam serangan gelombang kejut ditangan.
Juned mundur beberapa langkah kebelakang, dan mengarahkan pandangan kepada satu sosok yang berjalan maju didepan Dannis.
"Dargo, kau selalu menghalangiku, apa urusanmu." Juned sontak memaki orang yang muncul.
"Ini memang bukan urusanku, tapi cara yang kau lakukan tidak bisa aku terima." Balas Dargo dengan tegas.
"Kau bersikap seakan pahlawan Dargo." Berkata Juned sebagai tanda tidak terima atas perlakuan Dargo.
"Aku hanya melindungi orang yang menurutku tidak bersalah." Balas Dargo.
Juned melompat tinggi, satu tangan membentuk energi gelombang kejut yang siap menyerang kearah Dargo.
Dua benturan serangan antara api biru dan gelombang kejut memberikan dampak besar yang menghasilkan efek ledakan hingga melempar semua orang di sekitarnya.
Dargo merasa terkejut atas kekuatan yang dimiliki Juned, terakhir dia hanya seorang monarch berdaulat tahap menengah, tapi dalam beberapa tahun dia mencapai setengah saint tahap menengah.
Itu membuktikan bahwa Juned bersungguh-sungguh dalam latihannya, dan memang jelas Dargo harus mengambil satu langkah mundur karena dorongan gelombang kejut.
Putri Siya dan Samu menyadari jika pertarungan antara Dargo dan Juned sangat luar biasa, hingga rasa terkejut membuat mereka berdua ketakutan.
"Hei apa yang terjadi ... Kenapa kak Dargo berkelahi dengan Juned, apa masalah hutang yang belum dibayar." Bertanya seseorang dengan menepuk pundak Samu.
__ADS_1
Dilihat siapa yang bertanya, membuat ekspresi Samu jauh lebih terkejut dari pada menyaksikan dua kekuatan murid bagian dalam saling bertarung.