
Rumah Razika berada jauh di ujung kota Loyi.
Di sebuah dimana orang-orang miskin tinggal, kumuh, kotor, tidak terawat dan bau, tentu itu sudah menjadi pemandangan biasa bagi Razika.
Jauh sebelum Sam membawanya untuk ikut ke dunia tersembunyi sebagai kelompok matahari merah dan berniat mengambil alih kekuasaan disana.
Seperti inilah kehidupan yang dijalani oleh keluarga Razika sebagai orang miskin dan terbuang.
Memang hampir sebagian besar penduduk kota kerajaan alam semesta bawah kaya raya, tapi tentunya ada yang masih berada dibawah garis kemiskinan.
Karena tidak akan ada orang kaya, jika semua orang kaya raya pula, dan keluarga Razika adalah salah satunya, untuk bekerja memperkaya orang yang sudah kaya.
Tapi Sam mengetahui keunikan dari kekuatan yang Razika miliki, memanipulasi ruang, dimana dia mampu berpindah, memutar balik dan segala sesuatu didalam wilayah kekuatan ruang Razika dapat dia kendalikan.
Hanya saja, apa yang menjadi rencana Sam, tidak menghasilkan satu pun harapan Razika. Mengubah nasib di dunia orang, dan pulang-pulang berbadan dua, tanpa ayah pula.
(Bahkan para perantau jawa pun tidak sampai jauh-jauh pergi ke dunia lain untuk mengadu nasib 😂.)
Tentu itu menjadi kepahitan bagi Razika yang harus dia telan didalam hati tanpa bisa menolak bahwa tidak ada hal baik terjadi kepada hidupnya.
Dengan segala perasaan yang rumit, sangat kacau, dan tidak menyenangkan setelah tahu jika Askar kini berada didalam istana, Razika pun berjalan pulang.
Hanya saja, ketika pintu rumah terbuka, sesosok lelaki yang sudah menggendong anak kecil terlihat menujukan senyum penuh makna menyambut kedatangan Razika.
"Razika kau sudah pulang." Saut lelaki itu dengan akrab.
"Erdo, kenapa kau disini, dan cepat kau turunkan anakku." Tapi tanggapan dari Razika jelas tidak menginginkan lelaki satu ini ada dihadapannya.
Anak lelaki ditangan Erdo pun memberontak dan ingin segera mendekat kepada ibunya.
"Razika, bukankah kau terlalu kasar, aku takut Xiza meniru sifatmu." Balas Erdo.
"Dia anakku, jelas akan memiliki sifat sepertiku, dan kau tidak berhak berbicara apa pun."
__ADS_1
"Padahal kita akan segera menikah, dan tentu aku berhak untuk memberikan sedikit bimbingan kepada calon anakku."
Razika terdiam, keras bibir dia gigit menahan rasa sakit yang jauh lebih sakit karena menahan kenyataan saat tahu jika keluarganya ingin menikahkan dia dengan Erdo.
Dia adalah anak dari saudagar kaya dan tuan tanah tempat Razika serta keluarganya tinggal, tentu tidak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah menerima.
"Untuk sekarang kau boleh saja berkata seperti itu Razika, tapi nanti kau harus menjadi istri yang penurut, karena dalam beberapa minggu lagi aku adalah calon suamimu." Berkata Erdo yang menujukan senyum penuh makna.
"Jika bukan karena keluargaku, aku tidak akan pernah mau menerimamu, kau tahu."
"Terserah kau mau berkata apa, tapi seharusnya kau merasa senang, aku adalah orang kaya, tidak akan kurang kebutuhan yang kau ingin, terlebih lagi aku adalah salah satu calon pengganti dari lord Sam." Berkata Erdo dengan sombong.
Salah satu dari keluarga besar Erdo adalah wali kerajaan, dimana jelas jika dia memiliki bakat yang cukup menjanjikan.
Sebagai lord alam kaisar tahap akhir di usia dua ratus tahunnya, tentu para wali pun mengakui bakat yang dia miliki.
Walau kabar mengenai sosok Askar yang sudah dipastikan sebagai pengganti lord Sam belum tersebar, sehingga Erdo masih bisa menyombongkan dirinya sendiri.
"Terserah kau mau berbicara apa pun, kau tidak akan pernah mendapat cintaku." Ucap Razika dengan cepat mengangkat anaknya Xiza dan berjalan keluar dari rumah untuk sejenak menenangkan hati.
Seperti pepatah mengatakan, perawan memang menawan, tapi janda lebih menggoda, dan itu sangat menggambarkan sosok Razika, padahal statusnya belum menikah dengan siapa pun.
Berjalan pergi dengan Xiza ke luar gerbang kota kerajaan Loyi, berdiri menatap sore sebelum malam, lemas hembusan nafas yang berat.
Ditatap datar anak dalam pelukan, rumit isi pikiran Razika atas kehadiran seorang putra dalam kehidupannya.
Semua yang terjadi jauh dari harapan, tapi dia tidak ingin menolak bahwa anaknya kini menjadi satu-satu tujuan agar tetap berusaha keras.
"Nona tidak baik keluar disaat hari sudah menjelang malam, udara disini tidak baik untuk kesehatanmu." Suara itu datang dari belakang.
Razika sontak terkejut karena secara tiba-tiba sosok itu datang tanpa dia ketahui, dan jelas Askar sudah berdiri dengan tersenyum menujukan wajah yang menyesal.
"Kenapa kau datang ke tempat ini, Askar." Ucap Askar dengan menatap tajam penuh permusuhan.
__ADS_1
"Aku ingin membayar apa yang sudah aku perbuat kepadamu Razika." Jawab Askar yang menujukan wajah bersalah.
"Kalau begitu bisa kau pergi dan lenyaplah dari hadapanku."
"Bukankah ada pilihan lain."
"Apa yang bisa kau harapkan." Tapi Razika tidak ingin mendengar apa pun.
Askar tidak bisa membalas apa yang dikatakan oleh Razika, bagaimana pun saat ini dia berada dalam posisi bersalah.
Melihat wajah anak kecil dalam pelukan Razika, penuh perhatian dia menatap balik kepada Askar.
"Pikiranlah sedikit Razika, jika memang aku tidak bisa menghapus kebencianmu sekarang, paling tidak berikan aku kesempatan kepada anakku." Askar tidak menyerah begitu saja.
"Tidak ada kesempatan, karena sejak awal dia bukan anakmu, aku yang melahirkannya, dan aku pula yang merawatnya sampai hari ini." Razika keras menolak.
Tidak ada yang namanya cinta didalam hati Razika kepada Askar, bahkan untuk sosok ayah dari anaknya, dia tetap menolak Askar.
Askar menujukan senyum kepada seorang anak yang ada didalam pelukan Razika, dia tertawa, bahkan berniat turun dan datang kepada Askar.
Memang hubungan darah tidak bisa mereka hapuskan, perasaan akrab yang dimiliki Xiza untuk Askar adalah sebuah ikatan antara ayah dan anak.
Tanpa perduli apa pun, malam beranjak datang dan Razika berjalan kembali ke rumahnya, walau begitu Askar tetap mengikuti dari belakang.
"Mau sampai kapan kau mengikutiku Askar." Keras Razika berbicara.
"Tidak usah kau pikirkan, anggap saja aku orang asing." Balas Askar yang jelas tidak memiliki niat untuk pergi.
"Terserah kau saja." Razika tidak ingin lagi mengurus permasalahan dengan Askar.
Hanya saja seketika berhenti saat dilihatnya seseorang yang berdiri di ujung jalan, berdecak lidah Razika, wajah rumit dan perasaan kesal karena sosok itu.
Razika berbalik dilihatnya langsung ke arah Askar, tanpa berkata apa pun, dia segera pergi melewatinya.
__ADS_1
"Razika, tunggu." Berteriak sosok itu yang datang mengejar.
Askar masih diam melihat, saat Razika dipaksa berhenti oleh lelaki itu, hanya saja dia tidak ingin menuruti apa yang dikatakan olehnya.