
Askar memusatkan konsentrasi secara penuh, dimana kendali atas kekuatan keajaiban hidup harus konsisten dalam menyembuhkan setiap kerusakan dari tubuh Lelia.
Perlahan namun pasti, keajaiban hidup membentuk kembali setiap sel dalam tubuh Lelia yang terputus.
Ini cukup mudah bagi Askar, dimana kemampuan kendali atas keajaiban hidup sudah meningkat pesat dari pada saat membuat sirkuit energi dalam tubuh Silva.
"Kau adalah alasan untuk kakakmu berusaha keras, tidak perduli membuang harga diri sebagai pelayan, jadi kau harus tetap hidup." Gumam Askar yang melihat Lelia dengan sendu.
Erat genggaman tangan itu kuat tidak melepaskan Joni, wajahnya menujukan sebuah senyum kebahagiaan, seakan sudah lama tidak Lelia rasakan kenikmatan dari rangkaian kesakitan selama ini.
Biar pun tidak memberikan resiko fatal, tapi tetap saja ini akan percuma, jika Askar salah membentuk suatu bagian yang ada.
Dan dalam sepuluh nafas, Askar berhasil memperbaiki urat nadi yang rusak dari tubuh Lelia. Beranjak lebih dalam penyambungan sirkuit energi pun berjalan lancar.
Hingga saat sentuhan terakhir yang akan memberikan hidup baru bagi gadis muda ini, Askar merasa terberkati atas tindakan untuknya menolong seseorang.
**********
Sekali lagi Karlina kembali dari tempatnya bekerja, walau tidak dirasakan sedikit pun lelah, tapi secara sembunyi-sembunyi Karlina harus menyelinap masuk melewati para penjaga.
Melangkah perlahan menuju rumahnya, Karlina merasakan satu sensasi yang sangat kuat, dia mencari dan menemukan, jika muncul serpihan cahaya dari tepat yang dia tuju.
"Apa yang terjadi." Ucapnya Karlina dengan khawatir.
Dia tahu jika cahaya itu datang dari tempat tinggalnya, hanya satu hal terpikir akan suatu hal ganjil dan mungkin membahayakan adik-adiknya di sana.
Bergegas memasuki rumah, tepat saat pintu kamar dibuka, satu sosok lelaki berdiri di samping ranjang dengan Lelia di hadapannya.
Dengan kemarahan tanpa tahu apa yang terjadi, Karlina mengeluarkan sebilah pedang dan siap melayangkan satu serangan kepada orang itu.
"Menjauh dari adikku." Tegas suara Karlina yang bergerak maju.
Dan tepat sebelum mata pedang menyentuh kulit Askar, sebuah lapisan pelindung menahan serangan itu hingga jatuh.
"Karlina diam disitu, jangan ganggu aku." Ucap suara yang cukup familiar untuk dia dengar.
__ADS_1
Nyatanya tepat di hadapan Karlina, sosok Askar berdiri tidak tergoyahkan dengan tangan mengeluarkan cahaya keemasan kepada Lelia.
"Askar apa yang kau lakukan, lepaskan adikku." Karlina masih belum menyadari tindakan Askar.
"Aku tidak melakukan hal buruk kepada Lelia, aku ingin menolongnya." Balas Askar dengan keras untuk menghentikan sikap Karlina.
"Menolong, jangan bercanda memang siapa kau." Sekali lagi serangan datang.
Satu serangan ini Karlina tidaklah main-main, mengalirkan energi penuh dan niat membunuh kepada Askar.
Nyatanya ketika pedang menyerang kembali lapisan pelindung, dan pecah berkeping-keping, Askar melompat mundur demi menyelamatkan diri.
"Aku tidak menyangka, orang yang aku anggap sebagai penolong karena memberikan koin kristal itu, tapi memiliki niat lain." Karlina tidak memberi kesempatan untuk Askar menjelaskan tindakannya.
"Aku memang bukan orang baik, tapi aku tidak pernah melukai seorang anak kecil, terlebih lagi dia sedang dalam kondisi kritis." Askar menjawab dengan nada tegas.
Sontak saja Karlina terkejut, dia tidak pernah menceritakan tentang kondisi adiknya kepada siapa pun, tapi Askar tahu saat pertama mereka bertemu.
"Memangnya apa yang kau lakukan." Karlina menurunkan senjata di tangan.
"Jika aku tidak datang, mungkin besok, adikmu itu tidak akan pernah terbangun lagi, kerusakan urat nadinya semakin parah dan fungsi sirkuit energi pun akan berhenti." Askar pun angkat bicara.
Karlina diam ditempat, tatapannya terpaku melihat Lelia, perlahan air mata mengalir melewati pipi merah merona itu.
Berjalan mendekat dan membelai rambut hitam lurus adiknya, dia pun bisa merasakan jika aliran energi yang selama ini berhenti, mulai menujukan pergerakan.
Biar pun itu masih sangat lemah karena baru dibentuk kembali dengan kemampuan keajaiban hidup, tapi ini adalah sebuah pertanda, bahwa kesakitan lelia telah berakhir.
"Kakak sudah pulang." Ucap Lelia yang sejenak terbangun karena merasakan kehadiran Karlina.
"Sudahlah kau istirahat, ini adalah hari yang paling berharga untukmu." Balas Karlina dengan suara getir.
Lelia mengangguk perlahan dan kembali dia memejamkan mata untuk beristirahat, energinya baru saja kembali dalam tubuh, tentu belum mengalir normal.
"Askar maafkan aku, harusnya aku tidak berpikiran buruk terhadapmu." Ucap Karlina yang merasa tidak nyaman melihat Askar.
__ADS_1
"Ya aku tidak terlalu memikirkan hal itu, aku pun akan berbuat yang sama jika melihat ada yang berniat buruk kepada adikku." Askar pun menjawab dengan pengertian.
"Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu ini Askar." Ucap Karlina.
"Bersikaplah seperti biasa, dan jangan lupakan tentang perjanjian kita."
"Aku mengerti." Tapi tetap saja Karlina merasa sulit melihat Askar.
Askar tidak menyukai sikap yang di tunjukan Karlina, dia pun berjalan mendekat kepada gadis yang masih menundukkan kepalanya.
Karlina memang tidak kalah dengan setiap wanita yang Askar miliki, kecantikan bermata berani, dan bentuk wajah oval menawan.
Bisa digambarkan jika Karlina memang mirip dengan Sina, bahkan dalam ukuran tubuh yang tinggi semampai, hanya berjarak tiga jari lebih pendek dari Askar.
Tentu lekuk tubuh indah dengan goresan otot tidak berlebih menjadi satu hal yang membuat karlina menggairahkan.
Tapi bagian depan lebih besar dari ukuran tangan Askar, dan belakang yang kenyal saat dia tepuk, itu sedikit membedakan antara dirinya dengan Sina.
Askar tidak beranggapan jika Sina kalah saing, bagaimana pun antara mereka berdua memiliki kelebihan sendiri, dan Askar menyukai semua itu tanpa berpikir siapa yang lebih baik.
Dengan perlahan tangan Askar mengusap pipi lembut dari Karlina, tidak ada penolakan ketika diangkat kepalanya dan mulai mendekat bibir mereka.
Karlina mengikuti setiap gerakan bibir dan lidah yang saling beradu, walau dia masih amatiran, tapi tidak berani melawan Askar, hanya mengikuti apa yang dia mau.
Tapi saat tangan Askar berniat meraih sesuatu yang ada dibalik baju itu, Karlina menghentikannya.
Tatapan mata layu, wajah merah merona dan nafas memburu ditunjukan sebagai pengalaman pertamanya melakukan hal ini dengan lawan jenis.
"Askar jangan disini, aku tidak ingin Lelia terbangun, sebaiknya kita ke kamarku." Ucapnya perlahan dengan wajah malu-malu.
Askar menarik tubuh Karlina kedalam pelukan, satu kecupan di lehernya, membuatnya sedikit geli.
"Aku tidak akan menolaknya." Jawab Askar yang mengikuti Karlina tanpa melepaskan genggaman tangan.
Saat memasuki kamar, dan perlahan menutup pintu tanpa suara, biar begitu, keduanya sudah saling melekat tanpa mau berpisah.
__ADS_1
(Note : Karena masih bulan puasa, kita skip untuk adegan yang ***-***, jangan merasa kecewa, segala sesuatu memiliki tempat masing-masing agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Jadi untuk pengertiannya aku ucapkan terima kasih.)