PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
makan dulu


__ADS_3

Untuk kesekian hari Azepa pun membuka mata, ruangan kuning keemasan bercorak mewah dan kasur empuk yang menjadi ranjang tempatnya rebahan, tentu dia ingat jika itu adalah kamarnya sendiri.


Terlebih lagi Azela pun dengan jelas mengingat, segala hal yang terjadi di dalam gua, ya semua kejadian dimana rencananya untuk membangkitkan Sphinx harus rusak oleh Askar.


Perasaan rumit, antara kesal, marah, benci, sakit hati, sakit kepala, sakit perut dan sakit lapar yang karena dirinya belum makan sama pingsan dan ini hari ke dua belas.


Sisa-sisa kesakitan yang dia terima dari ledakan besar saat kebangkitan Sphinx di dalam tubuh Omen, dan itu adalah kegagalan besar bagi Azela.


Sudah banyak hal dia korbankan, dosa yang dia tanggung sangat besar, tapi kini semua hanya menjadi angan-angan untuk membalas dendam kepada alam semesta kerajaan beladiri.


Langkah kaki yang berjalan lemas, perlahan namun pasti, saat dirinya melangkah ke pintu kamar untuk keluar ruangan.


Tapi saat Azela keluar, satu hal yang tidak pernah dia bayangkan ketika sosok Askar dan semua orang duduk santai di meja makan sembari menikmati hidangan layaknya rumah sendiri.


"Ratu Azela kau sudah bangun." Ucap Askar santai dengan mulut penuh makanan.


"Bagiamana kalian semua bisa sesantai ini di tempat orang yang berniat buruk kepada kalian." Teriak Azela yang langsung memegang kening karena merasa pusing.


"Sudahlah, sudahlah tidak perlu anda pikirkan, ayo kita makan dulu." Tapi Askar masih santai dan mengajaknya mendekat.


Tapi Azela seakan tidak menolak ajakan Askar, dia pun ikut mengambil kursi dan duduk di sampingnya, sedangkan semua makanan sudah tersedia.


Merasa aneh atas sikap semua orang, dan dia melihat Askar pun penuh kebingungan, karena semua yang terjadi tidak membuat dia marah.


"Askar apa yang sebenarnya terjadi." Bertanya Azela tanpa mampu memahami keadaan.


"Kita ada di meja makan, dan menikmati waktu luang untuk sarapan." Balas Askar atas apa yang di tanyakan oleh Azela.


"Bukan itu, tapi ... Hmmm bagiamana mungkin kau bisa santai duduk bersama dengan orang yang berniat mencelakakan wanitamu." Tapi Azela mempermasalahkan hal lain.


Askar segera menaruh sendok dan garpu di atas meja, tisu toilet yang tersedia di atas meja untuk membersihkan mulut sisa-sisa makanan.

__ADS_1


Entah kenapa ini mengingatkan Askar akan kampung halaman, dimana warung pinggiran jalan selalu menganggap mulut manusia itu seperti pan*tat karena disediakan tisu toilet.


"Terlebih dahulu aku ingin bertanya." Ucap Askar untuk mengawali pembicaraan tentang poin utama.


"Apa itu."


"apa hubunganmu dengan Dewa davendra." Itu yang Askar tanyakan.


"Dia adalah kakek buyutku." Jawab azela tanpa perlu beralasan.


"Jadi memang begitu."


"Memang begitu apanya Askar."


Sedikit Askar menghela nafas dan terhembus perlahan, seakan mengeluarkan segala masalah yang tersimpan dalam pikiran.


"Jadi sebelumnya, dewa Davendra datang dan dia meminta kepadaku untuk melepas anda ratu Azela." Ucap Askar yang mencari-cari alasan.


"Bagaimana kau berpikiran seperti itu, jika memang benar, harusnya dewa Davendra sudah membiarkan aku membunuhmu sebelumnya." Askar tidak terlalu paham dari cara Azela menjawab.


Askar memang merasakan adanya suatu masalah yang terjadi antara Azela dengan Davendra, tapi itu membuat Askar penasaran tentang alasan dibalik masalah mereka.


"Tapi bagaimana mungkin saat alam semesta kerjaan suci dihancurkan oleh alam semesta kerjaan bela diri, dia tidak melakukan apapun untuk melindungi kami." Dengan penuh emosi Azela pun mengatakan tentang alasan yang dia miliki.


Kini Askar menyadari akan kemarahan Azela kepada kakek buyutnya, karena kasusnya pun sama seperti kejadian Rudha Wikrama, dimana dia pun membiarkan anak dan cucunya sengsara.


Semua itu dia lakukan karena alasan sebagai pemegang status kepala keluarga klan Sriwijaya, jadi Askar tidak ada bedanya dengan Rudha yang dia salahkan atas perbuatannya.


"Jangan berpikiran buruk karena aku yakin dewa Davendra memiliki rencananya sendiri." Terdengar aneh saat Askar mengatakannya, karena sama artinya dia membela kondisi atas tindakan Rudha dulu.


"Rencana seperti apa yang dia maksudkan sedangkan kami para keturunannya harus menanggung penderitaan yang tidak sedikit." Azela masih menujukan kemarahan kepada Davendra.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membantahnya, jika kau memang marah kepada dewa davendra, tapi harusnya kau tahu, Jika seorang Dewa tidak boleh ikut campur untuk hal pertengkaran para manusia." Balas Askar yang jelas membela dirinya sendiri, karena dia pun saling berhubungan.


Askar mengungkapkan itu karena dia tahu dari ingatan Asyura, jika para dewa tidak bisa bertindak, hanya karena status dan ikatan keluarga.


Walau pada akhirnya Askar bisa mengerti jika Davendra hanya mengikuti alur takdir sebagaimana mestinya.


"Aku tahu itu Askar, karena itu juga aku mencoba melakukan segala cara, bahkan harus menanggung dosa, demi membalaskan dendam." Azela mengakui kesalahannya, tapi dia pun tidak lah salah.


Jika Askar dalam posisi Azela dia pun sama, akan melakukan segala cara demi membalas dendam, bahkan bila seluruh jagat raya menjadi musuhnya.


Davendra tentu tidak ingin melihat setiap keturunannya harus tewas, tapi ini yang harus dia lakukan, jika bukan karena Varjo de hores menyerang alam semesta kerajaan suci, apa mungkin Askar akan bertemu dengan Silviana.


Jika berbeda, maka Askar tidak akan memiliki kekuatan keajaiban hidup yang dia terima dari silviana, termasuk pertemuan antara Omen dan Sphinx.


Sebuah sebab dan akibat, dimana dia sengaja menerima takdir pahit untuk mengikuti rencana akan ramalan tentang bencana besar bagi jagat raya.


"Baiklah kita lupakan dulu soal davendra, karena ada yang ingin aku bicarakan dan ini tentang pembalasan kepada alam semesta kerajaan beladiri." Ucap Askar untuk hal lain.


"Aku akan mendengarkan." Mengangguk Azela atas ucapan Askar.


"Jadi begini... Aku akan menyelamatkan Silviana, tapi tidak untuk membalaskan dendam kepada Varjo, setidaknya bukan sekarang." Askar pun menjelaskan.


Askar memang memiliki Omen yang sudah mendapat kekuatan Sphinx, tapi itu belum sempurna, jika harus dia gunakan mengalahkan semua pasukan Varjo tidak mungkin berhasil.


Karena di alam semesta kerajaan beladiri banyak para ahli yang mungkin sangat kuat, andai saja Omen bisa membangkitkan secara sempurna, maka kekuatan Sphinx setara dengan dewa sejati.


Dan pembalasan dendam terhadap alam semesta kerajaan beladiri akan sangat mudah.


"Sampai saatnya aku siap membantu anda, tolong jangan lakukan hal untuk anda membalas dendam." Lanjut Askar mengatakan tujuannya.


"Baiklah, sekarang aku berharap kepadamu untuk menyelamatkan Silviana terlebih dahulu." Ashilla pun paham atas tujuan Askar.

__ADS_1


Walau tidak seperti rencana awal, tapi kemungkinan untuk mengalahkan Varjo dan alam semesta kerajaan beladiri masih ada, Azela pun hanya bisa menerima.


__ADS_2