
Bagi siapapun yang melihat pertarungan antara Gorongo dan Varjo de hores memang bukan pertama kalinya, karena tiap kali mereka bertemu selalu saja terjadi masalah.
Dari mulai sepele seperti mempermasalahkan tentang kentut, hingga yang besar ketika kerajaan beladiri melakukan serangan terhadap kerajaan suci.
Antara yang pro dan kontra, Gorongo termasuk dalam fraksi kontra dimana selalu berada di barisan paling depan untuk membuat Varjo marah.
Sebab semua persaingan keduanya berawal dari perguruan beladiri pedang semesta. Hanya saja, berbagai macam cara Gorongo melawan, Varjo de hores tetap menjadi pemenang, dan mengalahkan telak untuk pertarungan selama ribuan tahun.
Tapi kali ini Varjo de hores tidak ingin ada orang lain yang menggangu tujuannya, bahkan jika dia adalah saudara seperguruan.
Varjo de hores pun melompat turun, dimana dia secara langsung menghampiri Gorongo tanpa rasa takut mengacaukan acara pertemuan ini.
"Jadi apa kau ingin bertarung dan memperbaharui daftar kekalahan yang ke 134 kalinya." Varjo menujukan kesombongan.
"Aku memang selalu kalah, tapi menyerah tentu tidak, biarpun akan terus bertambah, itu bukan masalah." Hanya saja Gorongo secara tegas menujukan perlawanan.
"Harusnya kau paham kata menyerah, jika tahu pertarungan ini adalah percuma." Tersirat sebuah senyum penuh ejekan oleh Varjo.
"Tidak ada yang percuma Varjo, kau akan tetap menjadi lawanku."
Saat Gorongo dan Varjo mengambil posisi untuk bertarung, kuda-kuda kuat dengan satu tangan menarik pedang.
Dan semua orang tidak mempermasalahkan jika keduanya sama-sama keras kepala tanpa mau mengalah.
"Berhenti di situ, jangan ada yang bergerak." Satu suara datang mengetikan langkah mereka berdua.
Satu kakek tua renta yang berjalan dengan tongkat menjadi perhatian bagi semua orang.
"Apa masalahmu kakek tua." Kesal Varjo bertanya.
"Gigi ku jatuh, aku sedang mencarinya." Balasnya dengan kebingungan melihat ke bawah.
"Lupakan saja gigimu itu dan segera pergi dari sini." Tegas Varjo berkata.
Varjo tidak lagi perduli akan masalah gigi dari orang tua itu, saat satu ayunan penuh bergerak dalam waktu yang sama, dan berniat saling melawan.
__ADS_1
Aliran energi dari keduanya, tidak main-main, sebagai sosok lord alam awal keabadian tahap akhir, menjadikan Varjo de hores terkuat diantara petarung lain.
Walau sebenarnya Gorongo pun tidaklah lemah, hanya berbeda satu tahap, karena dia sama-sama lord alam awal keabadian tahap menengah.
Begitu pula soal kekuatan Gorongo pengguna pedang besar, tidak sembarang orang bisa melawan lelaki tua satu ini.
Tapi tepat sebelum dua pedang saling bertemu, antara Varjo atau pun Gorongo keduanya terdorong mundur oleh kekuatan besar dan melemparkannya masing-masing pedang jatuh.
Sosok lain pun sudah berdiri ditengah-tengah mereka, terkejut bukan main, karena dia yang mengganggu pertarungan Varjo dan Gorongo adalah sang penguasa pedang, Loe Teu Yiu.
"Apa maksudmu Loe Teu Yiu." Ucap Varjo de hores dengan sengitnya menunjuk ke depan.
Atas kehadiran sang penguasa pedang yang secara tiba-tiba muncul, memberi sebuah kejutan tersendiri bagi semua orang, karena mereka tahu bahwa Loe Teu Yiu sudah lama putus hubungan dengan kerajaan beladiri.
Sebagian besar dari mereka tentu bertanya-tanya, akan alasan kehadiran Loe Teu Yiu yang menganggu perkelahian dua orang penuh dendam.
"Untuk saat ini, jangan berkelahi dulu, kau tentu tidak ingin orang lain menganggap penguasaan mereka tidak kompeten dalam sebuah acara bukan ?." Balas Loe Teu Yiu yang sudah berdiri menghadap Varjo.
Seakan itu bukan alasan yang tepat untuk menjelaskan tentang kehadiran Loe Teu Yiu...
"Bukankah ini sudah biasa terjadi ?."
"Bahkan akan menjadi aneh jika Gorongo, menerima perkataan varjo tanpa berkomentar."
Bagi orang lain, hubungan antara Varjo dan Gorongo memang sejak awal tidak pernah akur, bahkan perkelahian mereka seperti sebuah hiburan.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu datang ke tempat ini, tapi kau tidak berhak ikut campur dalam urusan kerajaan beladiri Loe Teu Yiu." Varjo membalas perkataan Loe Teu Yiu dengan nada keras.
"Bukan aku ikut campur Varjo, tapi saat aku mencoba datang dengan baik-baik sebagai seorang tamu, apa kau tidak bisa menujukan sebuah sopan santun sebagai tuan rumah." Jawabnya kembali atas alasan lain.
"Maaf saja, saat ini aku tidak menerima siapa pun untuk berkunjung." Varjo pun secara terang-terangan menyindir Loe Teu Yiu karena siapa pun tahu jika dirinya tidak lagi memiliki hubungan kepada kerajaan beladiri.
Sang penguasa pedang tidak mengharap lebih, dia pun merasa berat hati untuk hadir ke tempat ini, jika bukan karena tujuan awal menemui Gorongo dengan terburu-buru, Loe Teu Yiu lebih memilih menunggu di perguruan beladiri pedang semesta.
"Jika memang begitu maka maaf saja, aku akan pergi." Balas Loe Teu Yiu tanpa alasan lain.
__ADS_1
Tidak perlu lagi Loe Teu Yiu berbasa basi, dia segera menarik tangan Gorongo dan membawa ikut bersama untuk keluar ruangan.
Gorongo tidak menolak, dia pun sadar jika ada hal lain yang membuat Loe Teu Yiu membuang harga diri untuk memasuki wilayah kerajaan beladiri, sedangkan dia sudah lama memutus hubungan dengan mereka.
"Jadi apa yang membuat anda datang kemari tuan Loe Teu Yiu." Tanya Gorongo dengan sopan.
Berbeda dengan Varjo, Gorongo masih menganggap sang penguasa pedang sebagai bagian dari keluarga perguruan.
Ditambah lagi hubungan persahabatan sudah mereka jalin selama puluhan ribu tahun dan memiliki masalah dengan orang yang sama.
"Apa kau masih berniat menghancurkan Varjo itu ?." Balas Loe Teu Yiu dengan pertanyaan.
"Sejak awal tujuanku tidak berubah, perbuatannya kepada perguruan pedang semesta, tidak bisa dimaafkan." Jawab Gorongo tanpa ragu.
"Kalau begitu bagus, aku memiliki satu solusi, dimana kau bisa membalas semua perbuatan yang dia lakukan tanpa perlu turun tangan." Berkata Loe Teu Yiu menujukan senyum penuh makna.
"Memang apa yang anda rencanakan ."
"Aku ingin kau mengikuti keinginan Varjo, ajukan perguruan pedang semesta dalam turnamen ini." Loe Teu Yiu menjelaskan langkah yang harus Gorongo lakukan.
"Bagaimana mungkin, jelas-jelas dia ingin memanfaatkan murid-murid perguruan demi kepentingan pribadi."
"Jangan berpikiran aneh, aku memiliki seorang murid yang memang bertujuan untuk melawan Varjo, dia yang akan menjadi peserta turnamen."
Gorongo memahami tujuan Loe Teu Yiu, walau pun ada sedikit keraguan yang secara tidak langsung tertuju kepada murid dari sang penguasa pedang.
"Apa anda yakin jika dia mampu, para petarung di alam semesta kerajaan beladiri tidaklah mudah untuk dikalahkan." Ucap Gorongo sedikit khawatir.
"Memang kau pikir aku bertindak tanpa memikirkan kepastiannya."
Gorongo tidak menjawab, dia memang paham betul akan sosok Loe Teu Yiu, bahkan soal kekuatan yang menjadikan dirinya spesial di jagat raya.
Kini Gorongo pun paham atas tujuan Loe Teu Yiu, dimana muridnya itu akan menjadi orang terpilih sebagai pasukan kerajaan beladiri, dan menghancurkan Varjo dari dalam.
"Kenapa anda bisa sangat percaya, jika orang itu akan mampu mengatasi petarung dari perguruan lain."
__ADS_1
"Sebab aku sudah merasakan sendiri, dia memiliki potensi, bahkan dalam pertarungan melawanku, dia bisa bertahan." Loe Teu Yiu menujukan kebanggaan atas kemampuan Askar.
Wajah Gorongo menujukan rasa tidak percaya, karena dia pun sadar seberapa kuat sang penguasa pedang, tapi Loe Teu Yiu mengakui seberapa besar kemampuan muridnya itu.