PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
Dendam


__ADS_3

Sosok yang dia lihat secara langsung didepan matanya, membuat Azela sesaat tertegun, diam ditempat ketika menatap Asy cukup lama.


"Wujud Phoenix merah yang asli." Ucap Azela dengan tatapan serius.


"Sepertinya ratu Azela cukup berwawasan karena bisa menyadari kalau Asy adalah Phoenix yang nyata." Ucap Askar dengan tersenyum lepas.


Dia tentu tidak menaruh rasa curiga terhadap Azela, karena bagi siapa pun, orang-orang yang berasal dari alam semesta kerajaan suci adalah sosok jujur dan penuh nilai-nilai budaya sopan santun.


Sedangkan Asy, merasa tidak nyaman karena cara Azela memandang seperti menyembunyikan sesuatu dan tertuju kepada dirinya.


Tapi Asy berusaha tersenyum, dia tentu tidak ingin menujukan prasangka buruk terhadap orang yang berhubungan dengan Askar.


"Ratu Azela, salam kenal." Asy pun membungkuk hormat.


"Sungguh aku merasa terhormat bisa bertemu secara langsung dengan sosok Phoenix merah yang nyata." Berkata Azela yang membalas perkenalkan Asy.


"Hmm iya aku pun begitu." Asy menjawab seadaanya.


"Aku sudah mendengar kabar, jika orang-orang yang memiliki jiwa Phoenix telah dilenyapkan, bersama dengan Phoenix didalam tubuh mereka, sungguh sangat disayangkan."


Tentu semua orang tidak menyadari jika ada niat tersembunyi dari isi pikiran Azela, terlebih lagi kebaikan hati orang-orang dari alam semesta kerajaan suci tidak diragukan lagi.


"Memang diluar dugaan, jika ada orang yang menggunakan metode kejam untuk melakukan itu." Ucap Askar membalas perkataan Azela.


"Baiklah, kita lupakan sejenak hal-hal yang membebani pikiran kita, sebaiknya aku siapkan beberapa makanan untuk menyambut kalian semua."


"Tidak perlu repot-repot ratu Azela, cukup keluarkan saja yang ada." Berkata Askar yang memang cukup lapar setelah perjalanan panjang melewati lubang hitam.


"Tentu saja tuan Askar."


Selagi Azela keluar, Askar dan semua orang tidak terlalu nyaman menikmati suasana istana suci, bukan karena perlakukan Azela, tapi dengan semua kerusakan, retak kiri kanan, bahkan ada lubang di atap membuat siapa pun tahu, jika saat ini, alam semesta kerajaan suci sedang mengalami krisis.


Ini tentu membuat siapa pun tidak nyaman untuk bertamu, bahkan di lihat keadaan kota dan sekitarnya, semua orang pun masih belum bangkit dari keterpurukan.

__ADS_1


Asy pun mendekati Askar saat setelah Azela keluar ruangan, dia ingin mengungkapkan isi pikirannya kepada Askar tentang sosok ratu dari alam semesta kerajaan suci.


"Askar apa kau merasa ada yang aneh dengan ratu Azela." Ucapnya bisik-bisik ditelinga.


"Aneh ?, Ah dia tetap terlihat cantik meski usianya sudah ratusan ribu tahun." Balas Askar.


"Bukan itu, apa otakmu memang hanya memikirkan wanita." Asy kesal sendiri atas tanggapan Askar.


"Ya bagiku memang aneh, jika di dunia kita, seorang wanita yang sudah berusia ratusan ribu tahun, tentu tidak lagi dikayakan tua, melainkan sudah menjadi Fosil." Jawab Askar dengan asal.


"Entah kenapa aku merasa percuma bicara denganmu Askar." Lemas Asy menggeleng kepala.


Tapi Askar melihat jika Asy benar-benar serius menilai sosok Azela yang dianggap oleh orang lain sebagai penguasa yang baik hati.


"Baiklah, apa yang memang kau anggap aneh itu Asy." Berkata Askar memastikan ucapan Asy.


"Ada satu kondisi dimana orang-orang dari alam semesta kerajaan suci masih memiliki hati yang murni."


"Dari dahinya terdapat goresan emas, tapi itu tidak dimiliki oleh ratu Azela."


Askar mengingat-ingat kembali dalam ingatan Asyura, ya itu memang benar adanya, goresan emas hilang jika mereka menanamkan niat jahat untuk membunuh seseorang.


Mereka boleh bertarung, membunuh musuh atau melawan kejahatan, tapi satu kondisi adalah bukan karena alasan mereka melakukan tindakan itu.


"Apa itu aneh Asy, bagiku itu tidak." Jawab Askar dengan isi pendapatnya.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu." Asy merasa aneh atas jawaban Askar.


"Setelah semua yang terjadi kepada alam semesta kerajaan suci, siapa yang tidak berpikir untuk menaruh dendam, rumahnya hancur, keluarganya mati, orang-orang terdekat sengsara, bahkan sekarang cucu yang ada harus di sandera, aku sendiri akan menghancurkan alam semesta kerajaan beladiri dengan tanganku, tidak perduli cara apa yang aku lakukan." Askar pun menjelaskan sikap Azela yang dirasa aneh oleh Asy.


Asy mengangguk paham, dia mencoba membuang prasangka buruk yang dia rasakan kepada Azela, terlebih lagi ucapan Askar memang benar adanya.


Melihat-lihat isi dalam ruangan tempat mereka beristirahat, dimana bingkai-bingkai lukisan dari sosok seseorang terpampang jelas di dinding.

__ADS_1


Salah satunya adalah Silviana, Askar memperhatikan secara seksama, setiap bentuk goresan diatas kanvas, dilukis indah oleh seniman yang sangat handal.


"Tapi ini masih belum mampu menggambarkan kecantikan Silviana." Gumam Askar dengan kekaguman tersendiri karena pernah menyaksikan secara langsung sosok silviana.


"Kau memang benar tuan Askar." Suara itu datang, dan Askar berbalik dengan terkejut karena Azela sudah berdiri dibelakang.


"Ya aku tahu seberapa cantik Silviana, lukisan ini tidak mampu menggambarkan satu persen pun dari kecantikannya." Balas Askar yang mengangguk paham.


"Sebuah kecantikan yang membuat alam semesta merasa malu, Silviana benar-benar menyerupai Dewi Sunawa secara utuh."


"Aku bisa akui itu." Setuju Askar dengan anggukan kepala.


Tapi Askar cukup perhatian ketika dia melihat lukisan yang lain, dimana itu adalah keluarga dari Silviana.


Kakak lelakinya, ayahnya, ibunya dan saudara-saudara lain yang jelas memiliki hubungan dekat kepada Silviana, dan mereka sudah tiada.


"Mereka semua harus tewas demi melindungi Silviana, sebuah harga yang sangat mahal harus dibayarkan oleh Varjo de bang*sat itu." Aura kuat dan niat membunuh datang, tapi seketika itu lenyap saat Azela mengendalikan emosinya.


"Aku pun memiliki dendam kepada Varjo itu, karena orang-orang penting dalam hidupku harus tewas atas perbuatannya." Diingat kembali kejadian saat Sirjo datang dan membawa Silviana pergi.


Dendam dari Askar tidak bisa begitu saja hilang, menjadi tragedi sia-sia tanpa pernah Askar balaskan, tapi karena tujuan itu, dirinya berusaha menjadi kuat, lebih kuat lagi untuk menghancurkan Varjo.


"Baiklah tuan Askar, ketika saatnya tiba, aku akan menggunakan semua yang aku miliki untuk melawan kerajaan beladiri." Azela memiliki rencananya sendiri.


"Ya ratu Azela, aku pun tidak bisa membiarkan Varjo mendapatkan Silviana." Askar mengangguk paham.


Jika saja tujuan varjo untuk mendapat kekuatan keajaiban hidup tercapai, dia akan semakin membabi buta menguasai wilayah kekuasaan lain.


Biar pun wilayah alam semesta atas bukan urusan Askar, tapi tindakan varjo jelas membuat orang lain dirugikan, secara materi atau pun mental.


Askar tidak bertindak sebagai pahlawan atau pun pembela kebenaran, dia hanya ingin mengakhiri dendam yang alam semesta kerajaan beladiri buat kepada dirinya.


Askar sudah berjanji untuk hal itu, kepada semua bawahan yang menjadi korban, atau pun janji untuk menyelamatkan Silviana.

__ADS_1


__ADS_2