PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
menyapa lelaki itu


__ADS_3

Tentu bukan hal mudah untuk melawan seseorang yang sudah berpengalaman selama puluhan ribu tahun dalam ilmu beladiri pedang.


Di mana antara Gorongo, vajro de hores dan Loe Teu Yiu berasal dari tempat yang sama ketika belajar di padepokan beladiri pedang semesta, hingga mereka bertiga cukup dikenal oleh banyak orang, sebagai julukan 'Tiga iblis pedang'.


Walau entah apa alasannya Loe Teu Yiu lebih memilih pergi dari alam semesta kerajaan beladiri dan hidup sebagai pengembara ke jagat raya.


Kemampuan yang mereka bertiga miliki dalam beladiri senjata pedang, jauh diatas rata-rata semua murid di alam semesta kerajaan beladiri, bahkan para penguasa alam semesta lain mengakui bahwa ketiganya.


Jika tidak ditambah faktor lain, Gorongo memang ahli dalam senjata pedang berat, namun tidak dengan tingkat kekuatan, andaikan dia melawan penguasa naga Long Wang tentu akan kalah telak.


Tapi jika penguasa naga menyetarakan kekuatannya dengan dalam bertarung melawan Gorongo, Gorongo masihlah kalah, dimana tubuh naga yang dimiliki long Wang tentu bukan hanya pajangan.


Karena senjata lord biasa akan patah bahkan saat berhadapan dengan kulitnya yang lebih keras dari pada besi.


Dan lain ceritanya, kalau long Wang hanya orang biasa, dan hanya bertarung menggunakan pedang, tentu Gorongo berada di tingkat yang jauh diatas penguasa naga.


Benturan teknik serangan milik Gorongo, dan teknik pertahanan Askar menghasilkan gelombang besar yang menghentak keras hingga seluruh wilayah disekitar padepokan beladiri pedang semesta berguncang hebat.


Tapi kini Askar masihlah berdiri sesaat setelah menerima serangan teknik pedang enam raja besar, dimana tanpa mengeluarkan pertahanan raja Singa merah, mustahil Askar bertahan.


"Aku tidak pernah tahu jika Loe Teu Yiu memiliki kekuatan pertahanan seperti itu." Ucap Gorongo dengan menatap serius kepada Askar.


"Tentu saja, karena ini bukanlah teknik yang di ajarkan oleh Loe Teu Yiu." Jawab Askar tanpa ragu.


"Oh, siapa yang mengajarkanmu." Jelas terlihat jika kakek tua satu ini merasa penasaran atas kemampuan Askar.


"Aku tidak bisa mengatakannya tuan Gorongo." Ya karena Askar tidak tahu harus menyebutkan siapa.


Dia hanya sesosok bayangan Sina merah besar yang ada sejak awal dewa Asyura memiliki skill pemangsa, tentu itu menjadi penjelasan yang sangat rumit.


"Baiklah, itu tidak jadi masalah." Balas Gorongo yang merasa paham.


"Itu terdengar menyenangkan."

__ADS_1


Askar merasa lega karena Gorongo bukan orang yang keras kepala dan ingin tahu setiap hal tentang dirinya.


"Mulai saat ini kau dan Su yiu adalah muirdku."


"Tapi maaf tuan Gorongo, aku sudah menjadi murid Loe Teu Yiu." Askar merasa tidak nyaman.


"Apa salahnya, setiap padepokan beladiri memiliki banyak murid, apa muird juga tidak boleh memiliki banyak guru." Gorongo dengan jelas memberikan sebuah tanggapan yang logis.


"Itu ada benarnya juga."


"Dan juga, jika kau berada disini tanpa guru, kau hanya akan berakhir di pelataran luar sebagai murid serabutan." Perjelas Gorongo atas maksud lain.


Sistem yang berlaku di seluruh alam semesta tentang murid dari padepokan memang sama, dimana itu terbagi menjadi dua, murid khusus dengan guru pembimbing langsung, atau murid yang hanya berlatih kepada guru pengajar biasa.


Mereka-mereka yang ingin diakui oleh padepokan sebagai murid langsung, harus menujukan diri dengan semua bakat atau pun kemampuan lebih demi menarik minat para tuan di padepokan ini.


"Pakai ini." Gorongo mengeluarkan sebuah jubah yang menjadi bukti diterimanya seseorang sebagai murid.


Askar merasa tidak asing dengan pakaian yang Gorongo berikan, karena dia sedikit menyadari bahwa dia pernah melihatnya di suatu tempat.


Berjalan Askar dan Su yiu memasuki bangunan utama padepokan beladiri pedang semesta, dimana semua orang memperhatikan jelas kehadiran mereka berdua dengan tatapan tajam.


Itu tidaklah aneh, masing-masing dari mereka berusaha keras untuk mendapat perhatian dari seorang guru besar, tapi Askar dengan mudah memasuki padepokan secara khusus.


Terlebih saat ini tuan Gorongo menjadikan dirinya sebagai murid langsung, semua itu membuat mereka iri atas perlakuan yang Askar dapat.


Tapi seketika itu juga, Askar pun merasakan aura kehadiran yang cukup familiar, dia menolak percaya, hanya saja sosok dalam pikirannya pun jelas sudah datang.


"Sepertinya memang aku harus membalas perbuatanmu sebelumnya." Sebuah suara yang membuat Askar merasa tidak nyaman.


Dan saat Askar menoleh, seorang wanita sudah berdiri sombong dengan tatapan sengit kepadanya, tidak pernah disangka jika secepat ini dia akan bertemu.


Resra de hores, anak penguasa alam semesta kerajaan beladiri, yang beberapa waktu lalu dia singgung karena tindakannya kepada Karlina.

__ADS_1


"Nona Resra apa kau memiliki keperluan disini." Berkata Gorongo saat dia melihat Resra berjalan mendekat.


"Tidak tuan Gorongo, aku hanya menyapa lelaki itu saja " balas Resra dengan menahan diri untuk bersikap sopan.


Askar melirik kebelakang dan sekitar, tentu ini diluar dugaan, saat kehadiran Resra menujuk tepat ke arahnya


"Aku ?." Askar menujuk dirinya sendiri.


"Kau, ya kau Askar." Dan tegas jawaban Resra mengarah kepada Askar.


Gorongo memang memiliki masalah sendiri terhadap varjo de hores, tapi tidak untuk anak-anaknya, karena bagaimana pun mereka termasuk murid yang bernaung di bawah tanggung jawabnya, sebagai guru besar padepokan beladiri pedang semesta.


"Nona apa anda memiliki masalah denganku." Askar menutupi diri dengan berpura-pura tidak tahu.


"Jangan berlagak bodoh, kau yang sudah membuat masalah denganku, jangan asal membela diri." Tapi bagi Resra apa yang sudah askar lakukan benar-benar tidak bisa dia lupakan.


"Sepertinya anda salah orang nona." berkata Askar dengan wajah datar.


"Jika memang begitu, siapa yang kemarin melemparkan paha ayam ke mulutku." Resra dengan jelas mengingat kejadian di rumah makan.


"Tidak, tidak, tidak, aku tidak melakukannya." Askar berusaha membela diri.


"Askar apa kau sudah lupa saat kita makan di sana." Hanya saja Su yiu cukup polos untuk menjawab perkataan Resra.


"Lihat majikanmu saja ingat."


"Dia tuananganku dan aku bukan pembantunya." Askar tidak terima anggapan seseorang yang mungkin menganggap dirinya tidak pantas menjadi pasangan Su yiu.


Gorongo merasa Askar sudah mencari masalah dengan orang yang tidak tepat, karena belum saatnya dia bertindak.


"Sudahlah nona Resra, jika anda memang ingin membalas perbuatan Askar, lakukan dengan cara biasa, tapi tidak sekarang." Gorongo mencoba menenangkan mereka agar tidak bertarung di dalam ruang utama.


"Baiklah aku mengerti guru besar." Resra mencoba menahan diri tapi tetap saja dia tidak akan melepaskan Askar.

__ADS_1


Resra berjalan pergi dengan tatapan tidak lepas mengarah tajam kepada Askar, karena dia memiliki satu kesempatan untuk membalas perbuatannya saat itu.


__ADS_2