PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
terpancing


__ADS_3

Askar bisa tahu, jika gadis ini memang memiliki bakat yang luar biasa, dikatakan oleh banyak orang Karlina hampir setara dengan Loe Teu Yiu, itu memang benar.


Tapi untuk sekarang Karlina masih belum mampu membangkitkan bakat yang terpendam itu, sedangkan pilar batu merasakan semua dari dalam diri Karlina.


"Untuk saat ini, kau tetaplah konsisten dalam latihanmu, karena pepatah mengatakan, usaha tidak akan mengkhianati hasil." Ucap Askar yang berusaha bijak.


"Siapa pepatah yang mengatakan itu dengan mudah ?, apa dia bisa melihat masa depan ?." Tapi Karlina tidak bisa terima atas perkataan Askar.


"Sudahlah, sudahlah, jangan salahkan pepatah, anggap saja itu sekedar pendapat orang lain." Askar mencoba menjelaskan.


Tapi tetap saja, permasalahan yang dialami oleh Karlina adalah kurangnya rasa percaya diri dan takut akan kegagalan dalam hidup.


Selagi Askar berbincang-bincang dengan Karlina, sebuah kehadiran menampakan diri untuk menyapa mereka berdua atas alasan tersendiri.


"Oh jadi kau adalah Askar, aku cukup paham sekarang, kau hanya lelaki pengecut yang berani bersembunyi dibelakang orang kuat, terlebih lagi dia seorang wanita." Suara wanita terdengar jelas mencemooh Askar.


"Apa kau mendengar suara kentut, tapi merdu sekali." Berkata Askar yang pura-pura saja tidak tahu.


"Askar sebaiknya kau jangan berulah lagi, karena dia adalah Resya de hores, kakak perempuan dari resra de hores " Bisik Karlina menyebutkan nama wanita itu.


"Tenang saja aku selalu tahu apa yang akan aku lakukan." Jawab Askar penuh percaya diri.


"Aku merasa wajah yang kau tunjukan berbeda dengan ucapanmu." Tapi Karlina tidak nyaman atas cara Askar melihat, karena di satu sisi ini membuat dia menujukan sebuah senyum lain.


Askar merasa tertarik saat nama yang memiliki kaitan dengan Varjo de hores disebutkan, walau mereka tidak ada kaitannya akan masalah antara Askar dan ayahnya.


Tapi sedikit hati Askar ingin sekali memberi pelajaran, paling tidak sedikit permainan yang bisa mengisi waktu hingga nanti dia mengalahkan Varjo de hores.


Dia bukan hanya sebagai seseorang yang memiliki hubungan dengan Varjo De hores sebagai putri, entah dari istri nomor berapa.


Lain itu juga, dia adalah salah satu nama yang tercantum dalam pilar batu tangga menara puncak semesta, sebagai wujud pengakuan atas bakat luar biasa miliknya.


Walau jelas namanya berada di bawah Karlina tapi atas masuknya Resya di daftar sepuluh besar, dia pun menjadi kebanggaan Varjo de hores, karena memiliki bakat jauh lebih tinggi dari pada yang lain.

__ADS_1


"Maaf nona jika Anda menganggap aku lelaki yang hanya bisa bersembunyi dibalik orang lain, itu salah, karena saat aku mencoba bersembunyi, malah mereka yang kabur." Asal saja Askar menjawab, dimana dia tidak


"Sungguh tidak berguna...." Ditunjukan senyum penuh ejekan kepada Askar, tapi di sisi lain dia mengarahkan pandangannya untuk Karlina.


"Senior Lina aku mohon anda jangan ikut campur, karena ini masalah antara aku dan lelaki bernama Askar." Berkata Resya dengan cara sopan namun sekedar formalitas kepada Karlina atas status lebih muda.


"Sebenarnya aku juga tidak ingin ikut campur, tapi ya mau bagaimana lagi." Karlina pun tidak menyangkal jika semua ini diluar dugaan.


"Paling tidak, untuk hal ini, aku hanya ingin memberi perhitungan kepada Askar atas perlakuannya terhadap Resra." Dan masalah kemarin menjadi alasan utama kedatangan sang kakak perempuan.


Antara mereka berdua terjalin satu ikatan persaudaraan sedarah, tentu masing-masing dari mereka saling berbagi masalah bersama.


Walau Askar sendiri tidak terlalu takut untuk bertarung melawan Resya, dimana dia hanya lord alam setengah saint tahap akhir, sedangkan Askar lord alam monarch tahap menengah.


Dengan kemampuan melampaui batas, dan hanya perlu membuka gerbang skill pemangsa gerbang ketiga, Askar sudah bisa mengimbangi Resya dengan mudah.


Walau begitu, untuk mengalahkan wanita satu ini paling tidak Askar harus membuka gerbang ke empat kebangkitan penguasa, hanya sedikit sebagai kekuatan lebih saat melawannya.


"Ah... Itu hanya sekedar permainan dan dia kalah, harusnya Resra menerima kekalahan bukan mengadu untuk membalas dendam." Askar mencoba membela diri.


"Jika itu memang permainan biar aku ikut bermain dan lihat seberapa besar ucapanmu, Askar." Tapi Resya tetap tidak ingin mendengar alasannya.


"Ini sulit, kalau anda kalah aku tidak tahu, kepada siapa lagi anda akan mengadu senior." Celoteh Askar seenak jidat, tanpa pernah sadar Resya merasa tersinggung oleh ucapan itu.


Karlina sudah ketar ketir untuk mengawasi Askar agar tidak salah bicara saat berhadapan Resya, pada akhirnya peringatan Karlina hanya seperti rasa geli di telinga.


"Kau memiliki mulut yang licin Askar, mudah sekali kau berbicara, jika memang kau bisa mengalahkan ku, aku tidak akan mengadu kepada siapa pun." Resya dengan mudah membalas perkataan Askar dan tetap berusaha tenang.


"Baiklah, hanya saja jika bertarung aku berada dibawah anda, ini tidaklah adil." Askar masih beralasan.


Pada kenyataannya, dia berhasil mengalahkan pengawal pribadi Resra yang notabenenya berada jauh di atas Askar.


Bagaimana pun juga Resya paham jika Askar hanya menggertak, dan dia sudah bisa menebak ada rahasia lain tersembunyi di dalam tubuhnya itu.

__ADS_1


"Jadi bagaimana jika kita beradu di menara puncak semesta, kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang tingkat kekuatan, karena disana hanya mengukur seberapa tinggi bakat yang kau miliki."


Askar mencoba berpikir, dia cukup yakin akan bakatnya, dimana dia adalah renkarnasi dewa Asyura yang memiliki segala hal diatas manusia biasa.


Tapi dengan potensi yang sudah tercantum dalam pilar batu, bahwa Resya adalah salah satu orang mencapai langkah ke sembilan ratus, sedangkan dirinya belum pernah mencoba.


Ini cukup beresiko, jika Askar kalah tentu Resya merencanakan sesuatu untuk membalas perbuatan dirinya kepada Resra.


"Mari kita bicara dulu." Ucap Askar untuk satu alasan.


"Apa yang kau inginkan." Tapi Resya merasa kesal karena Askar banyak bicara.


"Begini, apa hanya dengan aku menang kau tidak akan mengadu kepada siapa pun, sedangkan jika aku kalah, tentu kau ingin membalas perbuatanku kepada adik anda nona Resya."


"Ya itu memang tujuanku."


"Aku rugi jika begitu."


"Rugi ?, Harusnya kau bisa anggap ini adalah keberuntungan, karena kau tidak akan mendapat masalah apa pun lagi dari kami."


"Itu dia... Sedangkan jika aku kalah, kerugian ku terlalu besar, meminta maaf saja tidak mungkin anda mau menerimanya."


Resya sadar seberapa cerdas Askar dalam mencari kondisi untuk dirinya mendapat sebuah keuntungan, dan meminimalisir akbiat jika dirinya kalah.


"Jadi apa yang kau inginkan." Resya tidak sabaran.


"Mari kita tambah taruhannya, anda bisa mendapatkan ini jika anda menang." Askar mengeluarkan sebuah kantong berisi seribu koin kristal energi.


Mata Resya jelas terbuka lebar, karena dia sadar seberapa banyak seribu koin kristal itu untuk dia dapat, seratus kali lipat dari uang jajannya selama satu Minggu.


"Aku terima, jadi apa yang kau inginkan jika kau menang." Resya dengan berani dan percaya diri menerima tantangan Askar.


"Bagiamana kalau anda menjadi pelayan ku selama satu tahun." Askar merasa ini adalah sesuatu yang sangat menarik.

__ADS_1


Biarpun dia kehilangan seribu koin kristal energi, itu hanya sebagian kecil yang dia miliki dalam ruang penyimpanan khusus.


"Baik aku terima." Dan Resya pun terpancing oleh umpan yang Askar lemparkan.


__ADS_2