PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2

PERTARUNGAN TANPA BATAS : DUNIA DI BALIK BATAS 2
ruang kehidupan


__ADS_3

Entah itu Rea atau pun Sina cukup tahu, jika Askar tidak mungkin mati dengan mudah, sekali pun lawannya adalah sosok makhluk berkekuatan puluhan kali lebih besar.


Tapi apa yang bisa mereka perbuat, sedangkan dihadapan mata, tubuh lelaki itu sudah tergeletak tanpa detak jantung untuk membuatnya hidup.


Biarpun sulit mereka percaya, tapi sosok yang datang tanpa asal usul mengatakan bahwa dia melepaskan jiwa Askar.


"Aku memang melepaskan jiwa Askar, tapi bukan berarti dia mati, aku hanya mengirim jiwa Askar itu ke dalam ruang kehidupan dalam tubuh Omen, semua itu demi membawa kembali jiwa Asy yang sudah di serap oleh Sphinx." Berkata Davendra untuk menjelaskan.


"Oh jadi seperti itu." Sina dan Rea mengangguk paham bersama.


"Tapi bukankah jika Askar tidak kembali itu sama saja dengan kematian." Hanya saja Rea cukup memahami konsekuensi yang terjadi jika ada masalah atas pelepasan jiwa .


"Ya aku tidak bisa membantahnya, tapi tenang, aku bisa menggantikan jiwa Askar dengan yang lain." Balas Davendra seakan itu bukan masalah.


Sina dan Rea tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka atas hal buruk yang bisa saja terjadi.


Karena jelas taruhan Askar atas tindakan untuk menyelamatkan Asy, adalah jiwanya sendiri, sebuah resiko dimana persentase keselamatan hanya lima puluh banding lima puluh.


"Tidak, tidak, tidak, jika itu kau lakukan, aku yakin dia tidak seperti Askar biasanya." Sina secara langsung menolak.


"Apa yang kalian permasalahkan, dia hanya lelaki bodoh dan tukang selingkuh, jika kepribadian menjadi orang yang setia dan lebih baik tentu cukup itu akan membuat kalian senang." Davendra secara langsung menikmati percakapan ini.


Dengan mendengar ucapan dari orang-orang yang dia cintai adalah satu kebahagiaan tersendiri dimana itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.


Terlebih, sudah jutaan tahun, Davendra tidak pernah menggoda Sina dan Rea, hanya memperhatikan tanpa pernah bisa berbincang dengan istrinya.


"Jangan asal mengatakan apa pun soal Askar, memang apa yang kau tahu tentang lelaki ini." Berkata Sina yang terdengar marah untuk ucapan Davendra.


'ya... Bisa kau anggap aku sangat mengenalnya, bahkan dia itu adalah aku.' pikir Davendra yang tidak mungkin mengatakannya.


"Itu benar, biar pun dia bodoh dan tukang selingkuh, tapi hanya Askar seorang yang kami cintai, tidak bisa digantikan." Rea pun ikut ambil suara untuk menjawab.

__ADS_1


"Bahkan jika aku ganti jiwanya dengan Jeon Jeng-kook." Balas Davendra untuk pilihan lain.


"Tidak, aku tidak tertarik sama sekali." Tapi Rea dengan tegas menolak tanpa terkecuali.


Dan tersirat sebuah senyum dari balik tutup kepala yang menyembunyikan identitasnya sebagai orang lain, karena selama dia hidup menjadi Askar, jarang sekali melihat Sina atau pun Rea benar-benar mengatakan cinta secara langsung.


"Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri, aku tidak sedang melawak kau tahu." Sina merasa kesal atas sikap Davendra.


"Jangan di pikirkan, biar pun kau tidak sedang melawak, tapi aku merasa senang mendengar kau berbicara tentang lelaki ini." Tujuk Davendra kepada Askar.


"Aku penasaran, siapa kau sebenarnya, lepas penutup kepalamu, aku ingin melihatnya." Ucap Sina yang jelas merasakan keakraban tersendiri atas tingkah laku lelaki misterius dihadapannya.


"Itu tidak bisa, akan merepotkan jika kau tahu apa yang tersembunyi dibalik wajahku." Davendra tentu tidak ingin membuka rahasia yang sengaja dia tutupi.


Entah itu sama atau berbeda, tapi Sina tidak bisa menyembunyikan isi pikiran bahwa dia bukan orang lain, melainkan Askar.


Dia sangat tahu mengenai Askar, biar pun suaranya berbeda, tapi cara bicara, gaya berjalan, dan sikap untuk menanggapi lawan bicara, hampir mirip seperti Askar yang dia kenal.


Askar membuka mata, di ruang seba putih terdapat bermacam serpihan-serpihan cahaya keemasan, dan itu adalah jiwa para makhluk yang ada didalam ruang kehidupan milik Sphinx.


Bagi siapa pun yang melihat, tempat ini sangatlah luas, tidak ada batasan dan untuk mencari jiwa milik Asy, menjadi satu hal yang sulit.


Ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami, sedangkan Askar tidak bisa membayangkan jika harus melihat serpihan cahaya satu persatu, dan di dalam ruang kehidupan ini ada lebih dari tiga ribu makhluk.


"Bagaimana mungkin aku mencari Asy dengan waktu yang terbatas ini." Gumam Askar dengan bingung sendiri.


"Tuan biar aku membantu anda."


Saat itu juga, satu serpihan cahaya datang dan membentuk sebuah wujud sebagai seekor kucing, dia adalah Omen, cukup mengejutkan berbicara dengan omen di tempat ini.


Bukan karena jiwa lenyap atau bagaimana, tapi karena Omen masih memiliki kesadaran utuh, jika dibandingkan dengan serpihan jiwa yang lain, mereka seakan hilang kesadaran, tertidur pulas dalam ruang kehidupan ini.

__ADS_1


"Itu sangat membantu, tapi bagaimana kau bisa muncul di sini." Bertanya Askar atas kehadiran Omen.


"Secara khusus aku memang memiliki kesadaran di ruangan ini, karena sejak awal aku tidak dileburkan dan berbagi ruang dengan Sphinx." Jawab Omen.


"Aku mengerti, baiklah mari kita mulai mencari."


Tentu ini bukan hal mudah, tapi Askar tidak mungkin membiarkan jiwa Asy melebur menjadi satu dengan kekuatan Sphinx, jika itu terjadi maka siklus kehidupan bagi para Phoenix akan lenyap.


Dari berbagai macam serpihan jiwa, sebagian besar adalah para monster dan binatang iblis tingkat tinggi, paling tidak setara dengan lord alam raja, ada pula binatang mistik seperti singa api, ular magma, atau pun dragonic.


Ya semua pasukan khusus yang dibentuk oleh Azela benar-benar berjuang demi mendapat semua jiwa binatang kelas tinggi ini.


Berhadapan dengan makhluk yang kekuatannya sangat besar tentu tidak banyak hal dikorbankan, termasuk nyawa mereka.


Ini semua adalah demi kebangkitan Sphinx, dan untuk menghancurkan alam semesta kerajaan beladiri, pembalasan dendam itu yang mereka inginkan.


"Tuan... disini." Omen menemukan apa yang Askar cari.


Segera saja Askar mendekat, dan memang melihat serpihan jiwa yang di dalamnya terwujud sosok Asy sedang terlelap tidur.


Tidak hanya itu, setiap jiwa dari para Phoenix pun berkumpul menjadi satu, karena tipe jiwa yang sama, membuat mereka berlima bersinkronasi dalam satu serpihan.


"Syukurlah Asy belum melebur." Askar tersenyum lega atas apa yang dia temukan.


Tapi setelah Askar mengambil serpihan jiwa milik Asy dan para Phoenix lain, pandangan mata Askar seketika mengarah ke serpihan tertinggi, dimana cahayanya jauh lebih terang, besar dan sangat kuat.


"Serpihan jiwa Dewi Sunawa." Gumam Askar menatap langsung ke sosok yang tersimpan di dalamnya.


Seketika, wanita cantik yang terlelap dalam tidurnya itu, terbuka. Kecantikan wanita berambut emas panjang, bermata biru dan memang sangat mirip dengan Silviana. dia pun menatap langsung ke arah Askar.


"Asyura ... Kau kah itu." Sebuah nama dia ucapkan dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2