
Kekuatan keajaiban hidup menjadi salah satu kekuatan yang di cari oleh seluruh manusia di jagat raya.
Para wali kerajaan jelas terlihat kagum, karena siapa sangka sosok yang sebelumnya tidak sekali pun membuat mereka tertarik, kini menjadi kehadiran serius.
Hanya saja, satu diantara sepuluh dari mereka, menujukan raut wajah kurang meyakinkan, dia menolak percaya dengan pernyataan kakek tua itu.
"Dari mana kau tahu kakek busuk ?, jika kekuatan bocah ini adalah keajaiban hidup dari dewa Sunawa." Ucapnya untuk memastikan.
"Kau meragukan aku Samo ?, Aku jauh lebih berpengalaman darimu, dan aku sudah pernah melihatnya sendiri seperti apa wujud dari kekuatan milik dewa Sunawa, bahkan dewa Sunawa itu sendiri." Jawab Esa dengan wajah sombong dan memang dia sudah banyak makan asam garam kehidupan.
Tapi pernyataan dari kakek Esa menjadi satu kejutan bagi Askar, dia menang pernah melihat langsung seperti apa rupa dari dewa Sunawa, walau itu hanya sebatas gambar ingatan saja.
Kakek itu adalah Esa, seorang wali yang berusia hampir sepuluh ribu tahun, dan memiliki kekuatan seorang lord alam saint suci tahap menengah, dan dia sosok terkuat diantara sepuluh wali lain.
Bisa terbayang seberapa banyak waktu yang dia korbankan untuk mendapatkan pencapaiannya saat ini, dan jelas semua itu tidak didapatkan dengan mudah.
Apa lagi janggut putih panjang itu menujukan dia benar-benar mempertaruhkan segalanya demi kekuatan hingga lupa untuk merawat diri.
"Kakek Esa, jika anda pernah melihat dewa Sunawa, apa itu artinya dewa Sunawa masih hidup." Bertanya Askar karena dia ingin mengetahui tentang salah satu dewa awal penciptaan.
"Sayang sekali Askar, karena dia sudah meninggal dua puluh tahun yang lalu." Jawabnya dengan wajah lemas menunduk layu.
"Berarti itu baru kemarin, tapi bagaimana bisa dewa Sunawa meninggal."
"Dia memberikan seluruh inti darah keajaiban hidup demi seseorang."
"Apakah itu...."
"Ya, dia adalah Silviana, walau pada akhirnya itu menjadi pilihan terburuk." Jawaban kakek Esa menjadi pertanyaan lain.
Apa yang membuat itu menjadi buruk, bukankah dewa Sunawa melakukannya demi menyelamatkan seseorang, dan itu juga adalah keturunannya sendiri.
"Kenapa memang ?."
__ADS_1
"Karena kematian dewa Sunawa itu, wilayah alam semesta kerajaan suci kini berada didalam kekuasaan alam semesta kerajaan beladiri."
"Aku mengerti sekarang."
Bagaimana pun juga alam semesta kerajaan beladiri masih menaruh rasa takut kepada dewa Sunawa, tapi setelah kematiannya, mereka dengan niat lain ingin mengambil alih kekuatan keajaiban hidup.
Dan kenyataan pahit harus alam semesta kerajaan suci terima, jika saat ini satu-satunya pilihan adalah menyerah terhadap kekuasaan alam semesta kerajaan beladiri.
Lepas dari itu....
Kehadiran Askar memang dinantikan oleh sepuluh wali, karena dia adalah satu-satunya kandidat yang ingin Sam angkat sebagai pengganti posisi lord alam semesta kerajaan bawah.
Apa yang terjadi sebelumnya, memang sebuah rencana untuk menguji, tentang seberapa pantas sosok Askar dimata para wali kerajaan.
Bukan sembarangan, karena aura tekanan itu berasal dari kekuatan seorang lord alam setengah saint, dimana untuk lord yang nyata seperti sina, Omen dan Rea, sampai jatuh tanpa bisa melawan.
Secara fisik Askar bisa saja bertahan untuk beberapa menit, tapi lebih dari itu, dia pun akan jatuh, dan Sina serta lainnya mustahil bertahan.
"Aku cukup kagum Sam, karena kau menemukan sebuah bakat yang sangat luar biasa ini." Berkata kakek tua Esa kepada Sam.
"Oh, sebuah kebetulan yang cukup hebat, karena kita tidak perlu takut jika bocah ini menolak mengambil posisi sebagai lord." Samo ikut menjawab, dan secara langsung memberikan minat untuk Askar menggantikan Sam.
"Harusnya begitu." Balas Sam.
Askar segera mengangkat tangan, sedikit dia tidak menyukai pembicaraan yang mengatasnamakan dirinya sebagai anak dari Sam.
"Maaf, aku bukan anak dari Sam." Jawab Askar.
"Kenapa bisa begitu, padahal Sam mengakuimu sebagai anaknya."
"Ada beberapa hal untuk tuan-tuan semua mengerti, yang pertama aku hanya anak angkat, dan yang kedua, Sam bukan ayahku, ayahku adalah Samoel." Perjelas Askar atas pernyataan lelaki yang mengaku-ngaku sebagai ayahnya.
Satu demi satu melirik ke kanan dan ke kiri, mereka tersenyum kemudian tertawa lepas. Askar merasa aneh karena seharusnya mereka mengerti kemana arah perkataan ini.
__ADS_1
"Apa itu masalah ?." Ucap tuan Esa kepada Samo.
"Sepertinya tidak." Begitu jawabnya, dan semua orang tertawa keras.
Karena situasi yang cukup berbanding terbalik dari anggapan Askar, bahkan semua seakan tidak mempermasalahkan asal-usul dari Askar.
"Tunggu sebentar tuan-tuan semua, jelas aku bukan keturunan langsung dari Sam, apa aku pantas mendapatkan posisi sebagai lord kerajaan." Berkata Askar untuk meluruskan tanggapan para wali.
"Untuk apa kami memandang kamu sebagai anak dari Sam atau tidak, bagi kami kau adalah bakat yang menjanjikan di masa depan, biar pun kau sebenarnya anak dari tukang sapu jalan, kami rela menutup mata." Balas Esa atas tujuan yang ingin mereka dapat.
Askar bingung dengan cara pikir para wali kerajaan, bagaimana pun mereka menyingkirkan sistem yang dijalani oleh alam semesta kerajaan bawah, semua itu demi mendapatkan dirinya.
Ya ini memang sangat aneh, tapi selama tidak terjadi perdebatan dan semua orang setuju, maka tidak masalah, bahkan Askar merasa bersyukur.
"Baiklah, tapi aku tidak ingin terikat di alam semesta kerajaan bawah ini, karena aku harus pergi ke tempat lain." Ucap Askar sebagai pertimbangannya.
"Kami sudah mendengar itu, kau bebas pergi kemana pun, tapi ingat Askar dalam sepuluh tahun lagi, ujian kasta tertinggi jagat raya harus kau ikuti." Samo menjawab dan dia pun tahu akan semua tujuan Askar.
"Dan satu lagi, aku ingin meminjam bahtera angkasa untuk bepergian ke alam semesta lain."
"Silakan, kami pun sudah mempersiapkannya." Semua seakan mudah, bahkan sangat mudah.
Dengan adanya nama alam semesta kerajaan bawah ini Askar akan merasa aman dan nyaman ketika bepergian ke berbagai alam semesta demi tujuannya.
Semua berjalan lancar, tidak ada hambatan, dan tidak ada masalah.
Hingga Askar menyempatkan diri untuk berjalan keluar mencari udara segar dengan Sina dan Rea, tidak lupa pula mereka membawa omen.
Jelas Rea, Sina dan Omen, tidak terbiasa dengan tekanan mental dari situasi dihadapan orang-orang berkekuatan lord alam setengah saint di sana.
Jika lebih lama tentu pingsan ketiganya di tempat, tapi satu perasaan akrab terlintas jelas setelah keluar ruangan.
Sejak awal Askar tidak menyadarinya karena tertutupi oleh aura para wali kerajaan, tapi seketika dia sadar akan kehadiran orang yang terbilang sangat akrab.
__ADS_1
"Sina, Rea kalian tetaplah disini, aku ada urusan mendadak." Ucap Askar yang segera melangkah pergi.