PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
klepek-klepek


__ADS_3

Askar melepaskan zona persepsi dalam skala besar, jangkauan yang mampu melihat hingga puluhan ribu kilometer dan mampu menjangkau seluruh wilayah dari kota kerajaan beladiri.


Tapi di sini, di dalam stadion tempat turnamen berlangsung, Askar sengaja melepaskan zona persepsi untuk menyaksikan siapa-siapa yang bisa Askar temukan sebagai orang terkuat.


Satu persatu tanda muncul dengan cahaya keemasan yang menyala terang di dalam tubuh mereka, itu adalah gambaran dari hasil jumlah perhitungan akumulasi antara ribuan orang di tempat ini.


"Ada dua puluh, tidak, ada satu orang yang mampu menyembunyikan diri dari pantauan zona persepsi." Ucap Askar dengan konsentrasi serius.


Dan hanya dua puluh orang itu yang mungkin mampu bersaing dengan Askar, paling tidak saat Askar tidak menggunakan kekuatan dewa pemangsa.


Akan lain ceritanya, saat perbandingan itu didasari dengan kekuatan Askar dalam pembukaan gerbang ke enam, paling tidak hanya para penguasa alam semesta saja yang jelas-jelas memiliki kemampuan setara.


Kini Askar memperhatikan Varjo de hores yang duduk santai dengan dua orang pelayan berpakaian minim dan itu jelas membuat Askar iri.


Tapi untuk hal lain pula, Askar sedang mengukur seberapa besar kekuatan yang milik Varjo, jika harus bertarung melawan dirinya.


Sebagai lord alam saint suci tahap akhir dan setengah langkah lagi menuju lord alam awal keabadian, Askar merasa yakin bahwa dengan menggunakan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya, Varjo bukan masalah besar lagi.


Hanya saja..... Satu orang lain datang, sosok yang memiliki cahaya paling terang diantara semua orang di tempat ini, lelaki muda ya, terlalu muda untuk ukuran manusia dengan kekuatan setingkat lord keabadian tertinggi.


Dia memiliki aura sama kuatnya dengan kakek loe teu yiu, tapi jauh lebih kuat lagi dari tuan penguasa pedang, sangat kental dan begitu murni.


Satu-satunya mahluk yang Askar tahu dengan kekuatan setingkat lord alam keabadian tertinggi, dia adalah Suzou, penguasa alam semesta keabadian.


"Apa aku salah, atau dia semakin muda saja." Askar jelas membandingkan wajah Suzong (maaf namanya yang chapter kemarin-kemarin salah) dengan sosok yang sekarang.


Entah apa yang terjadi, tapi memang sepertinya Suzong menggunakan kekuatan energi itu demi mempermuda wajah tuanya itu.


Berganti sudut pandang....

__ADS_1


Suzong melangkah penuh wibawa menuju tempat khusus yang di sediakan oleh Varjo de hores, sebagai tamu kehormatan dari alam semesta keabadian.


Dua pengawal yang menggunakan baju perang lengkap dengan segala atribut dan senjata di tangan mereka, jelas menujukan seberapa besar kekuatan milik alam semesta keabadian dalam mencari pasukan.


"Tuan Suzong, selamat datang di gubug sederhanaku ini." Ucap Varjo dengan tersenyum cerah demi menyanjung sosok penguasa yang menjadi sekutunya itu.


"Kau terlalu merendah diri Varjo, sebuah gubug tidak mungkin memiliki dinding emas dan menara berpuncak berlian." Suzong pun menanggapi perkataan varjo dengan sedikit tawa.


Dengan luas wilayah yang sangat besar, kekayaan Varjo tidak masih mampu menyaingi alam semesta atas lain, termasuk alam semesta keabadian.


Walau begitu, tolak ukur dalam tingkat kasta bukanlah soal kekayaan, melainkan kekuatan yang alam semesta masing-masing miliki, sedangkan Suzong berada di tingkat tertinggi dan tidak tertandingi.


Dalam beberapa ribu tahun terakhir, alam semesta samudera bintang pun takluk untuk mengakui kekuatan dari alam semesta keabadian, hingga dia menyatakan diri untuk mengambil kekuasaan khusus yang tidak bisa di ganggu gugat.


Sebuah kasta spesial sebagai tuan mutlak jagat raya seperti halnya alam semesta pedang tanpa tanding, alam semesta penguasa naga, dan alam awal penciptaan.


Dengan duduk di bangku sebelah Varjo, dua pelayan lain berjalan mendekat untuk membawa hidangan yang disajikan saat Suzong datang.


"Varjo kau selalu bisa menemukan wanita-wanita cantik untuk kau jadikan pelayanmu."


"Mungkin hanya ini yang bisa aku banggakan, sedikit karisma yang aku miliki untuk membuat semua wanita terkagum-kagum."


Jelas bukan itu yang diinginkan oleh para wanita di sekitar Varjo de hores, karena mereka hanya ingin hidup dalam kebahagiaan antara harta dan nama besar seorang penguasa alam semesta kerajaan beladiri.


Tanpa dua faktor itu, Varjo tidak lebih seperti orang tua gemuk yang kebanyakan sombong tanpa tahu tempatnya dimana.


"Bagaimana dengan putri alam semesta kerajaan suci ?." Suzong pun bertanya tentang Silviana.


"Untuk saat ini silviana masih malu-malu, tapi hanya perlu sedikit waktu hingga dia akan klepek-klepek dihadapan ku." Entah dari mana isi pikiran Varjo itu.

__ADS_1


Walau sebenarnya Suzong sendiri tahu bahwa semua yang di katakan oleh Varjo hanya bualan belaka. Karena tindakannya menjajah alam semesta kerajaan suci demi mendapatkan putri Silviana sudah tersebar di segala penjuru jagat raya.


Tapi Suzong bersandiwara untuk sekedar mencari informasi lain tentang sosok anak dalam ramalan itu, dia tidak ingin mengacaukan secara rencana yang telah dia lakukan.


"Jadi tuan Suzong, aku memiliki rencana dengan semua ini, mengumpulkan bakat-bakat terbaik di alam semesta kerajaan beladiri, dan menujukan kepada semua alam semesta tentang kekuatan kami." Varjo pun bercerita untuk alasan yang dia miliki.


"Aku yakin jika alam semesta kerajaan beladiri mampu mencapai puncak dengan para bakat ini." Suzong jelas mengangkat Varjo untuk meyakinkan diri.


"Selain itu, tuan Suzong, bagaimana dengan Anda, apa sisa-sisa peninggalan dari Dewi kematian Lutos sudah di temukan." Varjo de hores pun bertanya.


"Aku sudah menemukan ruang rahasia yang di miliki oleh Dewi Lutos, tapi aku sendiri kesulitan untuk membuka ruangan itu." Suzong jelas menjawab dengan wajah lemas.


Sejak awal alam semesta keabadian adalah kampung halaman dari Lutos, dan memang benar jika ada banyak peninggalan yang masih menjadi rahasia.


Tapi untuk membuka ruang rahasia, haruslah mereka yang memang memiliki kekuatan Dewi kematian sebagai syarat utama.


Lepas dari semua pertanyaan itu....


Tatapan Suzong jelas mencari seseorang di ribuan peserta yang tengah melakukan pengujian jumlah kekuatan ditengah-tengah arena stadion.


Entah sebuah kebetulan atau tidak Askar merasakan jika pandangan Suzong mengarah tepat kepadanya, perasaan kuat dari aura seorang lord alam keabadian tertinggi membuat Askar sedikit merinding.


"Apa cuma perasaanku saja, jika orang itu tersenyum kepadaku, sial dikira aku ho*mo apa ?." Pikir Askar yang jelas tidak menyukai cara Suzong tersenyum.


Walau memang Suzong menjadi lawan dari Asyura, tapi hampir tidak mungkin dia mengenali sosok Askar sekarang.


Dimana itu sudah terjadi sangat lama, dua ratus ribu tahun yang lalu, tentu sedikit kemungkinan jika penguasa alam semesta keabadian mengenal siapa Askar saat ini.


Bagaimana pun juga, Askar harus tetap waspada, para penguasa sekelas Suzong bukan lawan mudah jika harus berhadapan langsung tanpa persiapan.

__ADS_1


__ADS_2