
Sudah sejak awal Askar menyadari jika putri Nanda bukan wanita biasa, selain karena insting pria yang Askar miliki mampu merasakan keanggunannya, dilihat pula sebuah cincin di tangan Nanda.
Itu termasuk senjata lord, dari ekspresi semua penjaga ketika melihat senjata lord seakan memang menjadi barang berharga dan tidak banyak orang bisa memilikinya.
Terlebih ketika dia menampakan diri, semua penjaga yang mencoba memeras Askar seketika diam ditempat dan menunduk hormat karena takut.
"Putri Nanda kami tidak tahu jika tuan ini adalah tamu anda." Gemetar sosok yang menjadi kepala penjaga dengan tangan memohon ampun.
"Ya benar, dan kalian mau memeras tamuku, sama saja dengan membuatku malu." Tapi ditunjukan sikap gadis muda ini dengan tatapan tajam.
Mendengar ucapan keras dari Nanda, semua yang merasa bersalah menjadi kebingungan, bukan karena sosok putri nanda, melainkan orang dibelakangnya sebagai wali kerajaan alam semesta bawah ini.
"Tapi tuan putri kami tetap harus meminta biaya memasuki wilayah kota Loyi ini, bagi para pendatang." Mereka tetap dalam tujuan utama.
"Kalau begitu ini." Nanda melemparkan sekantong uang kepada mereka.
Jumlah uang yang di berikan putri Nanda seakan tidak sedikit, karena terlihat senang semua orang saat membuka isi di dalamnya.
"Baiklah putri Nanda."
Dengan aba-aba sebuah lambaian tangan, pintu gerbang besar yang sangat kokoh bahkan dilapisi segel pelindung mulai terangkat keatas.
Memang jauh berbeda dari dunia mortal atau pun dunia Noir, karena bahan utama dinding gerbang adalah batu adamantium hitam, mineral terkuat di alam semesta.
Sebagai salah satu wilayah dalam daftar sepuluh kasta tertinggi, alam semesta kerajaan bawah tentu memiliki sumber daya yang tidak sedikit, dan tidak pula mereka kekurangan orang-orang kuat.
Walau tidak ada yang namanya mobil, motor, pesawat, gedung-gedung pencakar langit, handphone atau pun layanan WiFi gratis, hampir semua penduduknya menggunakan gaun-gaun indah dan perhiasan.
Setiap pendatang yang akan memasuki wilayah kota kerajaan Loyi, masing-masing diberikan kalung batu dengan simbol prasasti untuk menyimpan data diri, kecuali Omen.
Askar, Sina dan Rea tentu tidak ingin mengatakan dari mana asal mereka, bahkan jika terpaksa, maka pastinya tidak akan ada yang tahu.
Tapi berkat putri Nanda, semua berjalan mudah, secara asal saja dia mengatakan semua informasi tanpa ada pertanyaan lain yang membuat Askar serta lainnya dicurigai.
__ADS_1
Omen kembali berjalan dengan menarik kreta yang di gunakan Askar, tidak ada satu orang pun berani menertawakan kendaraan Askar, karena ada putri Nanda.
"Jadi tuan Askar, disinilah kalian semua akan tinggal untuk sementara." Ucap putri Nanda yang membawa Askar ke sebuah penginapan.
"Terimakasih nona, ini lebih dari cukup karena memberikan bantuan sampai-sampai menyewakan kami kamar untuk beristirahat." Askar menjawab dengan lihai dalam berbasa-basi.
"Tidak tuan Askar, anda sudah menyelamatkan kami, semua bantuan yang kami berikan, masih belum sepadan dengan nyawa ini." Balas Putri Nanda yang wajah memerah tersipu, saat Askar menatapnya dengan senyuman lembut.
"Baiklah, kami menerima dengan senang hati." Gugup Nanda hingga menunduk.
Sina dan Rea melihat dengan tatapan mata sedikit mengejek, karena dari intuisi wanita yang mereka miliki, seakan tahu ini makna dari sikap Nanda.
"Dia jatuh cinta dengan Askar..." Ucap Sina dengan senyuman aneh.
"Aku tidak bisa membantahnya, tapi itu cukup memalukan karena dia sama seperti kita dulu, Sina." Jawab Rea yang sama-sama terbayang kisah dulu ketika memikirkan sosok Askar.
Entah itu Sina atau pun Rea, jelas sekali memahami perasaan dari putri Nanda yang terkadang melirik ke arah Askar dengan wajah terkadang melamun.
"Baiklah tuan Askar jika kau memerlukan bantuan lain, aku tinggal di rumah megah yang bisa anda lihat itu." Ucap Nanda sembari menujuk ke luar jendela.
Berjalan putri Nanda pergi dengan wajah enggan untuk meninggalkan waktu mengobrol bersama Askar, tapi dia tidak mungkin seketika itu mengakrabkan diri secara berlebihan.
Terlebih lagi, dua sosok wanita yang menjadi istri Askar sangatlah cantik, putri Nanda merasa tidak nyaman ketika bersanding bersama mereka.
"Jadi apa yang akan kita lakukan Askar." Sina pun angkat bicara mengenai tindakan selanjutnya dari rencana mereka di kota Loyi.
"Kalian tunggu saja di sini, aku akan pergi ke kota untuk mencari informasi." Berkata Askar kepada Sina dan Rea.
"Kau tidak bisa pergi sendiri Askar, biar aku juga ikut denganmu." Tapi cepat Sina membalas.
"Memangnya kenapa ?."
"Kakak Elica meminta kepada kita untuk mengawasimu, karena jika tidak, mungkin kau akan membuat masalah." Itu menjadi alasan Sina.
__ADS_1
Askar memahami hal itu, memang tidak salah jika Elica merasa khawatir, tapi seharusnya Sina dan Rea melihat bagaimana Askar menahan senyum walau emisi sampai di ubun-ubun.
"Padahal aku sudah berjanji untuk tetap menjaga diri." Gumam Askar dengan kepala pusing.
"Paling tidak kita menghindari hal terburuknya." Sina hanya mengikuti keinginan Elica.
"Baiklah, baiklah, tapi jangan beramai-ramai, kita akan menarik perhatian jika wanita secantik kalian berdua dilihat orang." Ucap Askar dengan tersenyum penuh pujian.
Walau Sina dan Rea tidak tersipu malu, tapi tetap saja dalam hati mereka benar-benar senang mendengar pujian dari Askar itu.
Tapi memang benar, jika Sina dan Rea memiliki kecantikan yang sangat indah, bagi beberapa orang tentu rela berkelahi demi mereka berdua.
"Pandai sekali kau merayu Askar, pantas saja Nanda tadi menaruh perasaan kepadamu." Sedikit Rea menyindir.
"Padahal aku tidak berbicara berlebihan dengan Nanda, bahkan merayunya." Balas Askar sedikit kesal karena mereka berpikiran buruk kepadanya.
Sina pun berdiri dan melihat cermin seakan bersiap-siap untuk pergi.
"Sudah lupakan saja, biar aku yang mengawasimu, Rea kau beristirahatlah sejenak." Berkata Sina.
"Eits... Tidak bisa, aku juga ingin berkeliling dengan Askar, kau saja yang beristirahat." Rea pun menolak keinginan Sina dimana jelas-jelas dia rasakan niat lain untuk menikmati waktu berduaan dengan Askar.
"Ada apa denganmu, kita disini bukan untuk bersenang-senang, jadi..." Sina dengan serius membalas ucapan Rea.
Biar pun mereka berdua terlihat begitu tenang satu sama lain, tapi masing-masing tidak ingin kalah untuk mencintai Askar.
Persaingan untuk mendapat perhatiannya, bisa dirasakan oleh Askar sendiri, walau pun begitu dia tidak pernah bisa membandingkan mereka.
"Sudahlah-sudahlah, kalian berdua meributkan tentang hal yang tidak penting." Askar mencoba menenangkan mereka.
"Apanya yang tidak penting, ini sangat penting, kau tahu." Sina berteriak keras kepada Askar.
"Jika kau tidak mengerti lebih baik diam saja." Begitu pula dengan Rea.
__ADS_1
Sedangkan askar hanya diam, dan mundur satu langkah...."Kalau aku yang salah, kalian berdua bisa kompak gitu.